INGIN SEGERA PULANG (JIKA INI ADALAH SOUNDTRACK OF MY LIFE)

Matahari terik menyinari kota Montpellier di selatan Perancis hari ini. Sebuah akhir pekan biasa yang saya lewati setiap minggunya setelah satu pekan beraktivitas dalam nuansa akademis. Dalam suasana musim semi yang hangat, lantunan lagu-lagu dari SWARAGAMA FM sayup terdengar. Sebuah lagu berjudul ‘Pulang’ yang dinyanyikan oleh Andien menggelitik telinga ini dan membuat jemari saya mengetikkan tulisan ini.

Sebagai satu dari ratusan pelajar Indonesia yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di negeri Napoleon ini, kerinduan akan tanah air merupakan bagian dari masalah hati yang harus dihadapi. Tapi bagi saya, kerinduan terhadap istri dan keluarga adalah sebuah hal yang saya pikirkan setiap harinya. Tunggu dulu, jangan mengira bahwa saya sudah lumayan berumur, tidak, saya masih muda. Saya masih gaul, jika boleh mengambil kata-kata anak muda zaman sekarang.

Dua tahun yang lalu, ketika saya datang ke negeri Menara Eiffel, satu dari berbagai menara tinggi di dunia, saya membawa euforia di dalam jiwa. Wong ndeso (anak kampung) lulusan Kampus Biru UGM dan besar di kota Gudeg, saya benar-benar kampungan saat itu. Tidak ada yang lain yang ada di benak saya waktu itu selain keinginan saya menaklukkan dunia (kira-kira digambarkan demikian). Sulit kehidupan saya beberapa bulan pertama, akan tetapi pada akhirnya saya benar-benar menikmati segala kesulitan dan kemudahan disini.

Segala aktivitas saya lakukan, sebagaimana anak muda gagah berani ingin berpetualang. Saya ingin menjadi sesuatu, seperti sebuah quote mengatakan bahwa ‘bahkan sebuah batu bata pun ingin menjadi sesuatu’. Lihatlah Menara Pisa di Italia! Kagumilah Piramida Giza di Mesir ! Mereka semua tersusun dari batu bata, yang akhirnya menjadi sebuah bangunan menakjubkan.

Kala itu, saya berstatus lajang atau célibataire, disebut demikian dalam bahasa Perancis. Ketika beberapa teman pelajar yang berstatus menikah, memberikan curhatan hati mereka tentang bagaimana mereka merindukan keluarga, saya seperti mati rasa. Saya tidak mampu membayangkan seperti apa rasanya, meninggalkan mereka yang kita cintai. Saya sendiri tidak memiliki keinginan untuk cepat-cepat berumah tangga, setidaknya hingga saya menyelesaikan studi saya.

Akan tetapi, Tuhan seperti memiliki rencana sendiri yang pastinya indah untuk saya. Di tahun kedua studi Master, saya dipertemukan dengan seorang gadis yang ditakdirkan untuk saya. Gadis yang juga sedang mengenyam pendidikan di Perancis, tepatnya di kota Lyon. Sebuah acara Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Perancis di Paris menjadi awal pertemuan kami. Dia bukanlah seseorang yang sempurna akan tetapi dia adalah sosok yang saya butuhkan. Tidak memerlukan waktu lama bagi saya untuk memutuskan meminang gadis ini setelah tiga bulan masa perkenalan. Dan, kami menyelesaikan studi dalam waktu hampir bersamaan.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya Desember 2010, gadis bernama Novida tersebut saya nikahi. Kami menikah di Magelang, kota kelahiran kami berdua dalam sebuah acara pernikahan sederhana. Sejenak saat saya duduk di pelaminan, rasa tidak percaya hinggap di hati, bahwa saya telah menikah. Seorang anak muda yang rasanya belum selesai menaklukkan dunia, menikah ?

Ada sebuah skeptis di negeri kita, bahwa menikah akan merubah seseorang (dalam karakter). Bahwa, terkadang itu akan menghentikan rasa menggebu-gebu kita untuk ‘menjadi sesuatu’. Saya tidak menampik akan kebenaran pernyataan tersebut. Hidup itu adalah pilihan bukan, beberapa pilihan besar dan penting tentu saja akan mengubah arah hidup dan bahkan cara kita berfikir. Dan, saya menentukan pilihan terbesar itu, tanpa sedikitpun rasa penyesalan.

Dan, here i am, kembali ke tanah Napoleon hanya satu bulan setelah menikah. Dengan berat hati, saya harus meninggalkan dia dan melanjutkan keinginan saya menaklukkan dunia nampaknya (studi S3). Kali ini dengan cara berbeda dan perasaan yang berbeda. Pikiran saya tidak lagi kemana-mana. Kali ini saya fokus. Saya tahu, bahwa dia (istri) akan mendukung saya sepenuh hati. Saya paham bahwa perpisahan sementara ini adalah untuk masa depan yang lebih baik. Itulah dunia yang akan saya rubah, yaitu masa depan saya dan kami (keluarga). Jadi, jika seorang teman menanyakan kepada saya, apa soundtrack of your life? Mungkin akan saya jawab, ‘Pulang’.

Riza-Arief Putranto, 29 Mei 2011. SWARAGAMA FM Writing Competition 2011.

6 thoughts on “INGIN SEGERA PULANG (JIKA INI ADALAH SOUNDTRACK OF MY LIFE)

  1. wahhhh….berat ya mas terpisah antar benua begitu. Tapi setiap usaha, kerja keras dan doa pasti ada hasilnya. Tetap semangatttt!!

    salam,
    Elga Ayudi

    • Insyaallah dijalani dengan sebaik mungkin. Mari tetap bersemangat, terima kasih sudah mampir..

  2. hayyakallah
    mas riza sungguh mantap banget,
    lebih mantap lagi kalo bisa menaklukan hawa nafsu,
    duniiiiiiia cuma tak selang 1 abad..tapi akhirat lebih kekal,,
    silahkan kunjungi ahsantv,rodjatv,insantv,yufidtv,
    buka majalah alfurqon,almawaddah,asysyariah dll,,cari aja digoogle mas,,
    wassalamu ala manittabaal huda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s