THERE’S SOMETHING ABOUT COMPETITION

Selama ini, saya adalah seorang diri pemarah. Saya lahir untuk berjuang dan bekerja keras, itu yang pernah kakek saya sampaikan. Saya selalu berusaha yang terbaik dalam segala hal dan mencoba untuk mengatasi permasalahan. Ya, saya pemarah. Saya selalu marah ketika saya kalah. Dalam setiap hal yang saya lakukan, saya selalu merasa itu adalah kompetisi. Kompetisi bagi pribadi bahwa saya bisa selalu menjadi yang terbaik dari segala hal.

Darimana jiwa pemarah saya berasal ? Nampaknya semua bermula dari ketika saya masih duduk di masa perkuliahan 10 tahun yang lalu. Pada masa itu, saya mencapai keberhasilan akademik yang selalu diinginkan seorang mahasiswa. Keberhasilan ‘kecil’ itu membuat sebuah jiwa ‘tidak mau kalah’ terpatri di dalam jiwa. Yang saya sadari 10 tahun kemudian, yaitu hari ini, bahwa itu semua tidaklah benar.

Oleh karena itu izinkan saya bercerita,

Tahun lalu, saya gagal di sebuah kompetisi ilmiah. Saya merasa sangat kecewa dan marah. Marah pada diri sendiri. Butuh waktu berbulan-bulan lamanya bagi saya untuk menerima kekalahan itu. Saya bahkan memutuskan untuk tidak lagi mengikuti sebuah kompetisi ilmiah. Terkesan berlebihan bagi sebagian orang, namun bagi saya, kekalahan itu lebih kepada kegagalan pribadi.

Kemudian, sebuah kompetisi menulis kembali saya ikuti tahun ini. Saya kembali gagal. Dalam sebuah kompetisi yang tergolong ‘tidak besar, saya tidak dapat menunjukkan prestasi. Kekecewaan kembali menghantui dan sekian lama saya memutuskan untuk berhenti menulis.

Kemudian saya mengingat kembali betapa banyaknya kegagalan yang pernah saya raih di beberapa kompetisi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Saya lalu bertanya kepada diri sendiri, ‘ada apa antara saya dan kompetisi ?’. Apakah memang saya tidak memenuhi kualifikasi sehingga selalu gagal baik di kompetisi pemula hingga besar.

Saya pernah mengatakan kepada seorang teman bahwa ‘yang terbaik tidak selalu sang juara’. Pada saat saya mengucapkan itu, saya tidak benar-benar menyadari makna di balik itu. Saya yang memiliki hobi membaca mendapatkan kalimat tersebut dari sebuah buku.

Hingga saat ini tiba,

Dua pekan yang lalu, saya di undang sebuah institut teknologi di Montpellier untuk memberikan sebuah presentasi khusus mengenai subyek S3 yang sedang saya geluti. Undangan ini sendiri diberikan secara acak dan dipilih dari database paper. Institut tersebut merupakan lembaga terdepan di Eropa dalam bidang fisiologi tanaman dan mereka secara serius mengundang para ilmuwan dari seluruh dunia yang bergelut dalam bidang yang sama untuk berbagi pengalaman.

Dalam sebuah ruangan kecil berukuran 30 m2, saya, satu dari 30 undangan, memberikan sebuah presentasi singkat selama 10 menit dihadapan puluhan ilmuwan ternama di dunia. Saya tidak pernah memiliki keinginan lebih apapun. Mendapatkan undangan mereka saja sudah merupakan sebuah perasaan syukur. Dua puluh orang akan dipilih oleh mereka dan mendapatkan kesempatan baik untuk tergabung dalam sebuah workshop (dengan kata lain diakui dalam bidang yang kita ampu).

Saya menganggap hal tersebut adalah kompetisi. Sebuah persaingan antara saya dan 29 orang lainnya. Mereka tidak hanya mahasiswa S3 tetapi juga beberapa peneliti senior.

Dari sebuah ‘kompetisi’ tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman berharga. Yaitu bahwa, menjadi juara adalah sebuah bonus. Tidak lebih sebuah hadiah tambahan. Saya menyadari, apa yang paling berharga adalah sesuatu yang kita sumbangkan dalam sebuah kompetisi. Hal ini tidak dapat diwujudkan dalam bentuk materi, kepuasan itu ada di dalam hati, yang mana tidak sama antara satu orang dengan yang lain.

Bagi saya, kompetisi terakhir tersebut adalah sebuah hal yang tidak terbayangkan akan saya lakukan. Saya hanya berfikir bahwa saya akan menetap di sebuah laboratorium hingga akhir masa studi S3. Kompetisi tersebut telah membuat saya ‘keluar’ dari kotak, menjalin networking dan terlebih ‘melatih’ saya untuk berbicara di depan publik yang tidak saya sangka. Ini adalah hal kedua yang baik dari sebuah kompetisi yang bisa saya peroleh, yaitu peningkatan kualitas diri.

Dan, rasa syukur itu tiada henti ketika mereka mengumumkan nama saya masuk dalam 20 orang yang berhak mengikuti workshop pilihan tersebut. Saya berharap terus dapat berkarya dan belajar, baik tentang bidang yang saya geluti atau tentang hidup. Bahkan di usia saya yang sudah berkepala tiga ini, saya masih terus diajarkan banyak hal.

Bagi teman-teman yang sedang berkompetisi, tetap berjuang dan jadilah pribadi yang berkarya. Jangan mengulang kesalahan yang pernah saya buat. Terima kasih pada kompetisi-kompetisi sebelumnya, yang menjadi bagian dari penyadaran.

Sumber gambar : cfdt-rhone-alpes.com

Riza-Arief Putranto, 14 Juli 2011.

2 thoughts on “THERE’S SOMETHING ABOUT COMPETITION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s