JIKA NASIONALISME DIUKUR SEBATAS KATA

Tanggal 17 Agustus 2011 di Montpellier, tidak ada bendera merah putih berkibar. Tidak ada teriakan ‘Merdeka !’ dari sudut jalanan dan tidak ada semarak lomba-lomba 17-an yang biasa dilaksanakan di kampung-kampung. Tentu saja, saya sedang tinggal di negeri orang dimana kembang api hanya menyala setiap tanggal 14 Juli per tahunnya. Dimana Menara Eiffel berkerlap-kerlip gempita saat malam.

Sesorean saya menghabiskan waktu dengan banyak menjelajah di dunia maya, situs-situs Internet, juga melakukan aktivitas blog-walking. Sebuah blog seorang kawan dari Australia menarik perhatian saya. Mas Andi Arsana, begitu saya memanggil beliau, menuliskan sebuah artikel berjudul ‘Menera Ulang Nasionalisme’. Selama 5 menit saya menelusuri tulisan singkat tersebut tak sedikit senyum terkernyit. Celetukan-celetukan ringan, fakta hangat dan opini menarik membuat segar suasana ‘kemerdekaan’ yang saya rasakan hanya dari sebuah ruangan lab.

Saya sungguh tergelitik dengan sebuah pemahaman beliau mengenai nasionalisme. Bagaimana seseorang yang sedang belajar di LN kemudian tidak kembali ke tanah air. Atau bagaimana seseorang di tanah air yang gembor akan lantang teriak ‘Nasionalis’ namun tidak berkontribusi terhadap negeri. Wah sungguh naif saya menuliskan kalimat tersebut. Semoga saya salah. Semoga harapan saya akan negeri ini masih terbuka.

Mas Andi mengingatkan kita, seorang nasionalis yang tidak mencibir dua kubu diatas, seorang nasionalis yang tidak kritik saja, seorang nasionalis yang seperti Dewa Budjana, seorang nasionalis seperti Tri Utami, seorang nasionalis seperti kita.

Wah, kita ? Ya, saya yakin semua dari kita, adalah nasionalis dengan cara pandang masing-masing. Dirgahayu Indonesia kali ini tidak melulu tentang pentas warna merah dan putih, dan bukan juga tentang apakah kita memasang foto bendera di Facebook atau juga bukan karena kita memakai baju merah dan putih hari itu.

Namun, kita yang pada hari itu, meluangkan waktu sejenak dan memikirkan negeri bernama Indonesia walau hanya sekejap. Kita yang berbangga bahwa yang memikirkan Indonesia ternyata tidak sendiri. Ada puluhan bahkan ribuan tulisan dimuat melalui media Internet meneriakkan Indonesia. Ada ratusan ribu akun twitter berteriak ‘Merdeka !’.

Juga, yang pada hari itu, mewujudkan sebuah tindakan kecil untuk negeri. Seorang mahasiswa yang berjuang agar pribadinya maju. Seorang penjual kayu yang membagikan kayu untuk dijadikan tiang bendera warga. Seorang mahasiswa PhD yang tetap tinggal di lab selama musim panas, supaya pekerjaan cepat selesai, dan cepat kembali ke tanah air. Seorang professor yang membantu aktivitas ilmiah kecil anak-anak mahasiswanya. Seorang teman yang di kala sibuknya masih mau meluangkan waktu untuk membalas email tentang kegiatan sosial. Seorang sahabat yang di kala liburannya masih mau membaca berita negeri dari BlackBerry-nya.

Bagi saya, nasionalisme bukan hanya di kata semata, tetapi lebih ke perbuatan. Jika kita hendak mengukur seberapa jauh kontribusi kita terhadap negeri, maka bertanyalah kepada diri sendiri, perbuatan apa yang sudah kita sumbangkan untuk negeri? Sudahkah kita melakukan sesuatu sebelum mengkritik orang lain ? Sudahkah kita memberi contoh yang baik sebelum menimpali orang lain ?

Kenapa harus cinta pada negeri ?

Bayangkan, bahwa negeri ini adalah rumah, dimana kita berlindung dari petir dan hujan. Dimana keluarga bersatu dan dimana canda tawa dan pemikiran hebat tercipta. Meskipun banyak lubang disana sini, meskipun genteng tidak rapat dan meskipun cat dinding luntur, tetaplah rumah kita. Meskipun halamannya sempit, meskipun perabotannya lusuh tetapi disanalah keluarga berada. Lalu bagaimana tidak jika kita tidak mencintai rumah sendiri ?

Maka, 66 tahun sudah kita merdeka. 66 tahun pula sejarah silih berganti. 66 tahun pula aktor-aktor besar bangsa saling antri unjuk gigi. Jika boleh kita sesumbar, maka ini adalah giliran kita.

DIRGAHAYU INDONESIA dari tanah Perancis !

Riza-Arief Putranto, 18 Agustus 2011.

 

Bacaan lain bilamana tertarik:

Blog Made Andi Arsana

http://madeandi.wordpress.com/2011/08/17/menera-ulang-nasionalisme/#more-1730

Kompasiana Ajie Adnan

http://politik.kompasiana.com/2011/08/17/kenapa-harus-cinta-tanah-air/

Sumber gambar : anekaremaja.blogspot.com

6 thoughts on “JIKA NASIONALISME DIUKUR SEBATAS KATA

  1. alhd td tanpa di sengaja..aq tersadar, justru karena kalimat atasanku..aq tersadar..terlalu sayang negeri kita u/ tidak dicintai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s