THE WALL

Pernah suatu ketika saya menulis tentang tunnel effect : proses pendewasaan seorang calon PhD. Saya menceritakan mengenai bagaimana seseorang yang sedang menjalani studi PhD mereka merasakan berada di zona abu-abu. Mencari titik terang pada sebuah permasalahan, adalah tujuan utama.

Namun kali ini saya tidak akan mengulas tentang bagaimana PhD, saya akan membawa pembahasan menuju sesuatu yang lebih tinggi yaitu pertemuan saya dengan sang tembok atau yang lebih dikenal dengan the wall.

Siapakah the wall ? Saya selalu berfikir  bahwa tunnel effect adalah sebuah hambatan besar di dalam proses studi saya hingga saja bertemu subyek satu ini. The wall adalah sebuah ‘tembok imajiner’ yang diciptakan pada alam bawah sadar sesosok manusia. The wall merupakan sebuah perasaan ingin berhenti dan melarikan diri ketika sebuah hambatan menyerang. The wall juga merupakan sebuah batasan pribadi (kebanyakan tercipta secara psikologis) yang membuat seseorang tidak berani melangkah dan mengambil keputusan. Hasil akhir dari kedua pengertian tersebut sederhana, yaitu keinginan sangat besar untuk berhenti dan tidak meneruskan perjalanan (red. perjuangan).

Selama sepekan terakhir, banyak sekali hal menarik terjadi dalam hidup saya. Tentang pelajaran berharga, tentang persahabatan dan tentang tanggung jawab. Saya tidak akan menghabiskan paragraf demi paragraf untuk menceritakan ini kepada para pembaca. Sekiranya, pertemuan saya dengan beberapa ‘tokoh penting’ membuka mata saya akan the wall.

Sejatinya setiap individu akan kembali mempertanyakan keputusan yang mereka ambil. Seperti contoh, ketika seseorang memutuskan untuk meninggalkan keluarga dan menempuh pendidikan di LN. Semua tampak begitu indah dari jauh. Atau, oh betapa indahnya kota Paris. Luar biasa menakjubkan kota Roma atau Barcelona. Namun, mempertanyakan keputusan tersebut akan menghantui individu tersebut. Itu adalah the wall. Kemudian, contoh lain, manakala harapan tidak sesuai dengan kenyataan, keraguan yang timbul merupakan efek the wall.

Dr. Marteen, seorang ahli biofisika, dari Universitas San Diego California, memberikan kepada saya sebuah kalimat yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Beliau adalah seorang peneliti yang menurut saya salah satu yang terbaik di bidangnya. Pensiun dua tahun yang lalu, namun performa beliau masih tidak berubah. Penemu protein transport membran pada tanaman tersebut berhak atas sebuah penghargaan. Kalimat yang beliau ucapkan adalah : If you hit the wall, no one else can help you either than yourself. It is much worse than the tunnel effect, because the wall is everywhere.

Dr. Yuan, seorang ahli fisiologi tanaman dari Cina. Seorang peneliti besar yang sangat percaya bahwa filsafat hidup bukanlah sesuatu ilogis atau pembenaran diri tetapi merupakan sebuah meditasi untuk jiwa. Beliau selalu menekankan Everybody’s ever hit a wall, once, maybe several time. It’s just a choice between move forward or retreat. Thus I hate losing, so I move forward. And you?

Namun, dorongan terbesar untuk menembus the wall justru datang dari ungkapan seorang yang dekat yaitu ayah sendiri, jangan khawatir, semuanya akan berjalan baik !. Sebuah kalimat sederhana yang menyadarkan betapa pentingnya untuk selalu berserah setelah berusaha.

Sumber gambar: fwccafrica.org

Riza-Arief Putranto, 10 Oktober 2011. H-2 Thesis comitée.

6 thoughts on “THE WALL

  1. setiap orang akan selalu menemukan tembok-tembok yang mampu menghalangi keinginan, harapan dan cita-citanya. Namun haruskan kita diam saja setiap bertemu dengan tembok-tembok tsb atau menunggu seseorang mengirimkan tali untuk kita panjat dan lewati tembok tinggi tsb atau haruskah kita pergi ke lorong lain siapa tahu ada jalan yang mudah untuk melewatinya? silakan pilih jalannya sesuai dengan kata hati masing-masing heheeh..

    semangat om, InsyaAllah om bisa melewati tembok itu🙂

  2. Hmm.. kayaknya ane juga sedang menghadapi wall itu gan.. Bener2 hanya kita yang bisa menolong diri sendiri.. Mau manjat gak ada tali, mau nembus tembok itu (bukan david copperfield ato dedi corbus wear ato dedi dukun) jadi kayaknya gak mungkin, lagian temboknya pake sayap, jadi anti tembus.. Satu2nya cara adalah melubangi dinding itu pelan2 dengan sedikit alat yang kita miliki.. Tentu akan lama dan tidak langsung membuahkan hasil.. Tapi setidaknya kita akan bisa membuat lubang di tembok itu dan melihat apa sesungguhnya yang ada dibalik tembok itu.. “Pelajaran dari 4 penjahat bersaudara (Dalton brothers) di komik Lucky Luke”..
    Thanks for tulisan yang inspiring ini… Ane bener2 lagi stuck dalam sebuah tembok berukuran 3 x 3 m2.. Ingin berlari tapi gak mungkin, soalnya cuaca diluar dingin… Ntar masuk angin lagi..😀

    • itu tembok cité ya gan. semangat gan, pasti bisa. hanya perlu waktu untuk adaptasi dan mengerti sistem belajar disini…🙂

  3. ini kaya yg kmrn aku posting, crab in the bucket
    escaping from mediocrity, slalu ada “the wall” yg menghalangi qta untuk step out from our mediocre
    tp di balik wall itu, ada kesempatan menjadi tidak mediocre😉

    • hehe iya, sama intinya. so ayo ria get out of the box, jump out, but don’t forget where are you from🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s