THE JIMMIERS VS THE JURAGANS

Yang membelakangi latar (alias latar belakang)

“Cerita dibawah ini fiksi belaka, tetapi jika ingin dipercaya silahkan” – kalimat yang selalu saya dengar dari kakek saya ketika beliau selalu meninabobokan ketika saya masih kecil. Dengan berangkat dari kalimat tersebut, saya hendak membawa para pembaca ke dunia fiksi dimana setting tempatnya merupakan kota kecil di Selatan Perancis, bernama Montpellier.

Siapa tidak mengenal Perancis dengan ibukota Paris-nya ? Rasanya hampir semua orang pernah minimal mendengar Paris yang tekenal dengan Tour Eiffel, Arc de Triomphe dan Champs Elysées-nya. Namun, Montpellier ? Kota sederhana di selatan Perancis ini tidak banyak orang mengenalnya. Pelafalan nama kota itu sendiri yang lumayan belibet menambah kerumitan untuk mengingat. Ibunda saya sendiri selalu salah jika harus menyebutkan kota dimana anaknya tinggal saat ini. Akan tetapi, di mata orang Perancis, Montpellier yang memiliki semboyan « La ville où le soleil ne se couche jamais » merupakan salah satu dari kota-kota di Côte d’Azur yang menjadi tujuan wisata. Semua dikarenakan matahari yang boleh dikatakan menyinari kota-kota tersebut sepanjang tahun.

Dalam tatanan pemerintahan Perancis, Montpellier sendiri merupakan ibukota dari Région Languedoc-Roussillon (semacam provinsi) dan termasuk dalam Département Hérault (semacam Kabupaten). Silahkan menengok peta.

Seperti halnya kota-kota lain di negeri Napoleon ini, Montpellier merupakan tempat tujuan para pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Identitas Montpellier sebagai kota pelajar di Perancis memang tidak terlepas dari banyaknya pelajar asing non-Perancis non-Francophone.Terdapat sekitar 3 ribu pelajar asing, dimana 1200 berasal dari negeri Cina, 1000 berasal dari benua Afrika, dan sisanya terbagi dari seluruh belahan dunia.

Bagaimana dengan Indonesia ? Total pelajar Indonesia terdata di Perancis adalah 323 orang, dimana 96 orang berada di Paris. Kota Montpellier sendiri didiami oleh 10 pelajar Indonesia yang terbagi dari strata 1 (S1) hingga strata 3 (S3). Sedikit ? Memang. Namun, populasi kecil tersebut memiliki keunikan tersendiri.

« Suku » di Montpellier

Layaknya, setiap bangsa memiliki aksen dan setiap daerah memiliki ciri khas, maka pelajar Indonesia di Montpellier mengenal dua « suku » didasarkan oleh logat/keaksenan bahasa yang digunakan. Dalam hal ini, saya tidak berbicara mengenai bahasa daerah atau logat dalam Bahasa Indonesia. Namun, lebih kepada keunikan penggunaan bahasa.

Sebagaimana kita ketahui, bagi para Kaskusers tentu sudah tidak asing penggunaan bahasa yang menggunakan « Juraganisme ». Bagi yang ingin tahu lebih lanjut silahkan akses tautan Kaskus. Contoh sederhana penggunaan kalimat tersebut adalah « Gimana gan ? Kalo udah ISO, ane kasih cendol nanti gan. Sementara sundul dulu gan posting ane ». Disisi lain, dikenal pula jargon bahasa yang dikenal sebagai « Jimmiers », yaitu penggunaan Bahasa Indonesia sebagaimana biasanya dengan menambahkan skema keakraban yaitu « Jiem » dibelakang setiap kalimat. Sebagai contoh : « Aduh, kakiku sakit kali, Jiem. Istirahatlah dulu, OK, Jiem ? ».

Dan, betul dugaan para pembaca. Kedua tipe penggunaan bahasa tersebut menjadi ciri khas para pelajar di Montpellier. Saya menyebut keduanya « The Jimmiers » dan « The Juragans ». Disini, saya akan memetakan dimana posisi dan wilayah jajahan dari kedua kubu tersebut. Pertama, dengan melihat gambar di bawah ini, kita dapat mengetahui bahwa distribusi tempat tinggal pelajar Indonesia di Montpellier (ditandai dengan pin merah) terletak seluruhnya di sebelah utara pusat kota (ditandai dengan lingkaran).

Kemudian, jika kita perbesar dan perjelas distribusi tersebut, maka saya membagi wilayah jajahan « The Juragans » dengan garis hitam putus-putus. Sedangkan, « The Jimmiers » menempati wilayah dengan tanda garis merah putus-putus. Sedangkan, terdapat pelajar yang tidak masuk golongan kedua suku, yaitu Saudari Ocha yang tinggal dekat dengan pusat kota. Kondisi geografis nampaknya berpengaruh terhadap perkembangan bahasa yang digunakan.

Pembaca tidak perlu khawatir, kedua « suku » tersebut hidup berdampingan secara damai. Bahkan dapat dilihat dalam gambar bahwa seorang « Juragans » dan seorang « Jimmiers » tinggal satu atap. Hal ini menunjukkan walau mereka berbeda-beda tetapi bukan alasan untuk menumpahkan perang.

Moral dari tulisan ini adalah « jangan lupakan bhinekka tunggal ika, dan bahwa perbedaan bahasa dan budaya bukanlah alasan untuk tidak hidup dalam kedamaian ».

Rrrttt.. (BlackBerry saya bergetar).

Copy percakapan :

Jim Zakaria : « Jieeem, sabtu ini jadi ya main gitaran di SupAgro ? Diasah dulu gitarnya ya ».

Agan Riza : « Siaap gan, nanti ane bawa lah ya ntu alat musik OK, jangan lupa undang-undang Agan Yogi, Agan Rendy dan Mas Fahri ».

Jim Zakaria : «Tentu Jieeem ».

Rrrrtt.. (BlackBerry kembali bergetar). SMS dari Agan Rendy.

Copy SMS :

Agan Rendy : « Gan, ane lagi prepare materi presentasi buat besok. Disini mau vacances malah banyak tugas n ujian yak ».

Agan Riza : « Yup, betul sekali. Ngejar tayang para dosen ntu gan soalnya. Semangat ye gan, InsyaAllah bisa ».

Sumber gambar :

– lannuaire.service-public.fr

– wikitravel.org

– maps.google.fr

Riza-Arief Putranto, 30 November 2011. Salam agan-agan dan jimmiers semua !

6 thoughts on “THE JIMMIERS VS THE JURAGANS

  1. Suka postingan ini Sob, dishare juga dong di group The Indonesian Diaspora, biar yg lain juga ngikutin … Salam dari tanah air, sukses selalu

    • terima kasih pak suryarhalieb sudah saya posting sesuai permintaan. salam dari perancis, semangat & sukses selalu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s