VANDALISME DAN NEGARA MAJU

Vandalisme ? Pembaca tentu sudah tidak asing lagi mengenai kata tersebut. Vandalisme yang masih berhubungan “saudara” dengan anarkisme merupakan sebuah kegiatan yang bermakna negatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2011, vandalisme adalah (1) perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb) atau (2) perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. Adapun sejarah dari terminologi vandalisme dapat dibaca di artikel Wikipedia “Vandalisme”. Dalam posting kali ini, saya hendak berbagi cerita kepada pembaca mengenai tema vandalisme di negara maju.

Dalam posting terakhir, saya menyebutkan mengenai permasalahan koneksi telpon dan internet berlangganan di apartemen. Berlangsung selama 1 pekan, permasalahan tersebut memaksa saya untuk melakukan komplain kepada operator telpon. Setelah menerima komplain saya, mereka segera bertindak untuk melakukan intervensi dan check-up di sektor zona jaringan telpon mereka. Sebut saja operator telpon saya itu adalah operator B. Sektor yang di cover ternyata cukup luas, mencakup jarak 220 km yang terbentang dari Perpignan (123 km dari Montpellier) hingga Marseille (213 km dari Perpignan dan 126 km dari Montpellier) dengan mempekerjakan 3 teknisi profesional saja. Kota Montpellier terletak dantara keduanya.

Saya menunggu 3 hari dari sejak komplain disampaikan hingga akhirnya seorang teknisi lapangan operator B menghubungi saya via telpon. Kami membuat janji untuk bertemu di apartemen saya dan melakukan check-up jalur telpon menuju pusat. Sudah menjadi sebuah stereotip di Perancis, bahwa setiap perikehidupan sehari-hari (bank, perkantoran, dokter, dsb) harus lewat janji temu yang terkenal dengan istilah “rendez-vous” (baca: rongdevu) untuk keteraturan.

Pada tanggal 16 April 2012 pukul 13h30, teknisi tersebut akhirnya tiba di apartemen, dimana saya sudah menunggu. Sapa lembut dan tegas seorang bapak berusia 47 tahun itu menunjukkan wibawa yang besar meskipun beliau “hanya” seorang teknisi lapang. Identifikasi masalah yang cepat dan penjelasan yang sederhana mudah dimengerti klien memperlihatkan profesionalitas beliau.

Dalam beberapa menit, jaringan telpon dan internet di rumah saya sudah menyala kembali. Sepertinya saya tidak perlu lagi berdingin ria di bawah lampu halogen dan numpang di jaringan wifi umum seperti sepekan yang lalu untuk berkomunikasi dengan keluarga (baca : Makna Sebuah Ulang Tahun).

Saya menawarkan segelas kopi hangat kepada beliau yang terlihat kelelahan dan perbincangan ringan pun dimulai. Beliau menceritakan pengalaman bekerja dan jam kerja beliau sejak pukul 06h sudah berkeliling sektor beliau yang meliputi Perpignan-Montpellier-Marseille seperti saya jelaskan diatas. Beliau menjelaskan kepada saya kenapa jaringan telpon dan internet saya mati selama 1 pekan. Pertama, di pusat data operator B ada pekerjaan darat yang berlangsung dan mereka mematikan jaringan selama 1 hari. Kedua, ternyata pada hari berikutnya kotak kabel telpon mereka terkena vandalisme oleh beberapa pemuda berandal. Dengan menggunakan mobil, mereka melindas kotak tersebut, sehingga terjadi putus jaringan di lebih dari 56 klien operator B di seluruh Montpellier (termasuk diri saya).

Mendengar hal itu, saya lumayan terkejut. Perancis tergolong negara maju dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan jarang saya melihat kekerasan di jalanan. Namun, sepertinya negeri ini sedang mengalami perubahan. Berbagai masalah sosial memuncak menjelang pemilu pada bulan Juli nanti. Vandalisme sendiri masuk dalam hukum pidana (bukan perdata) di negeri Napoleon ini. Hukuman kurungan minimal 6 bulan serta denda yang mencapai 100,000 € adalah gambaran betapa vandalisme diasumsikan sebagai sebuah tindakan kriminal yang merugikan orang lain.

Kesimpulan saya, vandalisme tidak terbatas pada penduduk dimana pendidikan kurang terpenuhi, namun tergantung dari pribadi masing-masing. Wujud vandalisme sendiri bermacam-macam namun secara sederhana saya membaginya menjadi dua yaitu vandalisme dengan motif dan vandalisme tanpa motif. Dengan motif, dapat berupa vandalisme politik, keagamaan, ekonomi, sosial. Tanpa motif, dapat berupa vandalisme properti publik (hanya untuk kesenangan), vandalisme antar teman (keisengan), dsb.

Saya bukan ahli vandalisme, namun setidaknya saya paham bahwa apapun kegiatan yang merusak/menyakiti orang lain tidak dibenarkan dalam sudut pandang apapun. Ke-56 klien operator B yang “tersakiti” setidaknya paham bahwa dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa menjadi korban sekunder, tersier bahkan kuartener dari sebuah aksi vandalisme. Dan, tidak hanya dalam kasus kabel telpon, namun semua perihal kehidupan.

Marilah menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Sumber gambar : http://www.fox44.com

Riza-Arief Putranto, 16 April 2012.

One thought on “VANDALISME DAN NEGARA MAJU

  1. wah aku termasuk vandalisme tanpa motif donk, aku kan suka ngisengin orang termasuk juga ngisengin si om hihihihhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s