SUDAHKAH ANDA MENYAPA ORANG LAIN HARI INI ?

Manusia selalu membutuhkan sesamanya untuk berbagi, saling membantu. Dari sudut pandang evolusi, semua itu dibutuhkan agar manusia bisa bertahan hidup (dalam arti literatur) seperti layaknya bakteri berkembang biak dalam strain atau burung dalam kelompok migrasi.

Namun, manusia bukanlah bakteri, tumbuhan maupun hewan. Sebagai makhluk kompleks dengan kecerdasan melebihi makhluk lain, kita telah berkembang menjadi spesies dominan di muka bumi ini. Dominansi yang membuat hubungan sosial tersebut di atas menjadi lebih kompleks. Kompleksitas disini dapat saya artikan sebagai sifat-sifat manusia seperti timbulnya rasa iri, dengki, cemburu, sakit hati, bahagia, senang dan lain sebagainya dalam menjalin hubungan sosial.

Seorang tetangga dapat membenci tetangganya karena berbeda pola pikir atau karena tetangga lebih mampu dari tetangga lainnya. Seorang nasabah kecewa dengan pegawai bank karena mereka kurang memberikan layanan yang baik. Seorang kekasih rela memberikan segalanya demi pasangannya walau dia tidak menunjukkan hal serupa. Seorang kolega dapat memutuskan hubungan profesional karena perkara uang.

Saat ini, berbagai macam media dan sarana telah dimudahkan untuk menjalin sebuah jejaring sosial. Mulai dari media elektronik audio seperti telpon, visual seperti Facebook, Twitter hingga yang menggabungkan keduanya seperti Skype, Voip, iChat. Semua itu menjadi pilihan yang memudahkan kita semua untuk saling bertegur sapa.

Akan tetapi, terkadang itu tidak menjanjikan sebuah hubungan sosial itu baik. Menurut saya, frekuensi komunikasi dan regulerisasi merupakan kunci menuju sebuah hubungan sosial yang baik. Saya teringat pepatah bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan itu sebabnya kita membutuhkan sosialisasi. Dan kita terkadang menyadari kelemahan kita hanya pada saat kita menghubungi orang lain hanya karena membutuhkan bantuan mereka. Sebuah sikap egois yang sepertinya wajar terjadi, mengingat hakikat dasar kita memang lemah dan berusaha untuk “bertahan hidup”. Namun hendaknya kita lebih bijak ketika hendak menjalani hakikat tersebut dengan melibatkan orang lain.

Saya mengambil contoh sebuah frase dalam bahasa Perancis yaitu « prendre un contact avec » yang berarti “menjalin hubungan dengan”. Selama saya tinggal di Perancis hingga hari ini, tidak banyak teman dan kolega asing yang saya miliki. Namun beberapa gelintir tersebut rupanya memang teman dan kolega yang sesungguhnya. Secara reguler kami « prendre un contact avec » via media apapun dan terus berkomunikasi tidak hanya ketika saling membutuhkan bantuan.

Sebuah opini yang saya tulis ini merupakan refleksi pribadi yang mungkin berguna untuk pembaca. Jadi hari ini saya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya menyapa orang lain ? Bagaimana dengan anda ?

Sumber gambar : http://www.things4myspace.com

Riza-Arief Putranto, 30 Mei 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s