APA YANG TERLIHAT BELUM TENTU APA YANG KITA PIKIRKAN

Dalam goresan pena kali ini, saya tertarik untuk mengangkat sebuah tema masih mengenai hubungan sosial dengan orang lain. Hanya saja, saya memperkecil sudut pandangnya menjadi bilateral, yakni antara dua individu saja.

Dalam blog pribadinya, seorang teman, Made Andi, telah terlebih dahulu mengungkapkan kisah hubungan bilateral ini melalui versi cerita dimana pembaca akan menyimpulkan sendiri story message dari cerita tersebut. Singkat cerita, dua orang pribadi yang sama-sama mengenakan pakaian mini berpapasan di sebuah mall, mereka membuat analisis masing-masing yang mengarah negatif. Pada akhirnya terungkap bahwa cerita sesungguhnya tidaklah seperti itu.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan fenomena tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia. Namun semasa kecil saya pernah diajarkan oleh kakek dalam budaya Jawa bahwa manusia itu “sawang sinawang”. Apakah itu ? Maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa apa yang kita lihat terhadap orang lain dan sebaliknya belum tentu sesuai apa yang kita pikirkan. Dapat juga diartikan apa yang dilihat belum tentu enak dan menyenangkan.

Manusia memang memiliki sifat tidak mau kalah. Sifat tersebut dapat bermakna negatif maupun positif tergantung bagaimana sang individu mensikapi.

Ketika saya berkomunikasi dengan sahabat-sahabat lama semasa kuliah sarjana dulu, saya selalu disodorkan pernyataan “wah enak ya kamu sudah hidup di luar negeri, nanti pulang ke Indonesia uangnya banyak”. Atau beberapa mengungkapkan “mudah sekali ya kamu mendapatkan beasiswa, saya juga mau”.

Mereka sungguh tidak tahu betapa perjuangan hidup di luar negeri itu terkadang susah diungkapkan dengan kata-kata. Saya lebih memilih diam dibandingkan menjelaskan panjang lebar. Jules Verne pernah berungkap “this is one experience you can’t tell but you must live with”.

Jika mereka sawang-sinawang terhadap saya, maka sebaliknya saya terkadang sawang sinawang terhadap mereka. Betapa mereka nyaman tinggal di negeri sendiri, tidak kesusahan mencari makanan halal. Betapa mereka sejuk nikmat di negeri sendiri ketika bulan puasa, dan sebagainya.

Tapi itulah manusia, tidak luput saya sendiri. Yang pasti, jangan pernah menyesali kenapa rumput tetangga lebih hijau namun sesali kenapa kita tidak bisa bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang.

Rumput tetangga lebih hijau, namun kita memiliki buah kebun yang lebih manis”.

Tetap bersemangat para pembaca !

Sumber gambar : imtiyaz-publisher.blogspot.com

Riza-Arief Putranto, 5 Juni 2012.

4 thoughts on “APA YANG TERLIHAT BELUM TENTU APA YANG KITA PIKIRKAN

  1. Nice Mas Riza! Dalam Bahasa Bali, kami mengenal “bukit johin, katon rawit” yang arti harfiahnya “bukit yang dilihat dari kejauhan tampak mulus permukaanya, padahal ketika didekati belum tentu mulus, bahkan bisa sangat kasar”🙂

  2. keren tulisannya om… kapan ada waktu buat diskusi kaya dulu lagi.. ada tawaran buat nulis di sebuah majalah, tapi topiknya susah nih… murid ingin bertanya sama sang guru hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s