MUSIK ROCK DAN MATEMATIKA

Semua orang mengenal musik dan berbagai jenisnya. Dan setiap individu memiliki selera masing-masing dalam bermusik ria, mulai dari musik jazz yang elegan hingga musik rock dengan ritme kerasnya. Sebagian orang memahami bahwa musik memiliki banyak manfaat diantaranya berperan dalam kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Percaya atau tidak, Don Campbell telah menuliskan dalam bukunya : The Mozart Effect Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind and Unlock the Creative Spirit, pada tahun 2001 mengenai manfaat musik secara umum dan khususnya, musik klasik. Campbell menunjukkan bahwa musik mampu memberikan stimulan yang bersifat ritmis. Stimulan berbentuk suara ini kemudian diinterpretasikan oleh otak dan memberikan ritme internal yang berpengaruh positif terhadap metabolisme tubuh, sehingga mampu membangun kekebalan tubuh yang lebih baik.

Disisi lain, musik juga mampu meningkatkan intelegensia (sebagaimana banyak digambarkan dalam efek Mozart untuk anak-anak), terlepas dari segala kontroversi penelitian mengenai konsep ini hingga sekarang. Musik juga dapat membantu mengatasi rasa lelah dan relaksasi dari stres, memperbaiki mood dan merangsang kesadaran spiritual. Yang terpenting dan saya rasa sebagian besar orang setuju adalah bahwa musik adalah media komunikasi universal antar manusia, suku dan bahkan bangsa. Mereka mampu memadukan perbedaan dan menciptakan solidaritas antar sesama.

Di tulisan ini, saya tidak akan membahas fenomena efek Mozart. Saya percaya, semua hal positif dari semua jenis musik akan ditemui oleh mereka yang menggemarinya. Ketika setiap orang memilih jenis musik yang mereka sukai, itu sama dengan memilih warna pakaian atau jenis makanan yang mereka konsumsi. It is all about preference.

Saya sendiri merupakan penggemar musik divers, bahkan bisa dikatakan berubah-ubah sesuai umur saya. Silahkan tertawa tapi itu benar. Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya sangat menyukai musik Rock. Di bangku SMU, saya berubah menyukai Punk dan Ska. Ketika duduk di bangku kuliah saya lebih menyukai Reggae hingga saya bekerja. Lalu, saat ini, di usia yang sudah lewat kepala tiga ini, saya lebih menyukai musik Jazz, Klasik dan lebih-lebih gitar akustik. Terlebih saya bisa sedikit banyak memainkan alat musik gitar.

Namun selama masa hidup saya, ada satu hal yang tidak berubah mengenai musik. Yaitu, kebutuhan saya akan musik Rock ketika harus berurusan dengan matematika. Silahkan tertawa lagi, tidak apa-apa. Saya harus mendengarkan musik Rock agar otak saya bisa berkonsentrasi ketika bekerja dengan matematika. Hal ini menjelaskan kepada saya kenapa setiap ulangan matematika saya selalu dapat nilai maksimal 6. Well, karena saya tidak bisa mendengarkan musik Rock selama ujian dulu.

Perhatian, berikut contoh lagu yang sering saya dengar ketika mengerjakan matematika. Lagu ini mengandung lirik keras. Mohon disikapi dengan bijak.

Hal itu berlangsung hingga hari ini. Di lab dimana saya bekerja, saya harus memasang headset dan memutar grup rock seperti Mastodon atau Disturbed agar saya bisa berkonsentrasi melakukan analisis ribuan angka ekspresi gen tanaman karet. Jika saya merubah genre musiknya, seperti Jazz, saya kembali bodor dalam berhitung.

Terus terang saya tidak memahami apa yang terjadi pada diri sendiri, mengingat semua teman-teman saya malah tidak bisa berkonsentrasi jika harus mendengarkan musik rock. Well, kemudian saya mencoba untuk membaca mencari jawaban melalui penelitian valid (maklum, saya peneliti jadi kudu dapat jawaban empiris).

Dan, eureka, saya sepertinya menemukan sedikit jawaban. Sebuah paper dari Caldwell dan Riby pada tahun 2007 yang dimuat di jurnal Consciousness and Cognition menjelaskan bahwa musik klasik seperti efek Mozart lebih mempengaruhi sistem proses alam bawah sadar (unconscious processing) dibanding musik apresiatif (rock, jazz, etc) yang lebih mempengaruhi aspek kognisi kesadaran (conscious aspects of cognition). Semua hal yang terkait kesadaran merupakan hal empiris atau kita bilang sains.

Matematika adalah bagian dari sains. Dan, bagi saya, perlu sebuah musik Rock untuk mengaktifkan daya efektivitas otak saya dan mengakses kognisi kesadaran tersebut agar saya berhitung lebih baik.

Well, musik adalah satu dari banyak hal yang dapat membantu seseorang untuk berkonsentrasi. Paling tidak ditengah banyak kontroversi mengenai efek Mozart untuk anak-anak, saya membuktikan sendiri bahwa tanpa musik Rock, maka saya tidak akan lulus sekolah pasca-sarjana ini. That’s all folks !

Sumber gambar : comboutique.com

Riza-Arief Putranto, 11 Juli 2012.

10 thoughts on “MUSIK ROCK DAN MATEMATIKA

  1. menarik Riza… aku jadi pengen tahu juga kenapa kalau belajar atau mengerjakan apapun aku lebih suka dengerin musik instrumentalia seperti Kenny G, Yanni, Kitaro dan yup instrumen drama korea..^^

    • Ya, makasih sudah mampir. Ada kemungkinan otak Arie lebih cocok distimulasi menggunakan ritme musik slow, unconscious processing…🙂

  2. ehm.. kalau aku mah mau dalam suasana hening, ramai, berisik atau apapun tetep aja bisa ngerjain soal matematika. tapi untuk hafalan, hrs dalam suasana berisik, kalau tenang malah ketiduran hehehe

  3. kk Riza gimana y kalo tiap kali dengerin musik rock,reaksi ny kyk semangat menggebu2 trus rasany kyk pingin berkelahi trus?ak bingung tentuin lagu yg kira2 bisa buat unconscious processing dan conscious processing?trus sama mau tanya apa kyk efek musik mozart itu gk bisa di gantiin?

    • Jika lagu Rock yang dipilih malah memberikan efek ingin berkelahi, mungkin pilihan lagunya kurang tepat. Sebenarnya lagu itu tergantung selera, untuk unconscious/conscious processing bisa memilih yang sesuai dengan mood. Efek musik Mozart tentu saja bisa digantikan.

  4. ternyata ada juga yang mempunyai “pengalaman” serupa denganku.. sewaktu mengerjakan soal apa saja terutama math (basicku pend.Matematika), membuat skripsiku, bete, n hingga hari menjelang usiaku yang semakin mendekati 40 tahun aku selalu menyetel lagu-lagu ngeRock ataupun yang bergenre nge-bit…hasilnyaaa….wahhhhh…amazing….lancar semuanya…tapi klo gk nyetel. mandek….hehehehee…kadang temanku pikir aku nih aneh..karna pernah kubilang. “tanpa musik rock otak gua macet..ide-ide mandek”…so, HIDUP MUSIK ROCK !!! Rock never die euyyyyyyyyy

    • Terima kasih sudah singgah dan meninggalkan komen. Musik rock tidak selalu identik dengan kekerasan dan tidak menggambarkan kepribadian yang keras. Bahkan Presiden Jokowi adalah penggemar musik rock heavy metal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s