FILOSOFI KERTAS

Sore kemarin, saya dalam perjalanan pulang dari laboratorium dimana saya bekerja. Matahari bersinar terik, cukup untuk membuat tubuh yang bekerja tiada henti sedari pagi ini menggeliat lemas. Bulan puasa tahun ini, memang terasa lebih kering dibanding tahun lalu di Prancis. Suhu rata-rata di kota dimana saya tinggal, Montpellier, adalah 30°C, dimana puncaknya terjadi sekitar pukul 15-17h (dapat mencapai 34°C).

Saya berjalan memutar untuk menghindari jalan raya dan tiba pada sebuah kebun di belakang résidence dimana saya tinggal. Tak jauh dari kebun tersebut, mata lelah saya melihat segerombolan anak-anak usia SMP berkerumun. Dengan memicingkan mata, saya melihat seorang anak sedang menjadi bulan-bulanan beramai-ramai oleh empat orang lainnya. Tanpa memperdulikan rasa lelah dan keinginan untuk segera tiba di rumah, saya mendekat dan berusaha melerai.

Seorang anak yang paling besar dan sepertinya merupakan pemimpin grup itu menanyakan kenapa saya ikut campur. Entah kenapa juga saya ikut campur, saya tidak tahu. Anak itu berkata, ‘Enyahlah, ini urusan kami, dan ini hanya lelucon saja’. Mengeroyok seseorang itu lelucon ? Saya berujar kepada mereka, tentu saja dalam bahasa Prancis, ‘Jika tidak keberatan saya memiliki cerita untuk kalian. Setelah itu saya akan pergi dan tidak mengganggu kalian lagi’. ‘Baiklah’, ujar mereka.

‘Saya bukan orang Prancis, kalian tentu bisa melihat. Dan saya teringat, ketika saya masih seusia kalian. Sering menjadi bulan-bulanan atau ejekan teman-teman saya ketika di bangku SMP. (Sembari membagikan kertas kepada mereka) Ini, silahkan masing-masing pegang satu lembar kertas. Silahkan, kertas tersebut diremas, ditekuk dan diinjak namun jangan sampai sobek’.

Mereka pun melakukan apa yang saya suruh dan kertas tersebut menjadi berantakan bentuknya. ‘Sekarang, silahkan kalian minta maaf pada kertas tersebut’. Mereka pun meminta maaf kepada kertas tersebut, sembari terheran dan terpingkal. ‘Lucu ya ? Bukalah kertas tersebut dan lihatlah alur-alur yang terbentuk. Alur tersebut boleh kita ibaratkan luka. Lihat ! Betapapun kalian meminta maaf kepada kertas tersebut, luka yang terbentuk sukar untuk dihilangkan’.

Mereka terheran dan mengangguk-angguk. ‘Itulah yang terjadi ketika seorang anak menindas yang lain. Setelah itu dia bisa meminta maaf setulus hatinya namun luka bekasnya tertinggal selamanya. Saya memang bukan orang tua atau guru kalian, hanya seorang passant (bahasa Prancis : orang lewat). Tapi jika berkenan, mungkin kalian akan berfikir terlebih dahulu, sebelum menyakiti orang lain.

Entah dari mana saya mendapat cerita tersebut, mungkin dari sebuah buku yang pernah saya baca. Juga saya tidak berharap banyak ketika menceritakan filosofi kertas tersebut, mengingat betapa nakalnya anak-anak bule disini. Namun, ternyata saya salah.

‘Merci Monsieur. On retient ça au cœur’. (Terima kasih Pak. Kami akan mengingatnya dalam hati).

Well, sedikit berbuat baik di bulan puasa ini, tidaklah mengapa.

Riza-Arief Putranto, 3 Agustus 2012.

10 thoughts on “FILOSOFI KERTAS

  1. nice philosophy, mas riza
    sama halnya seperti paku yang dipakukan ke kayu lalu pakunya diambil. akan ada lubang bekas paku yang tidak akan hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s