NEGERI DALAM SUSAH DAN SENANG

Seorang penulis atau blogger yang baik biasanya faham mengenai momen dan reaktif terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Menulis ketika sebuah tema sedang booming atau memberikan opini cerdas ketika berita sedang kalang kabut. Salah satu momen itu adalah hari ini, Hari Kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap 17 Agustus. Saya selalu kesulitan untuk yang satu ini, beropini tentang hari bersejarah Indonesia.

Beberapa teman blogger saya sudah memberikan opini dan tulisan mereka dengan brilian. Memaknai kemerdekaan dan sebagainya. Saya kira saya tidak perlu menebalkan ungkapan bernasionalisme yang memang sudah tebal dipenakan sahabat-sahabat saya. Seyogyanya saya hendak bercerita.

Sudah 4 tahun saya tinggal di Perancis dan banyak hal-hal yang bisa saya petik sebagai pelajaran. Untuk urusan mencintai negeri, saya mengenal dua ibunda tercinta yang saya temui di kota Montpellier ini. Beliau adalah Ibunda Clara dan Ibunda Sitiarum. Saya memanggil keduanya ibunda karena mereka memang memperlakukan saya selayak anak mereka disini, juga sebagai penghormatan saya kepada keduanya. Mereka berdua adalah dua dari sekian sosok yang membuat saya “betah” menempa kerasnya studi di negeri orang dan rasa kesepian terpisah dari keluarga.

Kedua ibunda tersebut menikah dengan orang Perancis dan masing-masing dikaruniai tiga anak. Saya mengenal putra putri mereka yang blasteran, cantik dan ganteng itu. Semua saya anggap sebagai adik sendiri. Dan anak-anak mereka semua berkebangsaan Perancis.

Suatu ketika saya pernah menanyakan kepada kedua ibunda tersebut, apakah mereka sudah berganti warga negara menjadi Perancis ? Mereka berdua tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan saya tersebut. Dengan nada lembut selayaknya seorang ibu, mereka dengan bangga menjelaskan masih menggenggam kewarganegaraan Indonesia. Sudah puluhan tahun mereka tinggal di negeri ini, diterima oleh masyarakat sekitar dan diperlakukan selayaknya seorang Perancis, namun masih WNI. Saya sungguh terkesima.

Saya tidak mengatakan bahwa berpindah warga negara adalah hal yang buruk. Semua itu pilihan seseorang. Namun, jika melihat kedua ibunda yang sangat bersemangat tersebut, apakah saya tidak malu sebagai anak muda ? Terkadang godaan untuk meninggalkan negeri itu sungguh besar, terutama bagi mereka yang meregang prestasi di negeri orang dan mendapatkan pengakuan. Terlebih dengan teknologi masa kini dimana sumbangsih untuk negeri bisa dilakukan jarak jauh.

“Ibunda, kenapa tidak berganti warga negara? Bukankah negeri kita itu semrawut”.

“Tidak anakku sayang, Indonesia mungkin semrawut, but right or wrong it is my country. Jika bukan kita yang mencintai negeri kita, lalu siapakah?”.

“Iya ibunda, right or wrong it is our country. Negeri dalam susah dan senang.”

Sumber gambar : loveindonesia.com

Riza-Arief Putranto, 17 Agustus 2012.

2 thoughts on “NEGERI DALAM SUSAH DAN SENANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s