MEMAHAMI SIFAT MENGALAH MANUSIA DENGAN HUKUM FISIKA

Bagaimana memahami sifat mengalah pada manusia ? Mari kita mulai dengan belajar (lagi) tentang hukum fisika. Dua obyek yang memiliki massa tidak dapat menempati ruang dalam waktu yang sama. Dua obyek tersebut akan selalu bertumbukan. Wolfgang Pauli dan Einstein menjabarkan hal ini sangat jelas dalam teori fisikanya. Mudahnya dapat digambarkan seperti dua orang yang mencoba duduk di satu kursi. Sungguh tidak memungkinkan pantat keduanya akan mendapatkan luasan alas duduk kursi tersebut. Yang ada, satu akan memangku yang lain. Intinya, setiap obyek sudah memiliki tempatnya masing-masing.

Anggaplah saya naif dan saya membandingkan hukum fisika tersebut dengan manusia. Menurut saya, tidak pernah ada dua orang yang 100% mirip dan memiliki pola pikir yang sama. Meskipun seseorang dilahirkan kembar, selalu ada perbedaan diantara keduanya. Dan, manusia merupakan makhluk yang kompleks baik secara biologis, fisiologis dan lain sebagainya. Namun, bagi saya kompleksitas manusia lebih terlihat dari pemikiran mereka. Jadi boleh dikatakan hal-hal yang bersifat psikis.

Kompleksitas dalam cara berfikir, beride dan beropini tersebut yang sering kali memunculkan konflik antar individu. Pertentangan ide, perbedaan cara memandang masalah dan lain sebagainya menjadi hal-hal yang harus kita alami sehari-hari. Inilah konsekuensi bersosialisasi.

Seperti dua obyek yang berdekatan selalu ada gravitasi diantara keduanya. Jika jaraknya sangat dekat maka semakin kuatlah gravitasi yang akan membuat dua obyek tersebut bertumbukan. Jika obyek 1 lebih kecil dan ringan daripada obyek 2, maka obyek 1 akan bergerak menuju obyek 2 lebih cepat. Obyek 2 yang berat akan bergerak lebih lambat menuju obyek 1.

Jika tumbukan ini dianalogikan sebagai konflik, maka mudahnya, saat orang 1 yang berhati sempit biasanya lebih agresif dibanding orang 2 yang berhati lapang. Bayangkan jika keduanya memiliki agresivitas yang sama, tentu saja tumbukannya akan menimbulkan kerusakan yang sama untuk kedua belah pihak.

Dalam kehidupan sehari-hari, ini tergantung pada kita bagaimana memposisikan diri. Sifat mengalah bukan berarti kalah, namun mengurangi kerusakan akibat tumbukan. Sebagai manusia biasa, kita pasti pernah berada di posisi obyek 1 dan pastinya menjadi pengalaman berharga. Jika saat ini kita sudah bisa selalu menjadi obyek 2, itu merupakan anugerah. Teruslah berada di posisi itu maka hamemayu hayuning bawono akan terwujud (baca artikel Hamemayu Hayuning Bawono).

Mungkin Om Einstein tidak keberatan ya, hari ini saya menggunakan teori fisika beliau untuk memahami hal lain. Semoga pembaca semua juga bisa mengambil maknanya.

Sumber gambar : http://www.astro-photography.net

Riza-Arief Putranto, 28 November 2012.

Advertisements

4 thoughts on “MEMAHAMI SIFAT MENGALAH MANUSIA DENGAN HUKUM FISIKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s