BUKAN PAHLAWAN KESIANGAN

Siapa diantara pembaca sekalian yang fans dengan Harry Potter ? Atau Katniss Everdeen (Hunger Games)? Atau Frodo Baggins (Lords of The Ring)? Saya yakin diantara pembaca semua bahkan ada yang mengagungkan mereka. Mereka bertiga adalah sedikit contoh dari banyak yang lain. Mereka yang tergolong sebagai pahlawan.

Dalam buku ‘The Hero with Thousand Faces’, yang terbit pertama kali pada tahun 1949, Joseph Campbell menemukan kesamaan diantara banyak tipe pahlawan yang kita kenal. Pada prinsipnya, seorang pahlawan akan ‘dipanggil’ untuk berpetualang, masuk dunia asing, mengalami masa krisis lalu mendapatkan bantuan dari orang lain (bisa mereka yang lebih tua). Seorang pahlawan akhirnya mampu melewati masa krisis tersebut dan ‘dilahirkan’ kembali sebagai pribadi yang berbeda. Pahlawan terlahir kembali ini telah ‘tumbuh lebih besar’ (dalam arti menjadi pribadi yang lebih baik).

Ambil contoh, Harry Potter. Diadopsi di keluarga yang kurang menyayanginya, Harry bertemu Hagrid yang ‘membukakan’ peluang petualangan (red. pergi ke Hogwarts). Harry berkonfrontasi dengan The Death Eaters dan Lord Voldemort hingga masa krisis dimana dia meninggal (karena sebagian horcruxe dari Lord Voldemort ada di diri Harry). Selama konfrontrasi dengan penyihir hitam, Harry mendapat banyak bantuan (dari Albus Dumbledore, Sirius Black bahkan Severus Snape). Krisis berakhir ketika Harry berhasil memusnahkan semua horcruxes dan memperlemah Lord Voldemort. Dan dia berhasil memusnahkan sang penyihir yang namanya-kita-semua-tahu. Sejak itu, Harry dikenal sebagai penyihir besar dan tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.

Bagaimana dengan kita ? Apakah kita bukan pahlawan ? Tentu saja kita juga pahlawan, namun bukan pahlawan kesiangan. Mari mengambil logika saja. Teman saya yang bernama Jono adalah anak desa. Tidak pernah sekalipun mimpi bisa melanjutkan sekolah di LN. Berniat kuat dan tulus, Jono mendaftar beasiswa. Dia lulus. Berangkat ke Prancis, dengan modal minim pengalaman. Masa krisis ketika Jono ternyata tidak bisa berbahasa Prancis dan kuliah sulit. Terancam tidak lulus, Jono mendapat dukungan dari sahabat-sahabat Indonesia seperjuangan dan pinjaman catatan teman kuliah. Kursus bahasa Prancis tambahan pun dilakukan. Belajar tiada henti pun Jono lakukan. Jono berhasil lulus dan akhirnya menjadi seseorang dengan kapasitas lebih baik. Kini dia pun bersemangat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Jadi, ingatlah wahai sahabat. Resep untuk menjadi pahlawan : mengambil peluang – petualangan – krisis – mendapat bimbingan/bantuan – mengatasi masalah – resolusi baru.

Saya yakin, masing-masing pribadi, memiliki beban dan masalah. Ada ketakutan untuk memasuki dunia baru, yang gelap dan tidak tahu arah. Namun, ingatlah sebuah pepatah :

‘In the cave that you fear to enter lies the treasure you seek’ – Joseph Campbell.

Mari berani untuk mengambil peluang dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kita semua bukan pahlawan kesiangan.

Sumber gambar : http://gilsmethod.wpengine.netdna-cdn.com

Riza-Arief Putranto, 5 Desember 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s