TETANGGAKU PENGUPING

Sudah bukan rahasia lagi bahwa saya memiliki hobi bermain musik dan berdendang. Setidaknya semua sahabat dan kerabat terdekat saya sudah mengetahui hal itu. Sejak kecil saya selalu mengikuti kompetisi musikal kecil-kecilan, dari tingkat kampung, sekolah hingga Universitas. Bermain band Orkes Melayu pun pernah saya jabani. Bukan untuk show off tapi saya merasa itulah kegiatan dimana saya bisa beraktualisasi diri.

Saya sangat menyukai pekerjaan saya sebagai seorang ilmiah, namun inilah sisi lain yang saya miliki. Hobi ini terus saya asah dan saya bawa hingga di Prancis. Sebuah gitar akustik mungil Fender saya beli hanya untuk menyibukkan jari-jari di kala saya tidak memegang alat laboratorium.

Siapa sangka melalui hobi inilah, saya berkenalan dengan banyak kawan baru manca negara. Bagaimana bisa ? Setidaknya setiap hari, selama minimal 1 jam saya selalu bermain gitar di apartemen. Genre musik apa saja saya lantunkan. Saya sendiri tidak merasa saya bernyanyi cukup bagus, yang penting tidak false itu saja.

Dalam beberapa kali kesempatan, ketika saya bermain musik, saya mendengar kasak-kusuk di pintu depan. Terdengar cukup jelas, seperti sesuatu digesekkan atau menempel pada pintu. Kebetulan apartemen saya dilengkapi dengan lubang pengintip (biasa di Prancis, disediakan lubang pengintip agar kita berhati-hati jika menerima tamu tak dikenal). Saya melongok dalam lubang pengintip dan mendapati tetangga 1 lantai dibawah saya. Ketika saya buka pintu, mereka kaget dan malu biasanya. Namun, kemudian dengan sopan memohon maaf jika mengganggu. Mereka ingin berkenalan dengan saya dan kebetulan menyukai cara saya bermain musik.

Saya tidak berpikiran buruk. Mengapa tidak ? Perkawanan bisa dimulai dari cara apa saja kan. Percaya atau tidak, saya memiliki lebih banyak kawan, malah sejak saya memulai PhD dan tinggal di Résidence dekat hutan Agropolis ini. Bukan ketika saya studi Master dan tinggal di kota. Dan, saya sungguh salut ketika mereka dengan seksama diam ketika saya bernyanyi dan seolah menghayati. Terkadang kami jadi bertukar budaya bernyanyi bersama melalui lagu-lagu negara asal kami. Saya bahkan pernah jadi bintang tamu di sebuah café di pusat kota Montpellier, hanya karena kebetulan ketika saya sedang berada di café bersama kawan saya, dia berteriak kepada pemilik café agar saya bernyanyi. Sebuah lagu ‘Dan’ dari ‘Sheila On 7’ membuat Indonesia dikenal, haha, maaf saya agak lebay.

Kawan saya, orang Prancis, selalu berujar bahwa di negara Napoleon ini, kehidupan bertetangga sungguh minim. Semua serba individualis dan tertutup. Anda tidak percaya ? Coba tanyakan kepada para sahabat mahasiswa yang tinggal di Cité Universitaire, berapa jumlah tetangga yang dikenal  atau pernah berkenalan ? Harga persahabatan di negara ini mahal. Tidak semudah berkenalan tanpa alasan lalu kita menjadi kawan. Mungkin bagi kawan-kawan saya di Agropolis ini, ingin berkawan dengan orang dari negara lain, adalah melalui selera bermusik.

Beberapa tetangga saya sudah meninggalkan Agropolis. Namun komunikasi tetap kami jaga. Itu yang orang Prancis selalu bilang ‘garder le contact’ (keep on touch). Setidaknya, saya jadi tahu, bahwa menguping pun bisa membuahkan persahabatan.

Riza-Arief Putranto, 13 Desember 2012.

6 thoughts on “TETANGGAKU PENGUPING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s