KAUM GENERALIS

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang tidak bisa menghindari melakukan tindakan ‘generalisir’. Tindakan yang lebih terlihat ketika kita mengucapkannya. Hal ini berlaku untuk semua orang, tak terkecuali saya. Ucapan seperti apakah itu ?

Saya akan berikan contoh seperti ketika seorang teman beda suku atau beda negara melakukan hal yang tidak kita sukai atau tidak sesuai. Dengan mudah kita akan bilang ‘Dasar orang bangsa X atau suku R, jam karet’. Juga, semisal saat kita mengalami kesulitan hidup di negeri A, kita akan berujar ‘Negara A ini reseh, semua orang rasis disini’.

Seseorang yang berfikiran sempit, lebih sering melakukan hal tersebut. Opini mereka dibentuk karena ketidaktahuan akan fakta yang sesungguhnya. Tindakan ‘sepele’ ini terlihat tidak memiliki efek apa-apa terhadap pribadi yang bersangkutan. Akan tetapi ketika opini ini disampaikan kepada orang lain, itu lain cerita. ‘Eh, jangan ke negara A, ga ada yang bisa bahasa Inggris, susah sekali hidup disini. Dingin juga, pokoknya ga enak. Orang-orangnya juga ga pernah mandi’. Jika yang menerima opini tersebut adalah mereka yang tidak mampu mencernanya baik-baik, akan terpengaruh.

Sebelum saya berniat untuk melanjutkan sekolah ke LN, banyak sahabat saya yang sudah di LN mengabarkan kepada saya betapa pentingnya membuka wawasan dengan pergi melihat dunia di tempat yang berbeda. Saya setuju sebagaimana pernah saya tuliskan di blog ini beberapa bulan lalu di sebuah artikel berjudul ‘Berkelana Membuka Cakrawala’. Bagi saya, membuka wawasan itu tidak harus ke LN tapi bisa juga ke berbagai tempat di dalam negeri seperti pulau-pulau yang tidak pernah kita kunjungi sebelumnya.

Membuka wawasan akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak sempit, tetapi yang lebih mampu melihat segala sesuatu dengan kesadaran yang lebih baik. Ketika kita sampai di LN, lambat laun kita akan menemukan persahabatan baru yang mampu merubah paradigma kita tentang anggapan miring suatu negara, misalnya. Lalu kita akan berujar ‘Ah, not so bad at all this country’.

Sebagai manusia, kita tidak bisa menghindari sifat ‘generalis’ ini. It is in our blood. Pikiran kita menggiring asumsi yang mencoba melindungi diri dari hal-hal negatif. Asumsi negatif yang mampu mengurungkan niat kita untuk berbuat sesuatu. Akan tetapi, ketika itu terjadi setidaknya kita harus mampu mengontrol asumsi negatif tersebut. Salah satu caranya seperti saya sebutkan diatas, pergilah ke tempat baru dan membuka wawasan.

Mari terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengurangi opini negatif terhadap hal yang belum tentu kita mengetahui fakta yang sebenarnya.

Wisdom can be found from travelling. –Srilankan Proverb’

Sumber gambar : http://www.generalist.in

Riza-Arief Putranto, 13 Januari 2013.

6 thoughts on “KAUM GENERALIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s