TENTANG PERPISAHAN

Apapun aktivitas yang kita lakukan dalam hidup kita, terkadang perpisahan, terutama dengan keluarga, adalah satu hal yang harus kita alami. Dalam hal lanjut studi ke LN, perpisahan dengan istri, anak atau keluarga memang tidak terhindarkan. Sebagian orang memutuskan untuk membawa keluarga mereka ikut menemani, namun sebagian lain tidak dapat melakukan itu karena satu lain hal.

Di mata saya mereka yang berusia muda dan singel, pada umumnya terlihat sangat menikmati kehidupan ‘baru’ mereka di LN dan tidak memikirkan tentang kerinduan kepada keluarga. Pergi ke pub, café atau berjalan-jalan tiap pekan ke kota-kota tetangga adalah hal-hal yang menghiasi hari-hari mereka. Bahkan beberapa sahabat muda menyerahkan hati mereka kepada tambatan bule. Well, cinta itu memang tidak berbatas geografis.

Namun saya terkadang salah. Beberapa kali saya menyaksikan betapa sahabat-sahabat muda itu begitu perhatiannya dengan keluarga mereka (ayah, ibu dsb). Berpisah dengan mereka yang kita kasihi tentu bukanlah hal yang mudah. Menurut saya segala sesuatu yang berkaitan dengan kondisi emosional seseorang memang tidak mudah untuk diatasi. Namun memang, kesabaran menjadi kunci dari segalanya.

Lalu kenapa harus berpisah ? Kenapa tidak memutuskan untuk tidak berpisah ? Well, itu adalah pertanyaan yang mampu mengundang jawaban spesifik bagi setiap orang yang ditanya. Sebagian orang membutuhkan pengalaman baru. Sebagian lain akan beralasan untuk kebaikan karir yang nantinya berimbas pada kehidupan keluarga yang lebih baik dari segi ekonomi. Sebagian lain beralasan karena kesempatan tidak akan datang dua kali.

Pribadi, saya menyimpulkan bahwa setiap manusia itu memiliki kebutuhan masing-masing. Mari kita bayangkan kebutuhan seseorang itu seperti mangkuk pipih yang lebar. Mangkuk tersebut perlu diisi dengan sesuatu entah kue, nasi, cake atau mungkin agar-agar. Ada mereka yang hanya membutuhkan 1 jenis makanan dalam mangkuk mereka. Ada mereka yang membutuhkan 2 jenis. Ada mereka yang membutuhkan 3 bahkan lebih jenis makanan.

Keluarga memang merupakan bagian terpenting di mangkuk pipih tersebut, namun bagi mereka yang membutuhkan bagian lain tentu saja perpisahan itu harus terjadi. Lalu bagaimana kita tahu bahwa perpisahan itu akan berjalan baik-baik saja ? Well, kita tidak pernah tahu. Yang bisa kita lakukan hanya mencoba. Bukankah seperti itu mimpi seseorang yang menjadi kenyataan dicapai ? Dengan mencoba.

Biasanya, ada ilusi yang membuat stereotype opini bahwa yang menunggu terasa lebih berat dibanding yang meninggalkan. Namun saya lebih percaya, baik menunggu atau ditunggu kedua pihak sama-sama berat. Tidak ada satu pihak yang lebih berat dibanding lainnya.

Seseorang yang sangat saya hormati pernah berujar kepada saya,

Jadikan perpisahan itu sebagai energi untuk terus bersemangat setiap hari. Dengan begitu, baik kamu maupun yang menunggu sama-sama berperan dalam kesuksesan kamu’.

Sumber gambar : http://www.digitaldome.org

Riza-Arief Putranto, 24 Januari 2012.

3 thoughts on “TENTANG PERPISAHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s