RUMPUT KITA TIDAK HARUS SELALU LEBIH HIJAU DARI TETANGGA

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebuah peribahasa Indonesia yang memiliki arti “tidak puas dengan apa yang kita miliki, melihat orang lain yang sepertinya lebih baik”. Entah apa yang salah ya dengan rumput kita sehingga tidak lebih hijau ? Mungkin perawatan yang kurang atau karena pupuknya berbeda ?

Dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin pembaca semua pernah mengalami ini atau sedang saat ini mengalami ini. Kita memiliki kecenderungan untuk membandingkan dua hal yang seolah dapat dibandingkan tetapi tidak. Kenapa teman saya yang tidak jauh lebih pintar dari saya sekarang menjadi manajer sukses ? Kenapa seorang sahabat yang bahkan tidak jauh lebih tampan sudah menikah terlebih dahulu ?

Semua adalah tentang rasa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Bagaimana mengatur diri dan terus mensyukuri apapun yang ada dihadapan kita. Untuk hal ini, tidaklah mudah. Sebagai manusia sering sekali kita lupa untuk bersyukur meskipun dia adalah seorang presiden, doktor, petani atau bahkan hanya seorang pedagang asongan. Hal ini lebih kepada hubungan vertikal dibanding hubungan horizontal sesama manusia.

Semua juga tentang proses. Kesuksesan seseorang itu hanyalah penampakan saja. Seorang teman sudah memiliki mobil atau dia sudah sekolah ke LN. Kita mengindahkan proses dibalik itu dan melompat kepada kesimpulan bahwa dia lebih sukses dari kita. Yang tidak pernah kita tahu mungkin teman kita menabung dan menyicil berat untuk memiliki mobil. Teman kita mungkin juga telah berjuang puluhan kali untuk bisa mendapat beasiswa.

Semua juga tentang tolok ukur. Sering kali tolok ukur yang digunakan untuk sebuah kesuksesan adalah materi (mobil, harta, tahta dsb). Seorang sahabat yang bijak kemarin berujar kepada saya, bahwa semua sifat buruk manusia itu hanya ada di kepala (red. pikiran). Jika kita ingin tenang, tentu saja kurangi terlalu banyak berfikir hal-hal negatif dan serahkan kepada hati nurani. Kalimat tersebut terlihat agak kurang logis tapi begitulah adanya. “Dirasa-rasakan aja”, ujarnya santai.

Dari sudut pandang biologi, rumput tetangga mungkin adalah varietas lain. Warna hijau memang dominan, namun bukan berarti rumput kita yang lebih pucat menandakan kualitas yang buruk. Terkadang warna pucat justru indah, seperti contoh ikan cupang, buah semangka kuning dsb. Pada dasarnya, mari memandang sesuatu dari banyak sudut pandang sehingga mendapatkan kesimpulan lebih baik. Betul, rumput kita tidak selalu harus sama hijau dengan tetangga.

“Rumput tetangga mungkin lebih hijau, tapi buah di kebun kita lebih manis”

Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com

Riza-Arief Putranto, 25 Februari 2013.

4 thoughts on “RUMPUT KITA TIDAK HARUS SELALU LEBIH HIJAU DARI TETANGGA

  1. suka tulisan ini. pandai bersyukur dan sll melihat ke bawah. saya juga pernah mikir tentu saja rumput tetangga lebih hijau,krn saya mmg ga nanam rumput tp anggrek. hehehe. tdk perlu pusing dg rumput tetangga. rawat baik2 halaman sendiri sesuai keinginan. insya Allah hasilnya sama memuaskan. rejeki takkan tertukar. ^^

  2. Pingback: PERASAAN KETIKA TINGGAL DI LUAR NEGERI | Chez Putranto

  3. Pingback: Cara Mengatasi Kesepian – Shiq4.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s