TENTANG STEREOTIPE

Menurut Robins dan Judge (2010) dalam buku mereka yang berjudul ‘Organizational Behaviour’, stereotipe merupakan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Dengan kata lain, stereotipe bersifat subyektif. Sudah cukup lama saya tinggal di Prancis untuk dapat secara terbuka melihat tentang stereotipe dari dua bangsa, yakni Prancis dan Indonesia.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa orang Prancis selalu identik dengan baguette, syal merah, topi baret, anggur, parfum dan baju garis-garis. Bangsa Prancis juga identik dengan menara Eiffel, masakan gastronomi yang terkenal lezat di dunia, bisous (cium pipi khas Prancis), juga dengan tokoh-tokoh seperti Charles de Gaulle, Napoleon Bonaparte, Jean d’Arc hingga Jean Paul Gaultier. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mendengar dari rekan-rekan negeri pertiwi yang bilang : ‘Wah orang Prancis itu pelit, bau (karena ga pernah mandi) dan individualis’. Ada pula yang mengamati kebiasaan mengeluh mereka dan bilang ‘Ah, dasar orang Prancis’. Masih banyak contoh stereotipe lainnya. Tentu saja, sebaliknya, orang Prancis memandang orang Indonesia. Saya tidak perlu menyebutkan satu per satu tentang Indonesia walau yang paling terkenal adalah budaya macet (huhuhu).

Dari semua jenis stereotipe yang melekat di dua bangsa diatas, saya mengamati satu hal sederhana dan ini berasal dari pengamatan pribadi. Hal yang akan saya ungkapkan tidak bersifat umum (kepada semua orang) namun lebih kepada masing-masing tapi menarik untuk dikupas. Adalah perbedaan kebiasaan kedua bangsa dalam mencari informasi. Wah yang mana ya?

Bangsa Prancis memiliki kebiasaan hidup individualis, gemar menyimpan informasi (yang dimaksud adalah informasi berguna) di media, memberikan petunjuk yang jelas di jalanan dan di tempat publik. Tujuh dari 10 rekan Prancis saya memiliki kebiasaan untuk googling sebelum bertanya kepada orang. Mereka terbiasa mencari informasi dahulu sebelum melemparkan pertanyaan. Ya tentu saja, koneksi internet dan les services publiques de l’information (jasa informasi publik) di negara ini memang memberikan keleluasaan orang menjelajah apa yang perlu mereka ketahui. Stereotipe ini tidak selalu bagus lho, karena tentu saja, itu berarti keramahtamahan dengan orang tidak dikenal lebih sulit terjalin.

‘Bangsa Indonesia ? Ah, ga semua bangsa Indonesia. Hanya yang sering saya temui saja sih (senyum lebar)’. Pertama, rekan-rekan Indonesia saya tidak bisa lepas dari telepon genggam (bahkan mereka yang di LN sekalipun). Bahkan saya sendiri sulit untuk lepas (jujur). Kedua, rekan-rekan saya lebih suka bertanya in person terlebih dahulu dibanding googling. Hal ini bisa diartikan bahwa rekan-rekan ini lebih percaya satu sama lain dibanding mencari informasi valid dan non-subyektif di sumber terpercaya. Tentu saja ini hal positif yang bisa dipetik. Hal negatifnya adalah, ini pengalaman pribadi lho, bahkan ketika sudah berpindah negara, mereka tetap bertanya hal-hal yang kadang tidak perlu. Ya, maklum lah, papan penunjuk jalan di Indonesia itu ya orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan itu atau orang-orang kenalan mereka.

Singkatnya, stereotipe dan perbedaan budaya tidak perlu terlalu serius disikapi. Wajar adanya perbedaan itu ada. Menurut saya, stereotipe malah mampu menjadi penciri dan bisa jadi hal menarik untuk disimak. This is small thing that we can enjoy and witness when we visit a country, their stereotype.

Bagi pendatang baru di Prancis, selamat menikmati stereotipe-stereotipe ala Prancis. Jangan bawa stereotipe jam karet dari Indonesia yah. Bonne journée à tous !

Sumber gambar : http://1.bp.blogspot.com/

Riza-Arief Putranto, 18 April 2013. 

4 thoughts on “TENTANG STEREOTIPE

  1. wah, ini refreshing sekali topiknya, apalagi masalah googling. Tapi yang namanya budaya memang mendarah daging berhubung saya juga baru terbiasa googling ketika tiba di Perancis. Menurut saya ini berhubungan dengan budaya baca juga mas Riza, karena orang Indo lebih suka mengobrol (=bertanya) dibandingkan membaca ^^

    • Betul sekali Mbak Lina, memang perbedaan budaya yang membuat seperti itu. Yang saya soroti sebenarnya adalah adaptasi, seperti pepatah “dimana bumi dipijak, langit dijunjung”. Makasih sudah mampir🙂

  2. ini menarik sekali loh, berhubung saya adalah mahasiswa studi bahasa prancis disuatu universitas di tanah air dan sedang melakukan penelitian tentang stereotype orang prancis dari kacamata orang indonesia.
    Alors, merci beaucoup pour les informations🙂

    • Sama-sama Mlle Irma, semoga bisa menjadi gambaran. Tentu saja ini subyektif. Sukses selalu et de rien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s