ABNORMALITAS

Apa sih yang kita lakukan ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai ? Saya lebih suka menggunakan istilah biologi. Apa sih yang kita lakukan ketika melihat sesuatu yang abnormal ? Sebagaimana orang ‘normal’ pada dasarnya pastinya kita ingin menyingkirkan yang abnormal. Seperti sebagian peneliti yang berusaha menyingkirkan abnormalitas pada kelapa sawit yang mempengaruhi produksi minyak pada buah. Juga seperti mereka yang berusaha menyingkirkan Quasimodo (si punggung bungkuk) di Notre Dame de Paris pada masanya, karena dia tidak seperti manusia umumnya.

Orang ‘normal’ takut akan hal yang abnormal. Abnormalitas itu membuat orang cemas, seperti kerikil dalam sepatu atau duri dalam daging. Tapi tunggu dulu, sebenarnya kategori normal itu seperti apa ? Bukankah itu merupakan karakter yang ditentukan secara subyektif juga ? Normal atau tidak normal hanyalah merupakan ukuran kualitatif, sesuatu yang tidak bisa diukur secara kuantitatif bukan ? Jika tidak terukur secara nyata, lalu kenapa kita harus perhatian dengan hal tersebut ?

Sama seperti ketika kita tidak bisa memahami jalan pikiran seseorang. Sebagai yang merasa ‘normal’, kita pastilah akan berusaha memaksakan kehendak atau pola pikir. Pola pikir ala kita, yang dianggap ‘normal’. Saya yakin, hal seperti ini akan susah untuk dilaksanakan dan malah cenderung berakibat negatif. Sama halnya seperti memaksa seseorang untuk menyukai warna merah, padahal dia menyukai merah muda. Ini akan berujung pada debat kusir yang tak berkesudahan.

Kalau saya memandangnya begini. Sesuatu yang ‘abnormal’ dapat digunakan untuk mempelajari yang ‘normal’ atau memastikan seberapa benar ‘kenormalan’. Tunggu, mungkin kalimatnya harus dipermudah. Sesuatu yang ‘berbeda’ itu dapat digunakan untuk memahami yang ‘biasanya’ terjadi. Adanya ‘perbedaan’ akan menyadarkan bahwa ternyata yang ‘biasanya’ terjadi itu baik atau tidak baik. Adanya ‘perbedaan’ menyadarkan bahwa yang ‘biasanya’ terjadi tidak harus selalu terjadi. Bahwa yang berbeda itu ada dan memiliki fungsi dalam sebuah ‘kebiasaan’.

Aduh, semakin rumit saja ya. Mari menerima lingkungan kita apa-adanya dan tanpa membingungkan antara ‘normal’ dan ‘abnormal’. Sesungguhnya segala sesuatu itu diciptakan berbeda-beda agar bisa saling menerima.

Sumber gambar : http://wordsbrand.com/

Riza-Arief Putranto, 3 Mei 2013.

8 thoughts on “ABNORMALITAS

  1. Bicara ttg normal dan abnormalitas, dalam konsep seksualitas sosial, seorang Filsuf Perancis Michel Foucault pernah mengatakan bahwa konsep normal telah dinormalisasikan oleh pemerintah dan aparat2nya. Kalau dalam bahasanya beliau normalisasi normal (la norme normalisée), nah kenormalan yang dinormalisasi itu kemudian memunculkan abnormalisasi bagi hampir semua orang. Normal yang dinormalisasi dalam konteks seksualitas sosial menjadi hierarki dalam melihat mereka yang dikatakan abnormal. Dalam tahap ini, kelompok minoritas seksual sejatinya tidak ingin dianggap abnormal sehingga muncul konsep2 kesetaraan dengan gerakan2 kelompok minoritas seksual yang sekarang ini banyak kita lihat. Mariage pour tous adalah salah satu contohnya. Berbicara normal dan abnormal dalam ilmu sosial, konsepnya sangat abstrak dan menurutku masih belum bisa dipecahkan karena merunut kata Riza, apa itu normal? Dan apa itu abnormal? Karena menurut saya pribadi, konsep normal dan abnormal tidak memiliki benang merah dan tidak bisa diukur secara kuantitas maupun kualitas.

    • Sangat setuju mas, sudut pandang biologi dan sosiologi tidak jauh berbeda untuk urusan kuantifikasi. Sangat susah ketika berbicara dengan konten kualitatif, tidak membawa kepada logika yang baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s