SKRIPSI DAN KOMPOR MELEDUK

Percaya atau tidak yang namanya mengerjakan skripsi itu seperti kompor meleduk. Jika tidak hati-hati, bisa membuat kebakaran.

Saya baru saja mengungkapkan kalimat diatas kepada seorang adik di tanah air yang tidak bisa tidur karena memikirkan skripsi. Tujuh tahun sudah dia berada di bangku kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana. Dua kali ganti tema skripsi sudah dilaksanakannya, terkait banyak masalah teknis dan non teknis. Saya mencoba untuk membagi pengalaman skripsi kira-kira 10 tahun yang lalu kepada adik ini.

Secara pribadi, saya melihatnya skripsi itu 50% penelitian dan 50% hubungan sosial dengan pembimbing. Penelitian ? Skripsi mahasiswa sarjana itu “belajar tentang bagaimana meneliti yang benar”. Kemampuan dan cara berfikir ilmiah, tentu menjadi syarat utama untuk menghasilkan penelitian yang baik dan standar sesuai yang ditentukan oleh Universitas. Hubungan dengan pembimbing ? Tolong jangan diartikan harus cari muka di depan dosen, namun lebih kepada antusias diskusi, kemauan berfikir dan semangat. Dosen itu juga dahulunya pernah menjadi mahasiswa, pastinya mereka pernah berada di posisi mahasiswa yang menghadap untuk skripsi.

Kenapa harus antusias ? Mari posisikan diri kita, mahasiswa, jika kita menjadi pengajar. Tentu sangat menyenangkan jika siswa kita sungguh bersemangat. Antusiasme itu akan membuka keinginan belajar dan belajar akan membuat kita pandai. Saya tidak sedang membuat klise, tapi ini benar adanya. Pencapaian kebahagiaan pengajar itu akan membawa beliau membimbing dengan lebih baik, saya yakin. Di sisi lain, mahasiswa akan mendapatkan arahan yang sesungguhnya. Dan dari situlah, efektifitas kinerja skripsi berjalan baik dan akan membawa mahasiswa lulus tepat waktu. Ya, itu adalah harapan semua mahasiswa.

Lalu apakah saya tidak memiliki masalah ketika skripsi ? Ya tentu saja ada, bejibun malah. Tapi saya sadar, masalah yang ada tidak seharusnya membuat kita berhenti. Namanya belajar, kesulitan itu seyogyanya sudah menjadi seperti ujian untuk dihadapi. Sedikit pesan moral yang saya pegang waktu itu adalah “selama masih bisa maju, walau selangkah dua langkah, saya harus terus memberikan progress tiap harinya”.

Dukungan keluarga, sahabat, teman atau kekasih tentu saja menjadi faktor yang penting. Faktor eksternal ini terkadang menjadi kunci pula dari kekuatan untuk segera menyelesaikan studi. Akan tetapi, sekali lagi, kunci keberhasilan ada pada diri mahasiswa itu sendiri bukan pembimbing, bukan sahabat, teman atau keluarga.

Nantinya adik-adik yang masih mengejar gelar sarjana akan sadar jika melanjutkan studi ke jenjang master atau doktor, bahwa kondisi ketika skripsi itu akan terulang. Masih dengan skema 50 :50 antara penelitian dan pembimbingan. So, be brave and be a diligent student, that will make you all a great future leader and inspiration !

Sumber gambar : http://www.beritajakarta.com/

Riza-Arief Putranto, 26 Mei 2013. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s