ARTI KATA SIBUK

Beware the barrenness of a busy life. – Socrates

Apa yang ada di benak pembaca ketika mendengar seseorang mengucapkan “maaf, saya sibuk”? Mungkin beliau benar-benar sibuk, atau tidak ? Menurut saya, kata “sibuk” itu memiliki makna yang beragam. Makna yang hanya ditangkap dan dipahami oleh lawan bicara. Saya ingin menggaris bawahi dua makna yang paling sering dipakai sehari-hari, yakni makna negatif dan positif dari kata “sibuk”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “sibuk” dapat didefinisikan sebagai “banyak yang dikerjakan” atau “penuh dengan kegiatan”. Definisi kata “sibuk” sendiri terdengar positif, namun dalam prakteknya kita sering menggunakan kata tersebut untuk mengemukakan alasan. “Maaf, saya sedang sibuk, jadi tidak bisa datang ke pesta ulang tahunmu”. “Kesibukan saya membuat tidak bisa melihat email setiap harinya”. “Minggu ini, saya sungguh luar biasa sibuk, jadi tidak tahu kapan bisa bertemu”. Disini makna kata “sibuk” menjadi negatif : tidak mau diganggu, tidak mau bertemu atau tidak peduli.

Semua kembali kepada masing-masing individu. Seseorang dengan kapasitas multi-tasking yang bagus, pada umumnya mampu mengatur waktu dan kesibukan. “Saya belum bisa melihat pesan anda di meja, tapi setelah makan siang saya akan baca”. “Sedari pagi saya mengambil kuliah, cukup sibuk, tapi sore ini kita bisa bertemu untuk diskusi”. “Saya cukup disibukkan dengan pekerjaan saya, tapi saya pasti sempatkan menjawab pertanyaan anda via sms tadi”. Disini makna kata “sibuk” menjadi positif : harapan, sabar menunggu, empati dan responsif.

Saya duduk satu ruangan dengan seorang peneliti Prancis yang masih muda. Kami sering berdebat hal-hal prinsip tentang riset dan sebagainya, termasuk tentang kata “sibuk”. Dia termasuk seseorang yang sibuk, mengerjakan 3 proyek riset besar sendirian dan masih menerima banyak pertanyaan dari para mahasiswa yang bekerja di lab atau bahkan beberapa rekan peneliti-nya yang memohon arahan via email.

Lalu saya bertanya padanya, “dengan kesibukanmu seperti ini, kenapa kamu tidak pernah bilang sibuk kepada kolegamu di email itu ? Atau kepada kami para mahasiswa ?”. Sambil tersenyum dia menjawab, “Bagiku, jika aku masih bisa menemukan 5 menit waktuku untuk membalas email, membantu mahasiswa di sela pekerjaan utamaku, sebenarnya aku belum sibuk”. Dia tidak percaya betapapun sibuknya seseorang untuk tidak menemukan waktu 5 menit membantu orang lain.

Saya sungguh terkejut. Apa yang dia ucapkan menohok saya. Benar sekali, terkadang kita terlalu mudah berujar “sibuk”, padahal sesungguhnya kesibukan itu lebih bermakna bagaimana manajemen waktu. Terkadang kita lupa dan mengkambing-hitamkan kata “sibuk” untuk dijadikan alasan.

Pertanyaan untuk kita semua hari ini, sudahkah kita menemukan waktu 5 menit itu ?

Sumber gambar : http://www.clipsoflogic.com/

Riza-Arief Putranto, 13 Juni 2013. Sibuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s