MANUSIA, MAKHLUK SOSIAL YANG BERTEPUK TANGAN

Jika suatu saat anda mendapat tepuk tangan riuh dari para hadirin setelah presentasi namun sesungguhnya anda merasa tidak maksimal, jangan terlalu berbangga hati. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa respon penonton lebih berkaitan dengan hadirin lain yang duduk di kursi dibanding pembicara yang berada di atas panggung.

Tepuk tangan itu seperti pandemi. Dimulai dari beberapa individu dan bersambung hingga semakin banyak orang tertular hasrat bertepuk tangan. Saat tepuk tangan usai, pandemi itu hilang pula. Namun para peneliti tidak sepenuhnya memahami dinamika yang terjadi di antara para penonton.

Menurut tim peneliti dalam bidang matematika di Universitas Uppsala, Swedia menyatakan bahwa tepuk tangan, ternyata, seperti tekanan sosial. Seseorang akan mulai bertepuk tangan jika sebagian besar penonton memulai. Jika 50% dari penonton bertepuk tangan, seseorang akan mudah tertarik untuk bertepuk tangan dibandingkan jika hanya 5% dari penonton bertepuk tangan. Seseorang pun berhenti bertepuk tangan dengan alasan yang sama.

Penemuan lain, yaitu bahwa seseorang memutuskan untuk memulai atau berhenti bertepuk tangan tidak didasarkan pada apa yang mereka lihat, namun lebih kepada apa yang mereka dengar. Anda tidak harus menyaksikan para penonton bertepuk tangan untuk juga kemudian ikut. Anda hanya perlu mendengar suara tepuk tangan.

Yang lebih menarik, bahwasanya tepuk tangan untuk presentasi yang buruk berdurasi sama dengan presentasi yang baik. Kita harus pandai menafsirkan baik tidaknya sebuah presentasi dan itu tidak tergantung pada banyak tidaknya tepuk tangan.

Hasil penelitian ini sungguh menarik, karena ini adalah cara unik untuk mengukur proses dinamis manusia. Tepuk tangan adalah perilaku unik yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Tepuk tangan dalam sebuah presentasi dapat berarti bentuk penghargaan atas pembicara yang memberikan materi terlepas baik buruknya. Manusia memang memiliki apa yang dinamakan “great compassion”, sifat menghargai orang.

Jadi ingatlah, ketika nanti anda bertepuk tangan, apa yang mendasari anda melakukan itu.

Bacaan lebih lanjut : Mann et al., 2013. The Dynamics of Audience Applause. J. R. Soc. Interface 10(85): 1742-5662

Sumber gambar : http://3.bp.blogspot.com/

Riza-Arief Putranto, 1 Agustus 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s