PEMBIMBING KILLER

Pertama-tama, maafkan saya atas penggunaan judul yang bermakna baik dan buruk dalam waktu bersamaan. Maafkan saya juga karena mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan tidak semestinya. Pembimbing killer ? Saya kira sudah jelas. Siapa diantara mahasiswa dan pelajar yang tidak pernah mendengar istilah seperti ini ? Pembimbing killer adalah teman dari dosen killer, guru killer dan sebangsanya.

Dahulu ketika zaman saya masih berstatus mahasiswa kampus biru, obrolan rekan-rekan tidak jauh dari hal itu. Entah kenapa si Bapak X tidak memberikan nilai A atau si Ibu Y tidak mau menerima permintaan maaf karena bolos kelas. Bahkan kadang radikal, seperti si Dosen Z tiba-tiba marah di kelas tanpa ada alasan yang jelas, sang mahasiswa jadi kena getahnya.

Sebagai mahasiswa, tentu memandang itu searah saja, yaitu kenapa dosen begini dan begitu. Saya balik sekarang, sebagai dosen, tentu memandang itu juga searah, yaitu kenapa mahasiswa begini dan begitu. Semua berasal dari asumsi. Mahasiswa seusai dimarahi dosen akan menganggap dosen itu killer. Dosen seusai memarahi mahasiswa menganggap anak itu malas. Tapi, ini juga bukan generalisasi, kasus per kasus. Bagaimana dengan pembimbing ? Pembaca sedang lanjut sekolah ? S2? S3? Selamat datang di kancah dunia perbimbingan. Logikanya sama kok, semua tentang asumsi.

Seorang rekan seperjuangan S3 sore tadi mendatangi ruangan saya. Di tengah asyiknya saya berkerut dan berpikir, dia ingin mengungkapkan sesuatu. Diskusi ringan itu menjadi sebuah pembicaraan yang lumayan berbobot. Sedari pagi, dia memang sedang dalam tekanan. Deadline paper, deadline lain-lain, memang membuat konsentrasi yang bersangkutan hilang. Sang pembimbing memang sedang ber-baterai alkaline, luar biasa performanya dalam tekan menekan. Atau, maaf, saya ganti kata menekan, menjadi tegas menegaskan. Alhasil diskusi pagi tadi memang penuh ketegasan.

Saya ajak sang rekan keluar gedung dan berbincang di bawah pohon. Saya menunggu sebuah kosa kata keluar, yaitu “pembimbing killer”. Dia menutup rapat mulutnya namun matanya mengatakan killer itu. Saya kemudian bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia akhirnya menjawab, “Jika pembimbingku tidak melakukan apa yang dia lakukan tadi pagi, mengartikan bahwa dia tidak peduli padaku kan ya ?”. Saya tersenyum saja.

Diskusi yang boleh dikatakan curcol itu berakhir cepat. Saya harus segera mengejar giliran untuk diskusi dengan sang pembimbing pada sore hari. Semua berjalan lancar untuk saya, alhamdulillah. Mungkin baterai sang pembimbing sudah turun daya. Di akhir pertemuan, beliau berceletuk, “Saya khawatir dengan rekanmu. Semoga dia baik-baik saja. Saya terpaksa melakukan apa yang harus saya lakukan pagi tadi. Saya ingin dia berhasil”. Saya tersenyum kembali dan sadar bahwa everyone has its own method.

Pembimbing killer dan semua killer-killer yang lain sepertinya hanyalah asumsi. Sebaliknya malah sebagai yang dibimbing kita perlu bertanya jikalau sang pembimbing tidak memperdulikan kita. No killer, but no success. Akhir kata, seperti Benjamin Franklin berujar dalam bukunya “The Way of Wealth”: there is no gain without pain.

Sumber gambar: http://www.shutterstock.com

Riza-Arief Putranto, 27 Agustus 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s