YANG MENJADI DASAR DARI SEBUAH HUBUNGAN PERTEMANAN

Manusia adalah makhluk sosial. Entah sudah berapa kali kita semua mendengar kalimat tersebut. Satu sama lain, manusia membentuk jejaring, berkomunikasi dan bertukar kata. Bukti nyata terlihat dari larisnya jejaring sosial (blog, Twitter, Facebook, MySpace, Tumblr, dkk) di dunia maya. Sepuluh tahun yang lalu, hubungan pertemanan dijalin melalui kontak fisik seperti jabat tangan, bahasa tubuh dan komunikasi verbal. Saya menyebutnya “hubungan pertemanan nyata”. Namun saat ini, kemajuan teknologi membuat hubungan pertemanan dapat diinisiasi melalui email atau jejaring sosial yang saya sebutkan diatas. Hal tersebut saya sebut “hubungan pertemanan maya”. Jika kemudian seseorang bertemu, maka hubungan pertemanan tersebut menjadi nyata.

Kenapa saya mengatakan demikian ? Karena berbeda dengan hubungan keluarga yang diikat oleh hubungan darah dan sifat genetis, hubungan pertemanan didasarkan kepada kepercayaan dan kejujuran. Dua hal yang abstrak dan sulit untuk diukur. Hubungan pertemanan dapat terbentuk karena kondisi atau keadaan yang sama dari dua pribadi atau lebih, seperti sama-sama menerima beasiswa, sama-sama berada di ruang kursus bahasa, sama-sama satu kelas di sekolah hingga sama-sama sekolah ke luar negeri dan menuju negara yang sama. Persamaan nasib tersebut membuat masing-masing individu berusaha untuk menciptakan rasa percaya satu sama lain.

Kenyataannya, proses tersebut kadang tidak berjalan mulus seiring manusia yang memiliki kecenderungan “dekat ketika membutuhkan”. Tidak perlu dipungkiri, sifat ini lebih dikenal dengan sifat egois. Pada satu beberapa kasus, saya menyaksikan sendiri hal tersebut terjadi. Seorang teman A mengucapkan informasi X kepada seorang teman B yang ternyata informasi tersebut adalah Y bukan X. Alhasil teman B merasa dikecewakan oleh teman A, yang kemungkinan besar tidak sadar telah tidak jujur kepada teman B.

Friksi dalam hubungan pertemanan itu wajar adanya. Yang perlu dipahami adalah masing-masing individu memiliki pola pikir yang tidak sama. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk menyukai orang tersebut hanya karena senasib. Yang pasti, seseorang sebaiknya memilih hubungan pertemanan karena dia nyaman bukan karena keterpaksaan.

Pandai menghargai satu sama lain, seperti filosofi pohon di pekarangan. Jika pohon-pohon saja membutuhkan jarak tanam agar tidak saling berebut nutrisi, maka manusia juga memerlukan toleransi dari yang lain agar dapat hidup selaras beriringan. Semoga kita semua diberikan kesadaran untuk selalu menghargai teman sendiri dan selalu mengedepankan kejujuran.

Sumber gambar: http://zaldym.files.wordpress.com

Riza-Arief Putranto, 11 September 2013. Untuk seorang sahabat yang sedang murung.

3 thoughts on “YANG MENJADI DASAR DARI SEBUAH HUBUNGAN PERTEMANAN

    • Betul, pada taraf tertentu wajar adanya, tapi jika sudah berlebihan, patut dievaluasi kembali “proposal” hubungan pertemanan itu🙂

  1. saling mengingatkanlah dalam hal kebaikan.
    teman yang baik saling mengingatkan jika temannya salah.
    begitu yang sering saya dengar. tapi ketika mengingatkan teman ttg kesalahannya (diomongkan pelan2 agar tak sakit hati), ternyata malah dapat makian dan tak mau lagi berteman. apa pertemanan sekarang ini lebih cenderung ke Mind your own business?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s