SEMUA YANG BESAR BERASAL DARI SESUATU YANG KECIL

Si tes résultats ne sont pas à la hauteur de tes espérances, dit toi que le grand chêne aussi, un jour, était un gland.

Peribahasa diatas merupakan peribahasa yang menurut saya dapat menggambarkan apa yang sedang dirasakan pada pelajar yang berjuang. Pelajar yang dimaksud saya disini adalah semua pelajar, baik yang baru saja memulai kehidupan perkuliahan di Universitas di Indonesia hingga mereka yang lagi berjuang untuk lulus di luar negeri. Saya menerjemahkan peribahasa diatas dalam bahasa Indonesia : “Jika apa yang kamu capai tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, ingatkan diri bahwa pohon besar dahulu berasal dari biji.”

Beberapa hari ini, entah dari mana, saya mendapatkan banyak friend invitations di socmed. Ketika saya melihat lebih detil sebagian besar dari mereka adalah adik-adik yang baru masuk kuliah. Setelah saya mengkonfirmasi, beberapa diantara mereka mengontak saya via private message. Dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, saya mensitir beberapa kalimat menarik seperti “kagum dengan keberadaan saya di Prancis”, “bercita-cita ingin meneruskan sekolah ke LN”, “apakah saya yang kecil ini bisa seperti kakak”. Untuk kalimat pertama dan kedua, saya cukup yakin banyak jalan untuk mencapai tujuan itu (sekolah ke LN). Zaman sekarang, banyak sekali model beasiswa dalam negeri dan luar negeri yang ditawarkan dan bisa menjadi opsi untuk mereka yang berniat melanjutkan studi. Namun, saya tertarik pada kalimat terakhir tentang “kecilnya seseorang”.

Kalimat tersebut membuat saya berfikir dan melihat kilas balik pada diri sendiri. Saya dahulu juga “kecil” dan minim pengetahuan, hingga hari ini pun masih terus berusaha dan belajar. Tidak pernah terbersit di benak saya, bahwa suatu hari saya akan mengenyam pendidikan di LN. Namun, ternyata saya bisa, setelah sekian puluh kali pengajuan beasiswa ke beberapa negara yang berbeda. Rasa patah hati dan hampir menyerah tentu pernah pula saya rasakan. Itu wajar adanya. Saya sadar, melihat pula pengalaman teman-teman yang lain, bahwa yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan itu sebuah sifat yang dinamakan “kegigihan”. Kegigihan ini malahan digambarkan di dalam film nasional “Negeri Lima Menara” yang terkenal dengan ungkapan Man Jadda Wa Jadda itu. Tapi tentu saja, gigih disini dengan cara yang benar dan tidak menghalalkan hal-hal negatif.

Saya berujar kepada mereka yang bertanya bahwa suatu hari nanti mereka juga pasti jadi “besar”. Semua itu hanya masalah waktu dan proses. Jika hasil hari ini belum bisa membuat pribadi yakin akan masa depan yang baik, seyogyanya jangan berhenti berusaha. Jika hasil penelitian laboratorium untuk skripsi perlu diulang, belum tentu hasil akhir skripsinya akan buruk. Berbicara dan menuliskan kalimat-kalimat tersebut memang mudah, melaksanakannya tentu saja tidak sederhana. Namun, saya cukup yakin masing-masing pribadi pasti memiliki cara unik untuk mengatasi masalah dan hambatan.

Zaman saya dulu tidak ada yang namanya “galau” dan hanya ada “cemas”. Jadi, jika anak muda zaman sekarang menggunakan istilah “galau” bolehlah saya mengutip : “Jangan jadikan kegalauan itu sebagai alasan untuk berhenti, sesungguhnya itu hanyalah dalih belaka”.

Keep on believing, karena pohon yang besar dahulu awalnya dari biji.

Sumber gambar : http://www.francishamel.com/

Riza-Arief Putranto, 15 Oktober 2013.

2 thoughts on “SEMUA YANG BESAR BERASAL DARI SESUATU YANG KECIL

  1. Hahahhaa…cuma membayangkan nih mas (aku). Kalo bijinya aja segini gede *nunjuk diri sendiri*, pohon apa ya kira-kira yang cocok dijadiin “ibarat”?🙂 #just a joke
    #nice share monsieur!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s