MENGHARGAI KETIKA KEHILANGAN

Hari Senin kemarin saya pulang cukup larut dari laboratorium dan berniat untuk mandi air hangat. Ternyata air di gedung saya sedang mati. Saya mencoba memastikan kepada tetangga yang ternyata mengalami nasib yang sama. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini ketiga kali-nya saja air mati dan saya berfikir pasti tidak akan lama seperti sebelum-sebelumnya. Ternyata hingga hari Jumat, air tersebut tak kunjung datang. Praktis, saya menjadi kesusahan.

Apartemen saya sama seperti layaknya apartemen pada umumnya di Prancis yang bergantung pada saluran air dari perusahaan PDAM bernama « EauFrance ». Tidak ada sumur. Itulah yang membuat saya berfikir betapa fleksibel hidup di Indonesia. Saya yang tinggal di pinggiran kota Yogyakarta masih mengandalkan air sumur yang bisa ditimba secara manual. Mati pompa atau listrik, tidak masalah.

Pagi tadi, saya berusaha untuk mengajukan keluhan kepada bagian pengurus gedung yang ternyata sedang tidak di tempat. Saya terpaksa menelpon beliau karena masalah ini dapat dikategorikan sebagai « urgence ». Bagi beliau masalah air ini seharusnya sudah selesai sejak Rabu kemarin. Beliau menceritakan tentang kebocoran pipa bawah tanah yang sudah diperbaiki oleh perusahaan tersebut. Saya tetap bersikukuh agar beliau datang dan melihat sendiri bahwa masalah air di gedung saya belum diselesaikan.

Sang pengurus, yaitu seorang wanita paruh baya tersebut datang dengan membawa semacam besi linggis. Besi tersebut adalah tonggak yang ujungnya berupa baut yang dapat digunakan untuk memutar tuas pipa air yang ditanam di bawah tanah. Mendadak menjadi tukang ledeng dadakan, kami berdua berusaha memutar tuas dan berharap air keluar dari keran di apartemen saya. Otomatis salah satu dari kami harus naik ke lantai 3 dan mengabarkan. Saya kemudian naik. Namun setelah beberapa kali memutar 4 tuas yang berbeda, kami tetap tidak dapat menyelesaikan masalah.

Ibu pengurus kemudian menelpon perusahan air tersebut. Alangkah malangnya, mereka baru bisa datang hari Senin karena minggu ini adalah periode liburan sekolah di Prancis. Ditambah, Ibu pengurus tidak akan masuk ke sekretariat hari itu karena beliau juga libur. Ini adalah satu dari sedikit hal yang saya tidak sukai dari Prancis. Ketika kita terjepit sebuah masalah yang dapat dikatakan penting, orang yang dapat membantu kita malah berlibur. Kalau boleh saya katakan, inilah nasib.

Apa boleh dikata, saya akan berusaha mengatasi masalah ini dengan berkelana ke rumah rekan-rekan yang lain untuk sekedar mandi dan mencuci piring. Lain kali saya harus lebih siap lagi, meskipun sangat jarang hal seperti ini terjadi di negara Paman Napoleon ini. Dan, saya akan mencoba untuk lebih menghargai air.

“Kita baru akan menghargai sesuatu ketika sudah kehilangan”.

Sumber gambar : www.lillemetropole.fr

Riza-Arief Putranto, 24 Oktober 2013.

2 thoughts on “MENGHARGAI KETIKA KEHILANGAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s