JANJI ITU AKAN DIUJI

When you were young, you feel if something bad happens the world was ended, but it is not.

Seorang pria berusia kepala tiga mengucapkan kalimat tersebut kepada seorang gadis. Rasa penasaran pria yang tengah menikmati jalan santai di malam hari tersebut membuatnya berhenti ketika melihat seorang gadis remaja menangis di tepi jalan. Gadis tersebut tengah mengalami putus cinta. Setelah menenangkan dan membujuk sang gadis untuk segera pulang, sang pria mulai terdiam. Pikirannya melayang kepada beberapa tahun silam saat dia mengucapkan janji suci kepada wanita yang sekarang menjadi istrinya.

Janji tersebut merupakan komitmen yang diawali dengan menjabat erat tangan sang calon besan dan mengucapkan “saya terima nikahnya…”. Janji yang mungkin bagi sebagian orang terkesan biasa, karena selalu dilakukan dalam setiap adat suci tersebut. Janji yang bahkan sebagian orang tidak mau mengingat kalimat berbobot tersebut dan menggunakan kertas sebagai alat bantu untuk membaca. Menerima uluran tangan seorang anak gadis yang diberikan oleh orang tua kepada tangan pria tersebut, mengingatkannya kepada janji sehidup semati. Janji yang sering kita lihat dalam banyak film dan diterjemahkan secara lugas menjadi “…dalam suka dan duka”.

Kehidupan setelah menerima janji tersebut dan saling berkomitmen sering identik dengan yang namanya “hidup baru”. Itulah sebabnya kita melihat ucapan dalam rangkaian karangan bunga bertuliskan “Selamat menempuh hidup baru”.

Bagi sebagian orang, janji tersebut seolah tak berarti. Bagi sebagian yang lain, janji tersebut akan diuji, cepat atau lambat. Siapkah kita jika janji tersebut diuji ? Dalam suka dan duka ? Pria tersebut memalingkan muka. Sungai yang mengalir deras tersebut tidak meruntuhkan lamunannya. Udara di musim dingin ini tidak menaikkan bulu kuduknya. Dia terus menatap jajaran pepohonan yang berada di depannya, sembari nikmat duduk bersila diatas sebuah batu.

Tiga pekan terakhir bukanlah kondisi yang baik bagi pria tersebut. Emosi, asumsi hingga semangat hidupnya dipertaruhkan, ketika sang belahan jiwa sedang diuji. Ujian tersebut adalah ujian dia pula. Ujian tersebut merupakan ujian bersama. Pria tersebut sadar bahwa disinilah makna sebenarnya dari kalimat “…dalam suka dan duka”. Tingkat kesukarannya melebihi apa yang dialami gadis muda yang putus cinta tadi.

Tidak seorang pun sahabat yang mengetahui kondisi sesungguhnya dari sang pria. Pria tersebut sadar bahwa kalimat yang terucap tidak akan mampu mengisyaratkan perasaan dalam hati. Mendapatkan ujian merupakan tahapan pertama yang mengejutkan. Menganalisanya merupakan tahapan kedua. Menerimanya merupakan tahapan lanjut dan paling sukar.

Udara semakin dingin dan pria tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali kepada hangatnya kamar. Sebuah renungan kecil untuk pribadi yang sedang goyah. Hanya waktu yang bisa menjawabnya dan hanya waktu yang bisa menyembuhkannya. Yang pasti pria tersebut tidak akan tinggal diam.

Tulisan ini diedikasikan untuk sang pria tersebut.

Sumber gambar : http://goodpromise.files.wordpress.com/

Riza-Arief Putranto, 4 Desember 2013.

3 thoughts on “JANJI ITU AKAN DIUJI

    • Makasih Sanka support-nya untukku. Tapi ini artikel tentang pria lain, nanti semangatnya kusampaikan untuk dia juga. Cheers😉

  1. Pingback: CIUM BALAS DENGAN CIUM | Chez Putranto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s