HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Saya termasuk seseorang yang percaya akan adanya keseimbangan dalam alam semesta ini. Kita mengenal materi dan anti materi, elektron dan proton, yin dan yang, baik dan buruk, sedih dan senang. Habis gelap terbitlah terang. Dibalik kesusahan ada kebaikan. Dua peribahasa tersebut cukup menggambarkan akan sungguh adanya keseimbangan tersebut.

Semenjak saya lulus sarjana dari Fakultas Biologi UGM, hidup saya banyak berubah. Saya teringat sepeda motor butut Suzuki Shogun ’96 yang saya gunakan selama kuliah dan terkadang harus bergantian dengan adik saya. Saya masih teringat betapa susahnya memiliki uang saku hanya 100 ribu per bulan-nya, kos murah di daerah Klebengan, PS mania, hingga berhutang di warung indomie telor. Ada pula kesulitan memalukan berpacaran tanpa modal hingga menginap di rental komputer untuk menyelesaikan skripsi.

Kemudian saya diterima kerja di sebuah lembaga penelitian berstatus swasta di kota hujan. Mulai dari kos di wilayah gang sempit di daerah Barangsiang hingga saya akhirnya berkesempatan mengenyam pendidikan di Prancis. Tahun pertama di Montpellier saya lewati penuh dengan jurang terjal. Hambatan bahasa, perbedaan budaya hingga adaptasi cuaca membuat segalanya terasa tidak mungkin. Tak terasa 5 tahun telah berlalu dan saya masih di Prancis, baik-baik saja.

Kadang kita mengira hidup akan secara progresif membaik tanpa pernah berfikir akan resiko regresif yang selalu ada. Segala bentuk cobaan akan menguji keyakinan kita akan hidup yang lebih baik itu. Mulai dari kehilangan materi, anggota keluarga, sahabat hingga kesulitan dalam pekerjaan atau studi. Semua itu kadang membutakan kita dan tidak lagi melihat jauh ke belakang atau ke depan.

Hidup itu tiada yang statis. Dengan daya dan upaya, kita pasti sanggup untuk beranjak dari kondisi kurang menyenangkan menuju kondisi menyenangkan. Semua memang tergantung pada pribadi masing-masing.

Paragraf-paragraf diatas adalah jawaban saya kepada seorang sahabat yang sedang dirundung kegalauan. Banyaknya kesulitan, sakit hingga semuanya membuatnya putus asa. Mungkin apa yang saya ungkapkan bisa saja salah, akan tetapi hidup mengajarkan demikian kepada saya. Sahabat tersebut hanya tersenyum simpul dan berharap saya bercerita lebih. Namun hari sudah semakin larut dan udara semakin dingin. Setidaknya segelas kopi hangat dapat mengakhiri diskusi malam ini.

“Teruslah menjadi orang yang percaya bahwa masa depan dapat berubah…”

Sumber gambar : http://fc00.deviantart.net/

Riza-Arief Putranto, 9 Desember 2013.

3 thoughts on “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

  1. Pingback: CIUM BALAS DENGAN CIUM | Chez Putranto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s