CIUM BALAS DENGAN CIUM

Siang ini saya menemani ibunda dan istri untuk menonton sebuah film Indonesia berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa”. Film tersebut diadopsi dari sebuah novel karya Hanum Salsabiela Rais mengenai pengalamannya menemani sang suami Rangga Mahendra menjalani studi S3 di Wiena, Austria.

Singkat cerita, film tersebut menggambarkan perbedaan budaya Eropa dan Timur terutama yang terkait dengan agama. Kesulitan-kesulitan yang dialami Hanum dan Rangga sungguh segar diingatan, pernah saya, istri saya dan mungkin rekan-rekan seperjuangan di Eropa alami. Yang menarik dari film tersebut adalah sebuah adegan ketika Hanum dan sahabatnya dari Turki, Patma sedang makan di sebuah café. Dua orang turis menghina mereka dan agama mereka. Alih-alih marah, Patma malah membayarkan makanan mereka sembari memberikan catatan kecil (beserta alamat emailnya) bahwa dia tidak marah karena hinaan tersebut. Alhasil, beberapa minggu kemudian, dua turis tersebut menulis email kepada Patma (cc kepada Hanum) bahwa mereka meminta maaf atas kelakuan buruk mereka.

Ingatan saya kembali ke beberapa minggu silam saat saya sedang terpuruk karena sebuah masalah. Rasanya dunia ini berakhir dan saya ingin mengutuk mereka yang tega memberikan kepada saya penderitaan itu. Bisa saja saya marah tak terhingga dengan emosi tak berkesudahan, namun entah kenapa tidak terjadi. Yang saya lakukan malah mencoba mengusir emosi dengan mencoba menolong siapapun yang memerlukan, meskipun itu hanya hal kecil. Membantu mencarikan kacamata seorang wanita setengah baya, memberikan dukungan kepada seorang gadis patah hati, membesarkan hati seorang tetangga apartemen yang sedang bersedih, mengantar seorang sahabat berbelanja adalah sebagian kegiatan itu.

Semua kegiatan tersebut terjadi secara alami, seperti seolah sudah digariskan demikian adanya. Jika dihubung-hubungkan dengan segala kegiatan saya setelah itu, seolah semua berjalan lancar. Hasil dari eksperimen di laboratorium, perencanaan akhir dari tesis, manuskrip, hingga sidang akhir adalah beberapa hal yang dapat dipastikan sebelum tahun ini berakhir. Mungkin ini yang dinamakan “menuai apa yang ditanam”. Mungkin ceritanya akan lain jika saya memutuskan untuk menebar angkara murka waktu itu. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

Saya juga kemudian menyadari bahwa ternyata manusia itu lebih memiliki refleks untuk membalas kebaikan dengan kebaikan, dibanding keburukan dengan keburukan. Jika saya mengandaikan kebaikan dengan ciuman dan keburukan dengan tamparan, maka ciuman akan dibalas dengan ciuman dan tamparan akan dibalas dengan tamparan. Mari kita bayangkan yang kedua, apakah tidak lelah jika setiap kali kita harus saling menampar ? Menampar berujung pada rasa sakit di pipi dan di hati. Sementara ciuman akan berakhir pada rasa senang dan bahagia.

Sebuah film sederhana, yang saya tonton bersama ibunda dan istri tercinta mengajarkan banyak. Bisa jadi saya cukup lebay dalam menceritakannya, tapi inilah yang saya rasakan. Belum cukup hari ini berakhir, saya harus bersyukur kembali telah menjalankan kehidupan berkeluarga bersama seorang istri. Hari ini tepat tiga tahun yang lalu, saya memutuskan meminang seorang gadis yang saya temui di Eropa. Introspeksi diri, tiada kado yang lebih indah untuk mendewasakan pribadi yang masih harus banyak belajar ini.

Sumber gambar : http://jwatersdesigns.com/

Riza-Arief Putranto, 26 Desember 2013.

2 thoughts on “CIUM BALAS DENGAN CIUM

    • Betul, sepertinya memang cocok. Makasih Arie sudah mampir dan sudah memberikan link berguna pula. Selamat berlibur akhir tahun😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s