JANGAN LUPA UNTUK MENENGOK KE BAWAH

Ketika seseorang berada di ketinggian, hal yang paling tidak ingin dia lakukan adalah menengok ke bawah. Hal tersebut bisa disebabkan karena dia takut ketinggian atau karena memang tidak ingin lagi memandang ke bawah. Tiga belas tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa kampus biru, angkringan (warung koboi) adalah tempat favorit untuk nongkrong. Tentu saja dikarenakan harganya yang sangat terjangkau untuk kantong mahasiswa dan juga kemudahan berjual beli (red. mudah berhutang).

Seiring berjalannya waktu dan kehidupan yang tidak statis, status keuangan, pergaulan sosial dan karir mengalami perubahan. Angkringan tidak lagi menjadi tempat favorit sejak saat itu. Cobalah sebut J.CO, D’Excelso, Starbucks, Coffee Toffee, Sushi Tei, Hanamasha, House of Milk, Paris Bakery merupakan tempat-tempat yang paling sering dikunjungi. Terlebih jika kolega atau partner kerja bersedia merogoh kocek untuk mentraktir, alangkah bahagianya (mental gratisan zaman mahasiswa belum hilang).

Pada awalnya, semua perubahan tersebut amatlah menyenangkan. Terkesan high class begitu. Namun semakin lama, saya berfikir, apakah sebenarnya high class itu? Hanya karena kita memiliki rezeki berlebihkah? Atau karena kita sekarang memangku sebuah jabatan tertentu? Saya masih mencari jawabannya.

Hari ini, saya berkesempatan berangkat sholat Jum’at bersama ayah mertua dan keponakan. Kami sampai di masjid yang masih kosong, hanya terlihat seorang tua renta yang sedang menunggu di depan mimbar khutbah. Ayah mertua saya memperkenalkan saya kepada beliau yang ternyata adalah imam dan khotib untuk ibadah hari ini. “Ini anak menantu saya yang sekolah di Prancis”, begitu ayah mertua memperkenalkan. “Oh, alhamdulillah nak, kudu bersyukur, itu kesempatan langka”, orang tua tersebut menimpali. “Saya tidak pernah berkesempatan bisa ke luar negeri, tak pernah pula bermimpi seperti anak muda zaman sekarang. Mimpi saya dulu melihat anak saya diterima di sebuah kantor pemerintah dan memiliki keluarga shakinah saja. Alhamdulillah itu sudah terwujud”.

Mendengar cerita dari bapak tersebut saya semakin penasaran dan mencoba memancing pembicaraan tentang pengalaman hidup beliau. “Yang paling penting bagi saya nak, yaitu jangan lupa untuk menengok ke bawah ketika sedang diatas. Baik diatas genteng, diatas ranjang, diatas kursi ataupun diatas gedung”, ujar beliau selanjutnya. “Kenapa pak?”, saya menimpali penuh rasa penasaran. “Ya untuk mengingatkan kita seberapa jauh kita dari tanah nak. Ketika kamu melihat ke bawah dari sebuah kursi, tentu kamu tidak takut jatuh. Tapi ketika kamu berada diatas gedung, ingatlah bahwa jatuh itu sakit dan kamu akan menghargai rasanya berada di bawah. Jangan sampai lupa diri. Sesungguhnya hidup itu mudah berbolak-balik”, lanjut beliau.

Saya bersyukur bertemu beliau. Dialog singkat tersebut kemungkinan adalah khutbah terbaik yang pernah saya dengar. Semua itu terjadi di hari Jum’at yang mulia. Mari jangan lupa untuk terus bersyukur dan terus menginjak bumi.

Sumber gambar: http://8020.photos.jpgmag.com/

Riza-Arief Putranto, 3 Januari 2014.

2 thoughts on “JANGAN LUPA UNTUK MENENGOK KE BAWAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s