DIBALIK KEDATANGAN ADA KEPERGIAN

Adakah diantara pembaca yang tidak pernah mengalami kesedihan ketika bepergian ? Ataukah justru selalu merasa bahagia ketika bepergian, terutama jika bepergian ke luar negeri ?  Setiap individu yang bepergian akan melakukan dua hal bersamaan yaitu “meninggalkan” dan “mendatangi”. Dua hal tersebut umum adanya dalam sebuah perjalanan.

Mungkin yang tidak kita sadari ketika bepergian adalah akibat dari hal “meninggalkan” dan “mendatangi” tersebut. Sudah barang tentu kita meninggalkan keluarga, sahabat, teman, kolega dsb ketika bepergian. Juga, kita mendatangi keluarga, sahabat, dan teman di tempat yang baru. Pihak yang ditinggalkan tentu saja merasakan kesedihan. Sebagian orang tidak sadar akan hal ini.  Pihak yang didatangi pada umumnya merasakan kebahagiaan. Mereka yang mendatangi sebagian besar malah sadar akan hal tersebut.

Kenapa demikian ? Semua berhubungan dengan naluri manusia untuk mengikhlaskan sesuatu. Ikhlas itu abstrak dan tidak dapat diukur dan lumayan sulit untuk dilaksanakan, setidaknya menurut pengalaman saya. Bayangkan seorang istri yang ditinggalkan suami dalam perjalanan dinas. Seorang istri tersebut tentu berat melepas suaminya karena terbiasa “memiliki” sang suami setiap harinya. Itu sama seperti mengambil barang dari sebuah ruangan dan mengosongkannya, dan ketika berteriak yang terdengar hanyalah gema. Sementara sang suami ada dua pilihan. Jika dia sadar, dia akan memikirkan sang istri dan merasa berat untuk pergi tetapi harus dilaksanakan dikarenakan alasan kewajiban. Jika tidak, sang suami akan dengan senang hati melanjutkan perjalanan tanpa rasa bersalah. Semua itu karena dia diliputi rasa senang dan penasaran akan tempat yang dia tuju.

Tidak ada yang harus disalahkan dari ilustrasi yang saya ungkapkan diatas. Yang pasti sebagai manusia yang baik, seyogyanya kita mengingat dibalik kesenangan yang kita temui ada kesedihan nun jauh disana. Ilustrasi tersebut seolah menjelaskan bahwa berat rasanya melepas sesuatu dibanding saat menerima sesuatu. Kita cenderung lupa bersyukur ketika menerima dan malah membesar-besarkan keadaan saat kehilangan.

Karena manusia bukan pohon yang tertanam di tanah, manusia memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi. Mobilitas manusia dilakukan pada dasarnya karena kita tidak ingin statis dalam keadaan tertentu. Sebagai contoh, seseorang merantau karena ingin mengubah nasib hidupnya. Bisa juga, seseorang sering bepergian karena rasa penasaran yang tinggi untuk mengenal dunia baru.

Mobilitas juga merupakan salah satu fenomena yang membuat keadaan seperti LDR (Long Distance Relationship) dan BTGP (Bang Thoyib Ga Pulang-Pulang). Mungkin diantara pembaca ada yang sedang melakukan mobilitas tinggi ? Ingatlah yang ditinggalkan ketika bepergian dan janganlah terlalu senang ketika mendatangi. Semoga bisa membantu untuk mengingatkan kita agar senantiasa bersyukur.

Sumber gambar : http://www.zastavki.com

Riza-Arief Putranto, 20 Januari 2014. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s