HARUSKAH SEORANG PENELITI BERCERITA ?

Semua orang pasti menyukai cerita yang menyenangkan. Kita teringat saat kecil dahulu, ayah dan bunda mendendangkan cerita menjelang kita tidur. Banyak penulis di dunia ini yang menggunakan teknik narasi (bercerita) untuk menyampaikan pesan mereka. Dalam dunia sains, kita memiliki anggapan bahwa peneliti itu kaku dan penelitian itu terlalu sainstifik. Saintifik disini dapat diartikan sebagai rumit. Ketika saya masih mengenyam bangku kuliah dahulu, saya selalu berfikir hal-hal yang rumit itu keren. Sepertinya itu adalah opini yang naif pada saat itu. Kenaifan tersebutlah yang membuat saya akhirnya terjun ke dalam dunia penelitian dan memang saya menyukainya.

Tiga tahun yang lalu, saat saya baru saja memulai studi program doktor, pembimbing saya selalu memberikan nasehat tentang pentingnya memiliki kemampuan bercerita bagi seorang peneliti. “Stereotip bahwa peneliti itu kaku harus diminimalisir”, begitu ujarnya bersemangat. Memang benar, kekakuan peneliti terkadang membuat sulit pesan yang ingin disampaikan. Padahal tujuan dari penelitian tersebut terkadang mulia. Kekakuan peneliti tidak hanya terbatas pada cara berkomunikasi, namun juga pada bahasa tulisan (dalam hal ini adalah publikasi). Seorang peneliti bernama Krzywinski dan Cairo (2013) mengungkapkan pentingnya teknik narasi dengan menyusun cerita dapat membuat penyampaian data penelitian yang lebih baik. Namun, Katz (2013) mengkhawatirkan bahwa teknik narasi dalam publikasi ilmiah akan membawa kepada perspektif yang berlebihan dari hasil penelitian. Yang dimaksud dengan teknik narasi dalam publikasi ilmiah adalah menyusun hasil penelitian sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah cerita. Kemudian, hal tersebut dibumbui dengan judul dan bahasan yang menarik, serta dilengkapi dengan gambar berwarna-warni.

Dalam dunia ideal, peneliti seharusnya menghindari bercerita. Mereka harusnya tetap pada koridornya untuk menyampaikan penelitian sesuai dengan urutannya : hipotesis, detil, pembahasan dan diakhiri dengan kesimpulan. Menurut saya hanya satu masalah yang muncul dengan idealisme semacam ini. Peneliti bukan robot. Peneliti juga manusia yang dinamis dan memiliki kecenderungan kuat untuk bercerita. Terlepas apapun pekerjaan kita, bukankah menyenangkan ketika kita duduk dalam sebuah kafe di sore hari selepas kerja dan bercerita kepada kawan tentang apa yang kita alami dalam satu hari ? Menurut saya menyusun cerita ketika menulis publikasi ilmiah itu penting namun dengan menghindari ekstrapolasi data (mengartikan data secara berlebihan). Menyusun hasil-hasil penelitian agar lebih logis dan menarik bukan hal yang tabu. Bagaimanapun juga sebuah publikasi ilmiah bukanlah kitab latin yang mutlak dan tidak salah. Lalu semua kembali kepada sumpah awal seorang peneliti. Semua tergantung  bagaimana kita memandangnya.

“Peneliti boleh salah namun tidak boleh bohong”.

PS. Bagi yang tertarik membaca artikel asli yang saya sitir, silahkan menghubungi via japri.

Sumber gambar : http://ec.europa.eu//

Riza-Arief Putranto, 29 Januari 2014. 

2 thoughts on “HARUSKAH SEORANG PENELITI BERCERITA ?

    • Kalo seperti novel sepertinya nanti nilai ilmiahnya hilang. Setidaknya dibuat cerita dari semua eksperimen, jadi pembaca diajak logikanya sampai ke kesimpulan😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s