MENGELUH ITU MELENGUH

Sebagai manusia biasa, sudah sewajarnya kita mengeluh. Mengeluh dalam kehidupan sosial dapat berfungsi sebagai penarik simpati orang lain. Mengeluh dapat juga mampu mengingatkan kita akan batas kemampuan dan berusaha untuk lebih baik. Namun, apa yang terjadi jika setiap saat seseorang mengeluh ?

Bagi saya, kata “mengeluh” sendiri bermakna negatif, berasa negatif dan terkesan negatif. Seperti saya ungkapkan diatas, mengeluh itu wajar adanya, tentu saja dalam batas tertentu. Jika seseorang mengeluh terus menerus, seyogyanya, orang tersebut mirip dengan sapi yang tengah melenguh. Apa yang kita lakukan ketika mendengar sapi melenguh ? Kemungkinan besar kita tidak akan peduli, seperti kafilah berlalu atau menengok sebentar lalu kembali lagi.

Sebenarnya darimana mengeluh itu muncul ? Dari pengalaman pribadi saya, mengeluh sebagian besar timbul karena harapan lebih tinggi dari kenyataan. Contoh paling mudah, seseorang yang membayangkan untuk sekolah di luar negeri. Bayangan indahnya kampus dengan bangunan unik, salju di musim dingin hingga indahnya musim semi dengan bunga-bunga berwarna adalah harapan. Kenyataan yang dihadapi terkadang sebaliknya. Di musim dingin, suhu udara yang dingin menusuk kulit dan tulang. Di musim semi, alih-alih menikmati bunga di taman, ujian semester membuat kita harus duduk di kamar dan belajar, jika tidak ingin mendapatkan nilai minimum. Contoh selanjutnya, seseorang yang membayangkan studi di luar negeri itu keren atau berbobot. Bayangan akan serunya kuliah di Eropa dan indahnya kerja kelompok bersama mahasiswa-mahasiswa bule adalah harapan. Kenyataan yang dihadapi adalah bahasa asing yang sukar dimengerti, perbedaan kurikulum dan budaya yang membuat pening, hingga kebiasaan mandiri yang tidak biasa dihadapi. Alih-alih meminjam catatan, mahasiswa bule terkadang tidak berkenan, karena kita dianggap pesaing di kelas.

Itu semua membuat kita harus mengeluh-kah ? Saya rasa tidak. Pertanyaannya dibalik. Bukankah kita yang ingin bersekolah ke luar negeri? Bukankah kita yang menginginkan gelar di luar negeri? Kenapa mengeluh ? Pertanyaan ini harus selalu ditanyakan pada diri sendiri sebelum memutuskan untuk mengambil studi di luar negeri. Perbedaan budaya, kurikulum, cuaca, dan bahasa pengantar itu wajar. Setidaknya kita harus menyadari ini sebelum berangkat.

Menyadari bahwa pribadi sedang mengeluh dan segera berhenti itu baik, bagus malah. Secara sadar, kita segera berubah dari mengeluh menuju tahap mencari solusi. Waktu yang dihabiskan untuk mengeluh sungguh lebih bijak jika digunakan untuk hal positif lain. Mari menjadi pribadi yang minim mengeluh di setiap aktivitas. Lakukan yang terbaik dan hasil yang sempurna adalah bonus.

“Complaining the cow moo”

Sumber gambar : http://thumbs.dreamstime.com/

Riza-Arief Putranto, 31 Januari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s