JANGAN LUPAKAN ALMAMATER

Zaman Dulu 15

Jangan lupakan almamater !”. Sebuah kalimat singkat dengan tanda seru itu, diungkapkan oleh seorang sahabat sesama alumnus Fakultas Biologi UGM, sesaat sebelum saya kembali ke tanah Prancis bulan lalu. Kami bertemu di Batoa (bawah pohon matoa ; sejenis tanaman buah khas Papua) dekat tempat parkir Fakultas Biologi UGM. Batoa ini sendiri dahulu hingga hari ini masih menjadi tempat nongkrong yang pas untuk temen-temen mahasiswa. Obrolan ngalor ngidul tentang masa lalu (saat masih menjadi mahasiswa) hingga masa kini terasa asyik dibawah rindangnya pohon besar ini. Lamunan saya kemudian terbang hingga ke masa awal kuliah.

Sejak SMU, pelajaran biologi dan fisika adalah yang paling menarik minat. Pada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) saat itu saya memilih Fakultas Biologi. Akhirnya saya masuk Fakultas Biologi UGM pada bulan September tahun 2000 atau lebih pamor disebut Angkatan Bionoceng (Biologi Dua Ribu). Tiga belas tahun yang lalu, bersama ratusan teman-teman mahasiswa yang lain, kami memulai perjuangan sebagai pelajar. Wajah culun, celana kombor, rambut gondrong hingga kemeja belah dada adalah gambaran saat itu. Sebagai putra Magelang yang besar di Yogyakarta, saya selalu mendengar bahwa mahasiswi-mahasiswi Biologi itu caem-caem. Saya akui memang benar adanya. Tapi tentu saja, saya yakin bukan itu tujuan mahasiswa lain seperti saya masuk ke Biologi UGM.

Semester demi semester kami (satu angkatan) terjang bersama-sama. Pada awalnya saya ragu dengan pilihan ini (mungkin sama dengan kebanyakan mahasiswa lain), namun siapa menyangka ternyata inilah jalan hidup saya. Padatnya kuliah dan praktikum sudah menjadi sarapan bagi kami semua. Mempelajari ilmu biologi itu seolah melihat hidup itu sendiri. Kita diajarkan untuk menghafal sistematika (aturan pengelompokan dan tata nama spesies), seolah diajarkan pula untuk mengatur rencana hidup. Kita diajarkan mengenal hal yang tak kasat mata seperti mikroba, seolah diajarkan pula agar memperhatikan hal kecil. Kita diajarkan mengenai cara pengambilan sampel, seolah diingatkan bahwa dalam hidup kita tidak bisa memiliki segalanya. Kita diberikan kesempatan berorganisasi ekstrakurikuler, seolah diajarkan bahwa sahabat itu tak ternilai harganya. Kita diberikan ujian pendadaran dengan sekelumit pertanyaan, seolah mengingatkan bahwa hidup itu penuh ujian dan terkadang membuat kita ragu.

Bukan IPK yang menjulang itu yang menjadi kebanggaan. Bukan pula penghargaan yang berjibun. Bukan pula sebuah selempang kain kuning bertuliskan “cumlaude” yang membuat tersenyum namun, waktu tiga tahun delapan bulan yang dihabiskan sebagai masa terbaik dalam hidup. Masa dimana semua seolah menjadi mungkin. Masa dimana akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan kebiologian saya menjadi sebuah karir. Sesuatu yang sebelumnya selalu dipertanyakan orang lain, “kamu yakin mau jadi peneliti?”.

Karir peneliti saya mulai delapan tahun silam. Bekerja di sebuah institut biotekologi di kota hujan, membuat saya bertemu dan bekerja dengan para peneliti berpengalaman dengan jam terbang tinggi. Mengusung semangat masa kuliah dahulu, saya berusaha memberikan yang terbaik. Mulai dari belajar hal baru hingga mempertahankan kebiologian saya. Kali ini, tantangan baru yang saya hadapi adalah meneliti sesuatu yang tidak tampak. Bagi orang biologi, yang tidak tampak ini disebut molekul, dan bidang yang saya tekuni adalah biologi molekuler tanaman. Terkesan ‘wah’ dan rumit. Namun, semakin saya belajar, semakin menyadari bahwa hidup saya belum seperti molekul itu. Mereka berinteraksi dan saling menjalin komunikasi, seperti layaknya sebuah gen dari sudut jauh rantai DNA menekuk dan menempel pada gen lain di sudut dekat. Bahasa kebiologiannya adalah regulasi trans (lengkung jauh). Saya ingin seperti molekul trans tersebut. Saya rindu akan rasa bahagia mengenyam bangku kuliah, yang mengajarkan lagi tentang hidup.

Entah, sudah berapa lama rasa rindu tersebut masih berdegup di sanubari. Hari ini, saya duduk di sebuah ruangan kecil bersama seorang pria yang berambut pirang. Dia adalah peneliti berprestasi namun juga sahabat saya saat ini. Beasiswa ini sudah saya kenyam selama 6 tahun dan menjadi seorang pelajar di negeri keju yang memiliki menara apik itu. Sebuah gelar Master dan sebentar lagi menyelesaikan perjalanan panjang ini dengan sebuah gelar lain adalah doa dan harapan saya.

Saya bersyukur atas semua yang saya peroleh. Mungkin inilah yang ingin teman saya katakan dibawah pohon Batoa itu. “Jangan lupakan almamater” itu bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Bukan untuk memuja berlebihan namun untuk mengingatkan diri. Almamater ini yang membentuk saya menjadi pribadi yang mencintai biologi. Almamater ini pula yang membekali saya dengan semangat untuk terus belajar. Jadi, jangan lupakan almamater kalian !

Riza-Arief Putranto, 7 Februari 2014. 

2 thoughts on “JANGAN LUPAKAN ALMAMATER

  1. Bangku di bawah pohon matoa di kampus kita memang tak terlupakan. Tempat mengerjakan laporan dan curhat. Hihi. Aku juga masih ingat saat bikin tugas wekstuk tentang jambu mete, keliling Jogja nyari daunnya gak ketemu. Untungnya dibawain Riza. Makasiih. Sukses untuk studi dan penelitiannya ya Za, salut!

    • Tentu saja, kampus akan menjadi kenangan yang bisa membuat semangat. Jambu mete memang ga mudah dicari waktu itu. Makasih sudah mampir, dan sukses pula untuk kegiatannya disana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s