HIKMAH DARI SEORANG PEMABUK

Saya dalam perjalanan pulang, sesuai berkunjung ke rumah seorang sahabat. Jalanan sunyi sepi. Tentu saja, karena hari Minggu di Prancis, merupakan hari beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Dalam budaya disini, masyarakat jarang bepergian pada hari yang mereka sebut hari putih (jour blanc) ini. Jam menunjukkan pukul 22.00 dan saya masih menunggu bus menuju Agropolis (kawasan dimana saya tinggal). Di Prancis, sistem transportasi publik hanya bekerja sebanyak 50-60% pada hari putih. Itupun tergantung dimana kita tinggal. Tentu saja di ibukota Paris, intensitas transportasi pada akhir pekan berbeda dengan Montpellier dimana saya berdiam diri. Setelah menunggu selama 30 menit, bus yang saya tunggu pun akhirnya tiba.

Bersama dengan pria dan wanita berambut pirang, saya menaiki bus. Saya duduk di kursi paling belakang. Selang waktu berapa lama kemudian, seorang pria tinggi besar memasuki bus. Dia bernegosiasi dengan sang supir. Sepertinya meminta kemurahan hati sang supir agar mengizinkan dia naik tanpa membayar. Semua orang yang tinggal di Montpellier tahu bahwa tidak memiliki kartu TAM (kartu transport kota) berarti membayar denda sebesar 55€ (setara dengan 800 ribu rupiah, dengan rate per euro-nya 16 ribu rupiah). Tentu saja denda tersebut tergolong mahal. Singkat cerita, sang supir memperbolehkan sang pria untuk masuk ke dalam bus.

Saya melihat dari jauh dan menyadari bahwa pria tersebut setengah tidak sadar. Sebuah botol bir ukuran 1,5 liter pun dia pegang. Gaya bicara yang setengah mendayu-dayu dan diseret tersebut menunjukkan bahwa pria tersebut positif sedang dalam keadaan mabuk. Di dalam bus, pria tersebut mengajak bicara dua orang gadis dan mulai menunjukkan perilaku tidak normal. Berteriak-teriak dan mengumpat. Semua penumpang di dalam bus mengalihkan pandangan kepada pria tersebut. Dari sorot mata dan air muka mereka, saya menyadari bahwa penumpang-penumpang tersebut merasa terusik oleh kehadiran sang pria. Beberapa gadis mencoba untuk menjauhi dan duduk di kursi belakang bersama sama. Mereka sepertinya ingin mengamankan diri.

Dari sebuah kejadian kecil tersebut, saya kemudian berfikir. Bagaimana jika sang pria tersebut masuk sebelum kondisi mabuk ? Tentu ceritanya akan lain. Tidak akan ada rasa tidak suka atau benci yang timbul akibat ulahnya. Jika bus tersebut diibaratkan sebuah komunitas, maka orang mabuk tersebut diibaratkan sebagai seseorang yang dibenci oleh penghuni yang berada di dalam komunitas. Kebencian itu timbul karena ketidaksadaran sang pria akan ucapan dan tindakannya. Ketidaksadaran tidak hanya dapat ditimbulkan oleh alkohol, namun juga amarah.

Dalam keadaan marah, seseorang dapat kehilangan akal sehat dan cara berfikir yang baik. Besar peluang untuk menyakiti orang lain dan menjadi pihak yang dibenci. Dalam keadaan marah, naluri hewani manusia berada diatas akal. Itulah sebabnya dalam keadaan marah, seseorang tidak mampu membuat keputusan terbaik untuk aksinya. Bukan berarti kita tidak boleh marah. Namun , marah itu seyogyanya harus diberikan pada orang yang layak kena marah, dalam besaran yang tepat dan di waktu yang juga tepat, serta untuk tujuan yang tepat. Hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan.

Semoga kita semua diingatkan untuk selalu menahan emosi dan menjadi  pribadi yang lebih bijak.

“Angry people are not always wise” – Jane Austen

Sumber gambar : http://th00.deviantart.net/

Riza-Arief Putranto, 17 Februari 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s