KEBIASAAN MAHASISWA BARU SAAT DATANG KE PRANCIS

Bersama Mas BasukiAkhir pekan ini, saya menjadi saksi tidak bisu melihat rekan-rekan sesama pelajar yang bepergian “mencari salju” baik secara lokal di Midi Pyrénées atau di kota Milan nun jauh di Italia sana. Sebenarnya saya sudah ditawarkan untuk bergabung, namun bagaimanapun juga waktu bagi saya sudah tidak tepat lagi. Setidaknya hingga beberapa bulan ke depan sudah bukan saatnya bersantai lagi. Beginilah perjalanan hidup seorang pelajar, menjelang akhir studi tentu saja banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Namun saya tidak akan membahas “waktu yang sudah lewat” ini. Saya lebih tertarik untuk bernostalgia sebentar. Apa sih kegiatan yang lazim di lakukan oleh para mahasiswa baru pada awal kedatangan mereka di Prancis (versi saya)?

1. Berfoto di depan Menara Eiffel.
Sebagai landmark dari Prancis, Menara Eiffel memang selalu menjadi lokasi pertama yang dikunjungi oleh mereka yang datang ke negeri keju ini. Mahasiswa baru yang langsung menuju kota-kota di luar Paris, akan melakukan kegiatan berfoto ini di kemudian hari. Sebagian besar dari mereka “pasti” melakukannya. Saya sendiri termasuk yang cukup terlambat melakukannya. Saya melakukannya di akhir tahun pertama di Prancis. Itu semua dikarenakan padatnya jadwal kuliah dan ujian saya dan sukar mendapatkan waktu untuk berjalan-jalan ke kota Paris yang berjarak 595,61 km dari kota Montpellier. Namun saya akhirnya berkesempatan melakukan hal tersebut bersama Mas Basuki, seorang pilot maskapai ternama UEA yang sedang singgah di Paris.

2. Berfoto dengan salju atau main ski
Salju adalah barang yang tidak akan kita temui di Indonesia. Mahasiswa baru yang datang ke Eropa tentu saja akan mencari barang tersebut dan berfoto dengannya. Mulai dari mereka yang berfoto dengan menggenggam sebongkah salju atau bergaya melompat diantara salju. Bahkan ada yang rela sengaja melepas jaket, sehingga terkesan tidak kedinginan. Padahal, salah seorang sahabat saya di Grenoble waktu itu langsung flu berat selama dua hari. Nah, seperti saya ungkapkan di paragraf pembuka di atas, kegiatan kedua ini sudah dilakukan oleh rekan-rekan dari  Montpellier week-end ini.

3. Nongkrong di café
Bagi mereka yang baru datang, tentu sulit membayangkan gaya nongkrong orang Prancis di sebuah café. Pelayan tunggal yang datang dengan bahasa Prancis supercepat tanpa membawa secarik kertas untuk mencatat pesanan. Terkadang buku menu tidak tersedia di meja. Saya pernah menemui sebuah café tanpa buku menu. Sang pelayan menghampiri saya dan bilang “sayalah buku menunya”. Tidak semua orang menyukai nongkrong di café gaya prancis. Setidaknya itu yang saya amati. Gaya tongkrongan disini lebih mengutamakan  minum kopi atau minuman beralkohol dan menghabiskan dua jam ngobrol dengan rekan ngafé-nya. Kita yang terbiasa berkumpul dan makan, tentu saja agak canggung. Namun, sebagian besar mahasiswa Indonesia di Prancis akhirnya menyukai kegiatan yang satu ini. Sekelumit budaya negeri Napoleon yang tidak boleh di lewatkan.

4. Makan malam dengan baguette
Baguette adalah sejenis roti panjang mirip dengan roti buaya dari Betawi. Hanya saja roti ini sudah menjadi stereotip Prancis sejak lama dan disebutkan dalam sejarah mereka sejak tahun 1862 pada masa Raja Louis XIV. Tidak semua mahasiswa Indonesia yang tinggal di Prancis menyukai roti ini. Pada awal kedatangan saya, mencicipi roti ini adalah perjuangan. Selain roti ini mudah sekali mengeras keesokan harinya, dalam keadaan lunak pun lumayan alot untuk dikunyah. Namun siapa sangka, sejak itu empat hari dalam sepekan saya selalu menyempatkan membeli baguette.

5. Makan kebab
Siapa sangka makanan kebab yang lebih identik dengan budaya negara-negara Maghreb (Afrika Utara) malah dekat dengan rasa-rasa Prancis? Saya kira tidak ada rekan pelajar Indonesia yang belum pernah makan kebab di Prancis. Sebagian menyukainya, sebagian tidak. Terlepas dari kandungan daging dan lemak di dalamnya, kebab sudah menjadi pilihan bagi mereka yang ingin berhemat namun tetap bisa “makan di luar”. Seorang rekan saya malah menjadikan kebab sebagai salah satu tempat dia melepas penat sehabis belajar untuk ujian. Mungkin otaknya memerlukan asupan lemak, sehingga sinapsis antar neuron miliknya tetap mendapatkan nutrisi.

Ada banyak hal-hal lazim lainnya yang biasanya dilakukan rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang mungkin belum saya amati. Travelling adalah salah satunya. Namun, hal tersebut tergantung dari selera masing-masing pribadi. Menuliskan ini, saya baru menyadari betapa waktu cepat sekali berlalu. Berfoto di depan Eiffel lima tahun yang lalu, diikuti bermain ski di Grenoble, berkeliling Eropa hingga ketergantungan saya dengan baguette. Perjalanan ini sebentar lagi usai. Bukan berarti saya tidak bisa kembali kesini lagi nantinya. Tentu saja dengan status berbeda. Jika di masa yang akan datang saya kembali, maka saya akan berujar “Saya datang sebagai turis” dan akan melihat Eropa dari sudut pandang berbeda.

Bagi yang baru saja datang dari Indonesia, saya ucapkan “Bienvenue en France”. Semoga betah dan semakin berprestasi.

*Gambar diambil oleh Ichsan, sahabat dan seorang penerima beasiswa BGF 2007*

Riza-Arief Putranto, 23 Februari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s