PENTINGNYA MENJAGA EMOSI

Kalimat judul diatas benar-benar mencerminkan keseluruhan dari cerita yang saya ungkapkan di bawah ini. Hari ini, saya harus menghentikan pekerjaan laboratorium untuk menyelesaikan beberapa masalah administratif yang tertunda, seperti mengurus bantuan tempat tinggal (CAF), medical check-up (menindaklanjuti permintaan dokter tentang alergi makanan), dan mengurus kartu kredit bank yang sudah tidak valid. Dengan pikiran yang penuh pula dengan tenggat waktu untuk disertasi, saya mencoba untuk tetap tenang dan menyelesaikan semua itu satu per satu.

Seperti biasa, saya menaiki tram untuk menuju ke pusat kota. Dari arrêt (pemberhentian) tram Saint Eloi menuju ke Comédie memerlukan waktu sekitar 15-20 menit. Sembari mendengarkan musik, saya berusaha untuk relaksasi. Saya duduk di kursi kuartet. Di depan saya, seorang gadis muda dan samping kanan saya adalah seorang bapak yang tengah membaca koran. Kursi kuartet di sebelah kiri saya hanya diduduki oleh seorang pria yang tengah bermain handphone. Tram memasuki arrêt Corum yakni satu pemberhentian sebelum tujuan saya. Tiba-tiba empat orang anak muda memasuki tram dan membuat gaduh. Saya terkejut ketika mereka tiba-tiba bergerombol duduk di sebelah sang pria yang bermain handphone. Salah seorang dari mereka mendorong pria tersebut dengan keras hingga mengenai kaca jendela. Sang pria terkejut menerima perlakuan itu. Orang yang mendorong tersebut seolah marah akan sesuatu sembari terus mengumpat dalam bahasa Prancis kasar.

Saya yang berada di kursi kuartet sebelah kanan langsung menyadari bahwa gerombolan tersebut seperti setengah sadar. Benar saja, salah seorang dari mereka kemudian menarik kerah baju saya dan mengumpat-umpat. Saya berusaha untuk sabar dan diam hingga sebuah momen. Momen tersebut adalah ketika orang tersebut meludah ke baju saya. Saat itu saya tidak bisa lagi mentolerir dan mendorongnya hingga jatuh terjerembab. Jantung saya berdegub kencang. Saya sadar dalam beberapa detik saja sebuah perkelahian bisa saja terjadi. Namun tiga teman orang tersebut tidak bergerak. Saya berteriak kencang, “Anda kira karena saya orang asing saya diam saja? Kalian semua beraninya hanya bergerombol. Saya tidak takut. Lebih baik anda tetap di lantai, jika tidak…”. Tangan kiri saya mengepal sangat kencang bersiap melayangkan kepada salah satu dari mereka yang berani maju.

Dalam waktu hanya beberapa detik itu saja, pikiran saya melayang jauh. Banyak hal melintas dalam benak saya, seperti “Riza, apa yang kamu lakukan? Kamu ada di negeri orang”, dan “Ingat keluarga di rumah. Apa kamu mau berakhir babak belur?”. Seorang kakek menepuk pundak saya dari belakang seraya berujar “Vous faites suffisant, Monsieur. Laissez-les. Ca ne vaut pas le coup” (Anda sudah cukup berbuat, biarkan mereka. Tidak worthed). Seketika saya menjadi tenang. Sembari tersenyum kepada sang kakek, saya berujar “Merci” (Terima kasih). Sesampainya di Comédie, saya segera menuju ke kantor polisi terdekat dan melaporkan kejadian tersebut. Tujuan saya agar kejadian tersebut tidak menimpa orang lain yang tidak berdaya. Saya meminta pihak berwajib untuk memeriksa CCTV di dalam tram. Setelah surat pelapor diselesaikan, saya kemudian melanjutkan aktivitas saya.

Pelajar berharga hari ini, sangat penting untuk menjaga emosi di kondisi apapun. Saya bersyukur hari ini tidak berakhir buruk dan semua aktivitas masih bisa terselesaikan dengan baik. Saya yakin esok hari pasti lebih baik dari hari ini.

Sumber gambar: http://sumsel.tribunnews.com/

Riza-Arief Putranto, 3 Maret 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s