KISAH LELAKI YANG DUDUK DI TEPI SUNGAI

Seorang lelaki duduk di tepi sungai melamun. Pikirannya jauh melayang membayangkan hal-hal kurang menyenangkan yang dia alami. Dahinya berkerut beberapa kali disertai hembusan nafas yang panjang. Pandangannya jauh ke depan melihat daun tanaman herba yang dihembus angin. Suara aliran sungai yang menyejukkan hati itu pun tak mampu menghilangkan kegundahannya. Seorang wanita paruh baya yang kebetulan lewat, menyapa lelaki tersebut dan menanyakan kabar. Lelaki tersebut menimpali dan berharap wanita tersebut segera berlewat saja. Ternyata sang wanita malah tertarik untuk mempertanyakan apa yang terjadi.

“Ada apa kisanak ? Sepertinya dunia sedang runtuh padamu ?”, begitu sang wanita mencoba memulai pembicaraan.  “Saya sedang dalam kondisi bingung wahai Bibi yang baik”, begitu sang lelaki menimpali. Lambat laun pembicaraan dua orang tak dikenal tersebut berlanjut, “Saya tidak tahu mengapa Bi, tapi setiap niatan baik saya selalu berakhir dengan tidak baik di orang lain. Saya merasa memiliki bakat untuk menyakiti orang”, begitu keluh sang lelaki. Sang wanita hanya tersenyum, lalu berujar “Saya jadi teringat mendiang suami saya yang selalu bilang bahwa setiap manusia di dunia itu memiliki peran”. “Maksudnya bagaimana Bibi ?”, ujar sang lelaki bingung. “Maksudnya adalah bahwa setiap orang itu memiliki peran di dunia, yang perannya tidak sama. Peran tersebut akan berganti-ganti”. Sang pria menyimak. Wanita tersebut melanjutkan cerita, “Saya juga dahulu suka mengeluh kenapa bos di kantor saya selalu memarahi, kenapa saya jadi gunjingan tertangga dsb”.

Wanita tersebut menghela nafas dan melanjutkan kalimat, “Tidak semua orang itu harus juara pada waktu yang sama. Kadang kita harus jadi mereka yang bertepuk tangan atau mereka yang menyorot lampu untuk sang juara. Terima saja peran yang sedang kita alami. Suatu saat nanti kita harus menjadi sang juara yang naik ke panggung dan orang lain yang akan menyoroti atau bertepuk tangan untuk kita. Peran tersebut juga bukanlah tidak penting. Apalah arti seorang juara tanpa ada yang bertepuk tangan atau menyorotkan lampu padanya ?”. Sang lelaki kemudian berkata, “Terima kasih Bibi, penjelasan tadi cukup menenangkan saya”. Wanita tersebut melanjutkan, “Tidak ada orang yang sempurna. Terkadang, apa yang kita niatkan tidak selalu menjadi apa yang kita mau. Tapi begitulah hidup, anda tidak bisa menebak apa yang akan terjadi. Saran saya, ambil peran anda sekarang dan nikmatilah walaupun saya tahu itu tidak nyaman”. “Sekali lagi terima kasih Bibi”, ujar lelaki tersebut.

Sang wanita menepuk pundak sang lelaki sambil tersenyum, “Ikut saya ke rumah, saya akan buatkan segelas teh untuk anda. Semoga bisa merubah kondisi hati anda”. Lelaki tersebut beranjak dari tepi sungai dan akhirnya menikmati segelas teh sore hari bersama sang wanita. Sepulangnya, lelaki tersebut berusaha untuk menerima peran yang sedang dipanggulnya. Mungkin saat ini, keadaan belum sesuai yang diharapkan oleh sang lelaki, namun pastinya roda akan selalu berputar. Hal-hal yang tidak dia pahami saat ini, mungkin akan dia pahami di masa yang akan datang. Mari kita belajar menikmati peran seperti sang lelaki dan Bibi lakukan.

Sumber foto : http://www.colourbox.com/

Riza-Arief Putranto, 15 April 2014.

3 thoughts on “KISAH LELAKI YANG DUDUK DI TEPI SUNGAI

  1. selalu menginspirasi mas…saya pernah menjadi lelaki itu, bahkan hanya bisa menatap air yang mengalir tanpa tau tujuan dari menatap air tersebut…hidup selalu dinamis, oleh karena itu nikmati prosesnya dan apresiasi setiap hasil yang didapat.. makasih mas diingatkan kembali🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s