SURAT UNTUK YANG TERKASIH

Dear pumpkin,

Saat aku menemuimu beberapa bulan yang lalu, rasanya berat hati ini untuk kembali ke negeri dimana Menara Eiffel itu tegak berdiri. Perasaan ini tidak menentu, mengingat apa yang sudah kita alami. Bahkan, aku berfikir kenapa harus melanjutkan ini semua dan berjauh-jauh darimu. Akan tetapi, banyak kawan yang bilang bahwa semua akan indah pada waktunya. Aku percaya itu, dan aku tahu kamu percaya itu.

Seorang kawan pernah bilang dahulu di tahun 2009 bahwa Tuhan itu bekerja secara misterius. Kita tidak akan pernah tahu kapan Dia mengangkat derajat umatnya dan memberikan harapan. Kawanku itu pernah meninggalkan istrinya yang sedang sakit untuk mengikuti kompetisi menulis internasional. Aku pun ikut di dalamnya. Kawanku akhirnya memenangkan kompetisi itu dan dengan sedikit bertitik air mata, dia mengumandangkan pidato kemenangan itu untuk istrinya. Sayangnya, aku belum diberikan kesempatan untuk itu. Peranku saat itu adalah sebagai penonton dan bertepuk tangan untuknya.

Pada awalnya, aku tidak mengerti kenapa masa studiku harus diperpanjang sedikit lebih lama. Aku tahu itu siksaan bagimu, begitu pula bagiku. Namun, lagi-lagi aku selalu teringat bahwa semua akan indah pada waktunya. Dengan sabar, aku melanjutkan perjuangan bersamamu yang mendukungku nun jauh disana. Tiba-tiba dua bulan yang lalu, aku mendapatkan sebuah email yang menyatakan bahwa aku berhasil mendapatkan sebuah penghargaan atas disertasi yang tebal ini. Seraya tidak percaya, aku mencoba untuk membaca berulang kali email yang datang dari Asosiasi AFIDES itu. Ternyata memang tidak salah. Suamimu ini diberikan kesempatan untuk mengenyam anugerah Mahar Prix Schützenberger 2014 yang telah diberikan dalam acara penyerahan pada tanggal 5 Mei kemarin di KBRI Paris.

Prix Mahar 1

Sehingga akhirnya, aku mengerti, pumpkin. Ternyata penundaan itu adalah untuk ini. Ternyata semua beban dan kesulitan itu, agar kita lebih menghargai apa yang diberikan selanjutnya. Tentu saja agar kita bersyukur lebih lagi. Aku dedikasikan ini untukmu, tanpa dukunganmu semua ini mungkin tidak ada artinya. Tanpa suaramu tiap malam yang memberikan aku kekuatan untuk terus maju mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Dan, tanpa kesabaranmu disana, mungkin ini semua tidak akan terasa manis.

Selain padamu, aku juga mengucapkan terima kasih untuk keluarga, sahabat, kolega, dan handai taulan atas semua dukungan. Semoga segala kebaikan senantiasa pada mereka semua. Sekian surat ini kutulis untukmu.

Riza-Arief Putranto, 6 Mei 2014.

21 thoughts on “SURAT UNTUK YANG TERKASIH

  1. Subhanallah… keren mas, semoga barokah…. memang selalu ada hikmah dibaik skenario yang Dia tetapkan untuk kita..

    • Alhamdulillah, amiin. Selalu bersemangat di tengah kondisi apapun. Semoga menular ke Abdul, terima kasih sudah mampir🙂

  2. Rizaaa..teramat bangga aku padamu kawan…semoga ilmu yang kau pelajari bisa diterapkan disini…endonesah#jokowieffect :):):)

  3. subhanallah mas riza… keren… saya kagum dengan penghargaan yang didapat oleh mas riza, juga saya kagum dengan sikap mas riza yang mengingat istrinya dimanapun mas berada dan apapun kondisi mas riza… sukses terus yaa…

    • Terima kasih Della. Segala kesuksesan kita terkait dengan keluarga. Semoga Della bisa terus mendukung suami biar lancar dan sukses dalam segala urusannya. Amiin🙂

    • Terima kasih atas doanya dan sudah mampir Pak Ayi. Semoga bapak juga diberikan kesuksesan selalu😉

  4. Pingback: VICTORY LOVES PREPARATION | Chez Putranto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s