TENTANG PERHIMPUNAN DAN KELUH-KESAH

Semua yang ada di dunia ini diciptakan berpasangan dan juga bertentangan. Baik dan buruk. Panjang dan pendek. Naik dan turun. Hal-hal tersebut tentu sudah kita ketahui sejak lama. Kita juga mungkin sudah menyadari bahwa tanpa adanya hal bertentangan, kita tidak akan belajar tentang sebaliknya. Kita tidak akan tahu hal-hal baik jika tidak ada hal-hal buruk.

Bolehlah saya mengambil contoh tentang sebuah pilihan untuk menjalani studi di luar negeri (LN). Mari kita menghapuskan stereotip tentang betapa enaknya studi di LN, betapa besarnya beasiswa atau dukungan dana pendidikan dan juga betapa nyamannya tinggal di negeri asing. Menurut pengalaman saya tinggal selama 5 tahun di negeri Napoleon ini, semua itu relatif. Namun bisa saya katakan, stereotip itu tidak selalu benar adanya.

Setiap pribadi memiliki persepsi dan pandangan masing-masing tentang menjalani studi di LN. Sebagian memilih untuk fokus kepada studi mereka, sebagian yang lain menyeimbangkan antara studi dan bermain. Semua kembali pada pilihan masing-masing. Percayalah, jauh dari keluarga itu tidak selalu menyenangkan. Namun, kita pasti menemukan “keluarga baru” yang mampu membuat kita bertahan di negeri yang mayoritas penduduknya berambut pirang. Keluarga baru tersebut bisa bermacam-macam, namun saya lebih senang mengangkat tentang sahabat-sahabat seperjuangan yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia.

Dengan keluarga baru ini, kita pada umumnya berbagi kesenangan dan juga berbagi pengalaman. Tentu saja, kita juga pasti pernah berbagi keluh kesah. Keluh kesah tentang betapa sulitnya mendapatkan nilai ujian yang baik, sulitnya berbahasa asing, sulitnya berintegrasi dengan penduduk lokal, sulitnya soutenance (1), atau betapa sulitnya submit paper (2) sebagai syarat kelulusan. Saya mengatakan hal tersebut manusiawi.

Namun saya memiliki pandangan sendiri. Kesulitan menempa pendidikan di negeri asing itu adalah hal yang sudah umum dikenal. Dengan segala perbedaan budaya dan bahasa itu, sudah jelas bahwa semua tidak akan mudah. Tentu saja, sahabat-sahabat kita mengalami hal senasib. Tanpa bertanya pun, kita seyogyanya sudah mengerti itu. Momen terbaik yang pernah saya alami bersama sahabat-sahabat perjuangan itu tentu saja bukan ketika kami berkeluh kesah, namun ketika ditengah kesulitan masing-masing, kami masih bisa saling mendukung. Menurut saya, itulah fungsi utama perhimpunan. Kita “menghimpun” kekuatan untuk bisa berhasil bersama-sama pada waktunya masing-masing.

Jika kita memiliki sebegitu banyaknya energi untuk mengeluh, kenapa tidak kita alihkan saja ke hal-hal yang lebih positif?

Tentu saja ini menjadi refleksi kita bersama. Mari menjalani pilihan masing-masing dengan segenap semangat dan motivasi. Seyogyanya kita semua akan mencapai keberhasilan.

(1) Soutenance adalah ujian akhir yang bentuknya pada umumnya berupa presentasi pelajar di depan juri diikuti sesi tanya jawab. Hal ini berlaku untuk pelajar setingkat Licence (S1), Master (S2), atau Thèse (S3) di Prancis.
(2) Submit paper adalah syarat minimal seorang pelajar setingkat S3 untuk bisa mengikuti soutenance di Prancis. Paper yang dimaksud adalah jurnal internasional dengan impact factor.

Sumber gambar : http://3.bp.blogspot.com/

Riza-Arief Putranto, 20 Juni 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s