DARI BENUA BIRU MENUJU NEGERI TIRAI BAMBU

Sebuah petualangan 6 tahun dari benua biru dilanjutkan persinggahan di negeri tirai bambu. Perjalanan ini sesungguhya telah direncanakan sejak lama, akan tetapi baru dapat terwuju saat ini. Namun, seperti yang saya selalu percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, perjalanan ini memang tiba pada saat yang tepat. Saya telah menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban di Prancis, sehingga beban menjadi lebih ringan.

Selama sepekan terakhir sebelum keberangkatan saya pada hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2014 yang lalu, saya sempat tinggal di apartemen kolega di PPI Montpellier (PPI-M). Mereka sangat baik menampung saya dalam kesederhanaan, canda, tawa dan gosip. Saya sungguh berhutang budi kebaikan dengan mereka yang suatu hari nanti akan saya balas. Hari Jumat malam pun penuh dengan kejutan. Sebuah pesta perpisahan diadakan untuk “mengantar” kepergian saya. Kado sederhana dengan kata-kata pengantar yang ditulis pada sebuah kartu, tentu saya sangat hargai. Inilah keluarga PPI-M yang selama beberapa tahun terakhir menjadi penghias kehidupan saya di Montpellier.

Keesokan harinya, perjalanan itu pun dimulai. Rasa hati ini campur aduk. Saya yang bukan tipe melankolis ini rupanya terhempas oleh kenangan baik dan buruk selama 6 tahun tinggal di kota ini. Saya melihat keluar jendela kereta cepat TGV dan sempat melamun selama beberapa saat. Perjalanan ke bandara Charles de Gaulle (CDG) di Paris ini cukup berat rupanya. Sebagian diri saya tidak menginginkan pergi, namun sebagian yang lain mengharuskan saya pergi. Ini adalah fase peralihan menuju kehidupan saya yang “baru” di tempat lain. Setelah beberapa saat, perasaan saya mulai berangsur normal dan terkendali.

Saya menunggu di terminal 2F, bandara CDG untuk penerbangan ke Frankfurt. Saya tiba 3 jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Dengan bagasi yang sudah checked-in saya dengan tenang menunggu di kursi ruang tunggu sembari sesekali menatap ke layar pengumuman. Di tengah bulan puasa seperti ini, saya tidak jajan dan hanya bermain game. Satu jam sebelum penerbangan, perhatian saya menoleh kepada papan pengumuman. Oh, saya tidak melihat nomer penerbangan menuju Frankfurt. Saya kemudian bergegas menuju meja informasi untuk memastikan hal tersebut. Ternyata penerbangan saya delay. Saya mulai cemas karena masa transit penerbangan ke Beijing hanya dua jam dan saya lumayan mengenal ribetnya bandara Frankfurt. Setelah delay selama 20 menit, saya akhirnya terbang menuju Frankfurt.

Sesampainya di bandara negeri Westfallen ini, saya bergegas menuju terminal dimana pesawat ke Beijing berada. Saya harus singgah di transfer desk terlebih dahulu untuk mengambil tiket. Semua dikarenakan saya berganti maskapai penerbangan. Saya masih teringat ketika pertama kali terbang ke Prancis, saya singgah di Frankfurt dan saat itu saya terkena masalah security check terkait bentuk laptop saya yang mencurigakan. Kali ini, saya maju dengan tenang. Melewati security check dengan tenang hingga tas pinggang saya melewati scanner. Sang petugas memanggil saya dan menanyakan apakah saya membawa korek zippo. Seingat saya tidak ada, tapi bisa jadi saya khilaf dan lupa.

Setelah dirogoh-rogoh, petugas menemukan korek tersebut dan dia segera menanyakan apakah diperbolehkan membawa korek kepada petugas senior. Sayangnya tidak boleh. Saya melihat tempat sampah yang terletak dua langkah saja dari sang petugas dan meminta agar dibuang saja. Namun sang petugas tidak bersedia. Dia menginginkan saya kembali ke hall utama dan membersihkan semua bau bensin dari korek tersebut. Waktu saya tinggal sekitar 1 jam dan antrian security check itu begitu panjangnya. Saya pun kembali keluar dan menuju toilet. Tanpa berfikir panjang, korek zippo itu saya buang ke tempat sampah di toilet setelah sebelumnya saya basuh air. Saya kembali ke antrian security check dan akhirnya berhasil melewatinya dengan aman.

Saya kemudian berlari menuju gate yang telah memberikan pengumuman last boarding untuk penerbangan ke Beijing. Syukurlah, saya akhirnya bisa menaiki penerbangan tersebut. Tubuh saya yang lelah dengan perjalanan ini pun tertidur pulas. Keesokan harinya, saya tiba di Beijing Capital Airport. Tidak ada seorangpun dari pihak sponsor yang akan menjemput, sehingga saya harus mengusahakan sendiri menuju ke hotel. Tentu saja taksi merupakan pilihan paling mudah. Mudah ? Tidak juga. Bayangkan diri anda orang asing, tiba di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta dan berusaha mencari transport. Pastinya banyak calo-calo taksi yang tiba-tiba menarik bagasi mengajak menuju taksi mereka bukan? Situasi itu sama persis dengan yang saya alami disini. Beberapa calo transport non resmi menawarkan saya menuju hotel. Wajah saya yang selalu disangka orang Jepang, tambah menguatkan mindset para calo tersebut bahwa saya datang dari negara kaya.

Seorang calo menarik saya dengan kuat, memasukkan bagasi ke dalam mobil van miliknya dan segera mendorong saya masuk mobil. Saya ikuti maunya, lalu dengan bahasa tarzan (bahasa Inggris pas-pas an ditambah gerak tubuh) dia menjelaskan bahwa harga transport dari bandara menuju hotel Holiday Inn di Minzuyuan Road adalah sekitar 640 RMB (renmibi atau yuan, mata uang Cina). Dikenal sebagai orang yang selalu googling, saya terlebih dahulu memastikan jarak dan harga rate taksi yang berkisar 146-200 RMB dengan tujuan yang sama. Serta merta saya menolak. Dengan sopan saya menjelaskan kepada sang calo bahwa saya tidak memiliki banyak uang. Walau muka sang calo bersungut tapi saya tetap berusaha tersenyum dan meminta maaf. Strategi pun saya rubah. Saya kembali masuk ke dalam bandara dan mencari servis taksi resmi. Lagi-lagi sang petugas tidak bisa berbahasa Inggris, setelah berkeliling mencari seseorang, akhirnya saya berhasil memesan taksi semacam Blue Bird di Jakarta, untuk menuju hotel.

Sang supir taksi, tentu saja, tidak bisa berbahasa Inggris. Kembali bahasa tarzan berperan. Satu hal yang kemudian saya sadari adalah kami bertukar pemahaman lewat senyuman. Senyuman adalah bahasa paling sederhana dan memiki efek positif. Tentu saja, tidak sepanjang 1 jam perjalanan tersebut saya dan sang supir bertukar senyum. Bisa-bisa rahang kami lepas. Tak terasa saya sampai wilayah stadiun olimpiade yang terkenal dengan nama Bird Nest itu. Daerah yang bersih ini mengingatkan saya pada daerah Senayan di Jakarta. Hotel hanya terletak 500 meter dari stadiun tersebut. Sang supir dengan baik berujar berkali-kali “Hotel ! Hotel !” dan saya hanya membalas dengan senyuman.

Sesampainya di lobi hotel, rasa lelah menghampiri. Saya ingin segera memasuki kamar dan berbaring barang sejenak. Apa boleh dikata, petugas resepsionis tidak dapat menemukan reservasi hotel saya. Dengan bahasa Inggris logat Cina, sang petugas berkali-kali menyatakan tidak adanya nama saya. Saya kemudian meminta menggunakan nama sponsor, namun apa boleh buat, hal tersebut tidak ditemukan pula. Saya mencurigai bahwa nama sponsor harus diketik dengan alfabet mandarin. Sayangnya, nama “Hu” memang bisa ditulis dalam berbagai cara. Saya kemudian menghubungi kolega yang lain untuk membantu memastikan reservasi hotel. Akhirnya saya harus menunggu selama 2 jam, disertai kantuk-kantuk hingga pihak hotel telah memastikan mendapatkan no reservasinya dari sang sponsor. Masa penantian ini sepertinya akan segera berakhir dan ternyata tidak.

Pihak hotel meminta saya membayar biaya penginapan dengan jaminan deposit di muka. Tentu saja karena saya tidak lagi memiliki kartu kredit Prancis lagi, hal tersebut menjadi sedikit sulit. Jumlah deposit yang besar itu sedikit menyulitkan saya yang hanya menukar beberapa ratus euros menjadi RMB. Pegawai bank menyampaikan bahwa tidak ada kantor money changer di sekitar hotel, setidaknya pada jarak 2 km. Namun, saya melihat ada mesin money changer  di sebelah hotel milik The Bank of Beijing. Lebih serunya lagi, mesin tersebut menerima penukaran lembar per lembar uang asing dan bukan sistem bulk. Alhasil, saya harus melakukan penukaran per lembar hingga mencapai jumlah yang diharapkan hotel. Saya memerlukan waktu selama kurang lebih 1 jam untuk mendapatkan jumlah yang sesuai. Syukurlah, hotel menerima uang tersebut dan memberikan saya kunci kamar.

Dengan ini, saya resmi tiba di Beijing. Tentu saja, dua minggu akan menjadi “kado” istimewa pasca PhD. Akan saya manfaatkan dengan baik untuk mengenal negeri yang terkenal dengan budaya timur istimewanya ini.

Sumber gambar : http://www.chinevoyage.com/

Riza-Arief Putranto, 6 Juli 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s