FILOSOFI KANVAS PUTIH

Beijing, pagi hari pukul 10.00 tanggal 10 Juli 2014.

Kolega saya yang bernama Fang gelisah. Berulang kali dia mengetik dan menghapus kata-kata di halaman kanvas putih file Words-nya. Tak urung, dia mengunyah gagang pensil itu atau menggigit kuku. Saya penasaran terhadap Fang yang duduk berseberangan dari kubikel dimana saya berada. Pandangan mata saya beralih pada kertas yang berada diatas mejanya. Sebuah tulisan terlihat disitu : “Apakah saya bisa menulis?”.

In a matter of fact, yes he can and very well. Saya mengenal Fang sebagai seorang peneliti dengan publikasi internasional segudang dan tidak diragukan lagi kemampuannya dalam merangkai kata. Akan tetapi , hari ini, ada perbedaan dari persepsi Fang saat harus menulis dan ketika dia masih menulis tugas sekolahnya saat masih remaja. Hari ini, dia adalah seorang peneliti mumpuni dengan kapasitas tinggi. Ketika Fang masih muda, dia sendiri adalah kanvas putih, bebas untuk menulis apapun dia inginkan.  Ketika dia tidak berhasil menulis dengan baik, bukanlah hal yang perlu disesali. Ketika dia gagal sekarang, reputasi kantor serta program penelitian selama 1 tahun ke depan menjadi taruhannya dan dia akan gagal sebagai peneliti profesional. Dia akan merasakan hempasan beban terhadap status dan kredibilitasnya.

Ketika saya masih muda, belajar ilmu biologi merupakan hal yang menyenangkan dan mudah. Bagaimana tidak ? Saya diajarkan bagaimana cara membelah katak, mengenal bagian-bagian tanaman dan melihat mikroorganisme dibalik mikroskop. Saya tidak perlu terlalu banyak berfikir tentang itu dan menikmati apa yang disajikan dihadapan. Pada akhirnya, saya memang jatuh cinta terhadap biologi, terutama organisme dengan organ akar, batang dan daun.

Saat ini, ketika saya melakukan aktivitas biologi segalanya terkait dengan karir profesional, sama seperti Fang, penelitian yang harus saya lakukan berhubungan dengan hajat hidup orang lain, minimal atas nama institusi. Tidak lagi wajah terkesima melihat susu latex mengalir dari pohon karet, akan tetapi lebih kepada bagaimana agar pohon itu terus berproduksi selama 25 tahun. Tidak lagi terkesiap melihat mesin robotik mengatur plate PCR kita, tapi lebih kepada apakah hasil eksperimen tersebut bisa menjadi aplikatif.

Secara logika, ketika kita mencoba hal-hal baru, melakukan banyak hal, kita akan gagal lebih banyak. Ketika kita takut akan gagal, kita takut akan mencoba dan tentu ini akan menghambat pengembangan diri.

Failure, therefore, is a part of improvement.

Ingatlah ketika kita masih muda dan merupakan kanvas putih. Kita masih orang yang sama. Kita masih memiliki peluang dan kebebasan yang sama untuk berhasil atau gagal seperti dahulu, percaya atau tidak. Mari kita melupakan sejenak mengenai tenggat waktu dan mencoba menikmati aktivitas yang kita geluti. Dengan melakukan ini, mungkin kita akan terhindar dari rasa takut akan kegagalan dan malahan memeluk kegagalan sebagai seharusnya, yaitu indikator untuk berkembang.

Sumber gambar : http://techwhirl.com/

Riza-Arief Putranto, 10 Juli 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s