PERPINDAHAN

Euforia Eropa itu sudah usai. Telah 1,5 bulan lamanya saya kembali menghirup udara pengap dan lembab khas Indonesia. Telah selama itu pula saya berpindah-pindah kota, hingga saat ini menetap di kota hujan. Tiada lagi menunggu tram atau bus yang mudah membawa saya ke pusat kota di Montpellier. Kini semua tentang angkot yang berwarna hijau dan menjadi ciri khas kota yang dahulu namanya Buitenzorg ini. Ini semua tentang sebuah pelajaran biologi sederhana yang disebut “adaptasi”.

Adaptasi itu sulit. Saya harus mengakui itu. Mulai dari segala kebiasaan yang berbeda mulai dari hal yang paling sepele sekalipun. Saya tidak mengira aroma Eropa yang saya hirup selama 6 tahun terakhir begitu melekat di diri ini. Semua itu butuh waktu, seperti semua teman saya bilang. Tentu saja. Waktu. Tidak semua orang juga mengerti perasaan ini. Ya, wajar. Tidak semua orang pernah tinggal di Eropa.

Saya memang tidak banyak mengumbar kata sejak kembali dari Negeri Pemilik Menara Eiffel itu. Terkadang lebih banyak diam dan mengamati apa yang terjadi. Dari sebuah kebiasaan mengucapkan “terima kasih” yang mungkin dikira aneh oleh banyak orang hingga kesulitan mencari tempat sampah di ranah publik. Dari kebiasaan tidak lagi menahan pintu untuk orang yang akan lewat hingga makan siang yang tidak lagi harus berada di kantin tapi di warung atau restoran pilihan kita.

Bagi saya, waktu telah berhenti sejak 6 tahun silam. Ketika saya kembali ke kota ini, seolah saya masih saya enam tahun lalu. Bagi teman-teman saya, waktu sudah berlalu 6 tahun. Mereka tidak lagi sama seperti dulu. Saya seperti legenda Jepang Momotaro yang pergi ke Kerajaan Bawah Laut dan meninggalkan bumi selama 100 tahun. Ketika saya kembali, semua orang menua kecuali saya. Sedikit hiperbola, tapi kira-kira seperti itu gambarannya. Semua ini juga relatif. Bagi mereka, saya tentunya juga telah berubah.

Perpindahan itu dekat dengan perubahan. Seperti istri saya selalu bilang bahwa saya masih merasa seperti dulu. Saya mengerti dan berusaha untuk segera menyesuaikan arus. Akan tetapi, hingga saat ini waktu masih berhenti bagi saya. Mungkin ketika saya sudah bisa seperti teman-teman, waktu akan berjalan kembali. Tidak ada alasan, saya harus kembali menjadi orang Indonesia yang sesungguhnya, sama seperti ketika saya merubah mindset dahulu kala untuk menjadi seperti orang Prancis.

Doakan saja agar perpindahan ini berhasil.

“Perpindahan adalah bagian dari hidup manusia dan kita akan selalu terjebak di dalamnya. Seperti untuk pindah dari satu peran ke peran lainnya. Dahulu orang tua yang menjaga kita, sekarang kita yang harus menjaga mereka. Seperti pindah kebiasaan, dari hal yang kurang baik menjadi apa yang terbaik untuk diri kita. Karena dalam hidup kita akan selalu berpindah. Yang bisa kita lakukan adalah mencari kebahagiaan diantara perpindahan ini (Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika)”

Sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com/

Riza-Arief Putranto, 23 Agustus 2014. Posting ke-200 di blog.

8 thoughts on “PERPINDAHAN

  1. Msh jetlag ya? Reverse culture shock.. hehe..
    Kebayang sih. Aku yg cm dua tahun di belanda aja belum bener sembuh sampe skrg. Ada teman kantor yg cm training tiga bulan di jepang jg ngerasa hal yg sama.. jadi.. ya gitu deh.. dinikmati saja..😉

    • People says that reverse culture shock is the worst. I guess they’re right. Makasih Tika sudah mampir, memang hanya bisa dinikmati. Met beradaptasi pula untukmu🙂

  2. Selamat mengabdi Mas Riza🙂
    Wah pasti seru nih hasil bertapa 6 tahun, hehehe, saya aja baru 2 tahunan di luar kalo balik ya pasti berasa bedanya. Mudah-mudahan Mas Riza bisa berbagi dan membawa pengaruh positif di lingkungannya. Banyak hal yang bisa diperbaiki di Indonesia walaupun banyak juga yang sudah bagus dan perlu dipertahankan.

    • Makasih Anto. Memang seru pengalaman 6 tahun terakhir, penuh suka dan duga. Mari bersama-sama membawa apa yang positif dari sana dan juga meningkatkan yang baik dari sini. Semoga sukses selalu untuk Anto juga🙂

  3. kalau aku masih merasa hidup di tahun 2005, dan tidak bisa lepas dari tahun itu dan tidak merasa berubah sejak saat itu. memang perasaan yang aneh ataukah setiap orang mengalami demikian tapi tidak bercerita. atau kita yang terlalu lambat menyadari realita.

    • Nostalgia tidak mengapa. Asalkan tidak lupa untuk move on, karena hidup yang dialami tentu saja yang sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s