IMAGE ITU SUBYEKTIF

C7aZ2

“Image is porwerful, but it is also superficial”.

Pagi hari sepekan yang lalu, saya hendak menuju ke Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke kota Bogor. Hari yang sangat cerah di Yogyakarta dan saya cukup bersemangat untuk segera kembali ke kota dimana saya bekerja. Saya memilih menggunakan jasa penerbangan untuk mempersingkat waktu tempuh. Ketika boarding, seperti biasa pramugari-pramugari menyambut dengan sapaan selamat datang atau sekedar mengumbar senyum. Saat menunggu antrian orang-orang yang sedang menaruh bagasi kabin mereka, saya berhenti tepat di depan samping dari seorang pramugari.

Gadis muda tersebut tersenyum ketika saya menengok padanya. Saya pun memberanikan diri bertukar kata dengannya, sekedar berbasa-basi menanyakan nama dan asal daerah. Mari kita sebut gadis itu dengan nama “Intan”. Sembari tersenyum, Intan mengungkapkan daerah asalnya dan motivasinya menjadi pramugari. Saya sendiri terkejut, jarang mendapatkan pramugari yang fluent dan mudah akrab dengan penumpang. Ketika Intan membagikan snack pun, pembicaraan kami berlanjut. Image yang saya bangun di kepala waktu itu adalah pastinya gadis ini memiliki kehidupan yang glamour, berkendara mobil indah dan memiliki pacar yang relatif kaya. Kenapa secara otomatis, asumsi saya demikian ? Melihat gaya berpakaian, cara pembawaan, dan sebuah jam tangan Alexandre Christie berkilau yang melingkar di tangannya. Image ini saya bawa hingga hari ini.

Siang tadi, saat saya beristirahat makan siang di sekitar kantor, saya melihat Intan. Walaupun agak tidak yakin, saya memberanikan diri untuk mendekati gadis tersebut dan berceletuk, “Intan bukan ya? Masih ingat saya ?”. Gadis tersebut menengok dan berujar “Oh Bapak Riza ya, iya saya masih ingat”. Singkat cerita, Intan rupanya sedang bebas tugas dan mengajak anggota keluarganya berlibur ke Bogor. Saya melihat seorang nenek tua renta, seorang ibu berjilbab, seorang anak kecil usia SMP dan Intan yang mengenakan kemeja dilengkapi celana jeans. Gaya berpakaian glamour dan make up tebal itu tidak melekat padanya. Image yang saya tangkap kali ini adalah seorang gadis biasa yang sedang menghabiskan waktu bersama keluarga. Tidak ada dugaan sekalipun kalau di depan saya ini adalah seorang pramugari. Dari cerita Intan, dia adalah tulang punggung keluarga. Penampilan glamour-nya di dalam kabin, adalah tuntutan pekerjaan dan terkadang tidak merefleksikan siapa sesungguhnya Intan.

Lagi-lagi, saya mendapatkan pelajaran berharga tentang “Don’t judge book by its cover”. Intan hanyalah salah satu contoh tentang bagaimana image itu sangat kuat dan terkadang dapat disalahartikan oleh siapa saja. Kejadian ini juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang obyektif. Dan, semoga saya dan kita semua sama-sama menuju kesana.

Ilustrasi gambar : http://i.imgur.com/

Riza-Arief Putranto, 8 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s