DEFINISI MISKIN

Dua orang sahabat lama bertemu kembali. Keduanya sudah terpisah oleh jarak dan waktu selama 17 tahun. Sahabat A telah sukses menjadi seorang manajer sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sales dan marketing. Kini sahabat A telah mengendarai sebuah kendaraan sedan mewah. Sebaliknya, sahabat B menjalai profesi selama 9 tahun terakhir sebagai seorang peneliti. Sahabat B telah menyelesaikan studi tingkat doktor di sebuah benua tertua di dunia. Sahabat B mengendarai sebuah sepeda motor yang menjadi kaki-kakinya untuk pulang pergi dari rumah dan kantor yang berjarak 10 km.

Seperti lazimnya persahabatan yang sudah lama tidak bertemu, tentu saja cerita-cerita tentang masa lalu, percintaan, dan kesuksesan muncul. Ketika bertemu beberapa sahabat, kita memang selalu ingin mengetahui perkembangan seseorang. “Sudah menikah belum?”, “Sudah mendapat momongan?”, “Kerja dimana sekarang?”, “Wah sudah punya rumah?”, “Hebat, sudah bawa mobil mewah sekarang” adalah kalimat-kalimat yang umumnya sering ditanyakan. Namun, ada pertanyaan yang cukup tidak lazim dan relatif mengena ketika sahabat A bertanya ke sahabat B, “Kamu serius jadi peneliti ? Denger-denger, peneliti itu kan miskin ? Tidak bisa kaya ?”. Pertanyaan itu tentu saja mengena dan sahabat B terkejut mendengarnya.

Setelah menarik nafas, sahabat B pun menjawab, “Sobat, sepertinya kita berbicara definisi miskin yang berbeda. Mungkin bagimu kesuksesan itu identik dengan materi dan kekayaan. Siapa sih yang tidak ingin menjadi kaya ? Tentu saja aku juga sobat. Tetapi, bagiku definisi miskin adalah ketika kita tidak mau berusaha dengan kemampuan yang kita punya. Dalam hal ini, kita diberikan kesehatan namun tidak digunakan untuk bekerja dengan baik, maka kita miskin. Kita diberikan kecerdasan namun tidak digunakan untuk memberikan ide demi perbaikan-perbaikan di tempat dimana kita bekerja atau bermasyarakat, maka kita miskin. Kita diberikan kemampuan yang berbeda sobat, dimana kamu sangat lihai dalam bernegosiasi, maka jadilah kamu penggerak roda ekonomi dengan kegiatan marketingmu itu. Sementara aku diberikan kemampuan untuk berfikir dan menyumbangkan ide untuk inovasi penelitian yang suatu saat akan berguna untuk bangsa. Kita berdua sama-sama kaya sobat dalam pandanganku”.

Sahabat A tersenyum. Sahabat A menyalami sahabat B sembari menepuk pundaknya. “Aku salut. Maafkan atas pertanyaanku tadi. Aku mengerti, miskin itu adalah sebuah batasan yang sesungguhnya kita berikan sendiri. Izinkan kau mentraktirmu kali ini, jangan menolak sobat, seperti katamu aku harus menggerakkan roda ekonomi bukan ?”. Kedua sahabat itu pun kemudian tertawa dan pertemuan itu berakhir dengan baik.

“It does not matter how slowly you go so long as you do not stop.” ― Andy Warhol

Sumber gambar : http://images.theage.com.au/

Riza-Arief Putranto, 18 September 2014.

8 thoughts on “DEFINISI MISKIN

    • Terima kasih Bruno Mukti sudah mampir. Semoga bisa terus bersemangat dan berdedikasi tinggi di pekerjaannya supaya produktif🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s