PERJALANAN HEROIK

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata diatas tersebut? Mungkin terbayang akan sebuah perjalanan menuju suatu tempat yang penuh dengan hambatan, jalan terjal dan cuaca yang terik. Bisa jadi seperti Indiana Jones yang memasuki gua penuh dengan laba-laba raksasa atau perjalanan Frodo Baggins menuju Mordor untuk memusnahkan cincin iblis. Dinamakan perjalanan heroik, karena pada akhirnya sang pejalan berhasil untuk mencapai tujuannya yang biasanya diakhiri dengan happily ever after.

Dalam kehidupan, tanpa kita sadari, kita sesungguhnya mengalami perjalanan heroik itu. Pada postingan kali ini, saya hendak mengambil contoh dari seseorang yang sangat saya cintai, yaitu istri sendiri. Kami memang baru saja benar-benar settle di kota hujan ini. Segala sesuatu relatif baru untuk saya, terlebih untuk istri yang memang belum familiar dengan gaya hidup ala Jabodetabek. Gaya hidup Jabodetabek yang dimaksud adalah terkait dengan kemacetan, keburu-buruan, kesemrawutan dan lain sebagainya. Hidup di Lyon, Prancis yang lalu yang pernah dia jalani tidak memiliki kaitan dengan apa yang dia alami di Bogor. Keduanya adalah dunia yang berbeda.

Setengah bulan lamanya, istri sudah berada di Bogor dan beberapa kali dia mengantar-jemput saya ke kantor. Maklum, untuk sementara hanya ada 1 kendaraan yang bisa digunakan dan kami harus berbagi. Istri saya termasuk orang yang tidak ingin dianggap lemah dan memiliki keinginan kuat untuk mandiri. Sering dalam perjalanan pulang dari kantor, dia bercerita tentang perjalanan heroiknya. Perjalanan heroik yang dimaksud adalah seperti membawa laundry korden seberat 8 kg, berbelanja di ADA Baranangsiang dan pulang membawa rangkaian jemuran plastik besar, atau yang terakhir menembus hujan deras pada sore hari untuk menjemput saya ke kantor. Semua itu dia lakukan menaiki motor bebek yang imut-imut itu. Istilah so sweet tidak ada dalam kamus istri saya, kata heroik-lah yang lebih tepat.

“Heroes are ordinary people who make themselves extraordinary.” ― Gerard Way

Di mata saya, perjalanan heroik darinya bukanlah itu. Meninggalkan Semarang dan pekerjaanya di kampus ternama disana setelah 11 tahun, menunggu saya 4 tahun selama saya menjalani S3 di Prancis, terus memberikan dukungan selama masa ups and downs saya adalah perjalanan heroik terbesar yang pernah dia lakukan.

Mungkin bagi sebagian orang hal itu wajar-wajar saja, namun bagi saya, perjalanan itu tidak akan pernah saya lupakan. Lihatlah mereka yang berlari-lari pada pukul 05.00 untuk mengejar KRL menuju Jakarta. Simaklah para pedagang di Pasar Bogor yang menggelar lapak sejak dini hari. Lihatlah para orang tua yang mengantar anaknya sekolah. Inilah sekelumit gambaran perjalanan-perjalanan heroik lainnya.

Kasus saya hanyalah secuil contoh bagaimana kadang kita lupa akan perjalanan-perjalanan heroik yang kita pernah lakukan atau orang terdekat kita lakukan. Dengan mengingat semua itu, pastinya akan memberikan semangat bagi kita semua untuk terus berusaha yang terbaik, menjadi pribadi yang baik dan menjadi seseorang yang tidak melupakan jasa orang lain terhadap kesuksesan kita.

Adakah diantara pembaca yang hari ini mengalami perjalanan heroik ?

Sumber gambar : http://static.ddmcdn.com/

Riza-Arief Putranto, 9 Oktober 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s