MUDIK DENGAN SI “KECIL”

20141107_142503

Melihat judul diatas, tentu saja pembaca tidak lagi bertanya-tanya tentang arah postingan ini. Saya akan share pengalaman perjalanan jauh yang saya tempuh dari Yogyakarta menuju Bogor menaiki Honda Brio Satya Tipe E MT 1.2. Kenapa saya menyebutkan merk mobil tersebut ? Tentu karena saya ingin berbagi pengalaman sekaligus melakukan review mobil hatchback yang lagi ngetren tersebut dan mendapatkan beberapa feedback tentang performanya.

Semua di awali niat baik saya dan istri untuk pulang ke kota asal, menjenguk keluarga dan menyelesaikan beberapa urusan pribadi yang  masih belum selesai sejak sekembalinya saya dari Prancis. Saya merencanakan perjalanan hari Selasa, sejak pagi hari sehabis subuh. Semua karena saya akan mencoba untuk melewati jalur selatan (Jalan Nasional Rute 3). Saya tidak ingin mengemudi pada malam hari dengan resiko belum begitu mengenal medan. Jujur, ini adalah pertama kalinya saya menyetir penuh dari Yogyakarta menuju Bogor tanpa supir pengganti. Beberapa kali, saya mudik pp Bogor – Yogya dengan menyetir bergantian dengan teman-teman sesama pemudik. Biasanya saya menggantikan teman saya dari Ciamis hingga kota tujuan Yogya. Sekedar untuk memperkenalkan medan, kota-kota yang akan dilewati di jalur Selatan (dari Yogya menuju Bogor) adalah Sentolo – Milir – Wates – Temon – Karangnongko – Purworejo – Kutoarjo – Prembun – Kebumen – Buntu – Sampang – Rawalo – Wangon – Karangpucung – Majenang – Ciamis – Ciawi – Ancol – Rajapolah – Malangbong – Limbangan – Nagrek – Cileunyi – Bandung – Padalarang – Rajamandala – Citarum – Cianjur – Cipanas – Puncak – Tajur – Bogor.

Sesuai dengan rencana, saya dan istri meluncur di jalanan sejak pukul 5.15 tepat dari daerah Ambarukmo pada tanggal 4 November 2014. Sesuai dugaan, jalanan masih sangat sepi. Mobil yang berisi muatan penuh, saya pacu 80-100 km/jam. Sesuai dengan banyak review yang telah dilakukan tentang Honda Brio, mobil ini memang responsif sekali di jalanan lurus. Handling setir yang terasa ringan serta manuver ban yang relatif mudah. Perjalanan terasa lancar, dan saya tidak menghentikan kendaraan hingga Cilacap yang saya tempuh 4.5 jam. Setelah menyetir selama 6 jam, saya menyempatkan untuk beristirahat sembari makan siang di sebuah restoran kecil di pusat kota Ciamis. Badan masih terasa fit, hanya sedikit masuk angin karena AC yang menyembur ke arah badan selama perjalanan. Dengan segelas teh hangat, angin-angin itu pun bisa berlalu. Saya dan istri merasa cukup pede bahwa perjalanan ke Bogor akan bisa ditempuh dalam waktu relatif singkat.

Saya melanjutkan perjalanan setelah dirasa cukup beristirahat. Performa Brio ini memang saya akui mantap. Mobil yang masih seumur “jagung” dan odometer masih 1721 km mungkin menjadi sebabnya. Perjalanan pun beralih menjadi semacam roadtrack. Sebagaimana di ketahui jalur selatan ini terkenal dengan jalanan yang membutuhkan manuver mengemudi yang handal, terutama di daerah Malangbong, Nagrek, Cipanas dan Puncak. Memasuki Nagrek, saya memacu kendaraan dengan kecepatan sedang 40-60 km/jam. Meskipun jalanan berkelok, saya merasakan kendali yang mantap dari Honda Brio. Saya tidak merasakan limbung  bahkan saat disalip oleh kendaraan yang lebih besar.

Namun, apa daya, sedikit insiden mewarnai perjalanan ini. Di sebuah tanjakan, saya yang berusaha menyalip truk yang “kepayahan” telah memastikan jalur depan aman. Saya pun memberanikan diri memberi lampu sen kanan. Ketika sedang menyalip, tepat di sebelah kanan truk tiba-tiba muncul sepeda motor dengan kecepatan lumayan tinggi. Saking kagetnya, saya tidak sempat membanting setir dan ternyata motor tersebut “melukai” mobil dari spion depan, badan mobil kiri hingga memecahkan lampu sen belakang. Saya dan istri pun berhenti sebentar untuk melihat-lihat keadaan mobil sekaligus beristirahat. Luka di mobil rupanya cukup parah, namun masih layak untuk melanjutkan perjalanan. Saya merasa tidak perlu menceritakan kejadian lengkapnya. Namun, saya bersyukur karena mobil telah diasuransikan. Yang namanya kecelakaan itu bisa terjadi kapan saja bahkan dapat menimpa seseorang yang berpengalaman sekalipun. Yang terpenting adalah keselamatan diri.

Sepertinya setelah kejadian tersebut, tubuh saya masuk dalam fase lelah. Kaki saya mulai terasa pegal. Ketika istri saya menanyakan keadaan, saya pun menjawab baik dan merasa masih bisa melanjutkan perjalanan. Macet parah terjadi sejak pintu keluar tol Padaleunyi di Padalarang hingga Cianjur. Saat jalan menanjak menuju Cipanas, saya mulai merasakan respon Honda Brio yang kurang oke. Terutama ketika berhenti saat tanjakan karena macet. Sebuah review di Komunitas Brio membahas penuh tentang ketidakmampuan menanjak si kecil Brio ini. Saya biasa menaiki Toyota Avanza dan naik turun gunung belum pernah mengalami hal tersebut. Saat menanjak dengan gigi 2 lalu setengah berhenti, tiba-tiba merasakan lost power. Bahkan pernah mati mesin, tentu saja ini kejadian yang memalukan untuk pengemudi yang sudah berpengalaman. Namun, saya lebih mempertimbangkan safety, karena mesin mati saat tanjakan bisa berbahaya untuk kendaraan di belakang. Pertanyaan pun muncul, apa benar si kecil Brio ini tidak sanggup nanjak ? Masa kalah sama angkot Cipanas yang sepertinya baik-baik saja menanjak setiap harinya di jalur tersebut. Usut demi usut, ternyata semua tergantung dari cara menyetir pengemudi. Banyak opini bersliweran kesana kemari tentang sistem SOHC Brio yang beda dengan DOHC mobil pada umumnya. Tapi, entah, sampai sekarang saya sendiri masih bertanya-tanya. Asumsi lain adalah karena badan saya yang sudah lelah sehingga berpengaruh ke refleks kaki sehingga gaya menyetir sudah tidak lagi baik.

Setelah beristirahat di SPBU Cipanas selama 1 jam, saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Dan, syukurlah kejadian lag dan loss power itu tidak terjadi lagi. Sepertinya memang karena badan saya sudah lelah tadinya. Setelah 14.5 jam perjalanan panjang, akhirnya saya dan istri tiba di rumah di Bogor. Jarak Yogya – Bogor adalah 518 km yang dahulu, pada awal tahun 2000-an, bisa ditempuh dalam waktu 9-12 jam maksimal. Saat ini, kondisi lalu lintas sudah semakin penuh dan sulit menemukan perjalanan yang ditempuh kurang dari 12 jam. Perjalanan jauh memang memerlukan stamina tubuh yang bagus. Perjalanan ini sekaligus juga membuktikan ketangguhan si kecil Brio untuk diajak melalui medan jalur selatan yang relatif sulit.

Disclaimer : postingan ini merupakan testimoni pribadi penulis dan bukan merupakan acuan baku. Informasi-informasi yang diterima harap dicerna dengan bijak. Semoga bermanfaat.

Riza-Arief Putranto, 7 November 2014.

6 thoughts on “MUDIK DENGAN SI “KECIL”

  1. Weitss…tepat 2 minggu yg lalu saya memutuskan bawa si “pesek” brio E m/t jalan2 ke ibukota. Just info…saya tinggal di surabaya. Iseng-iseng pengen nyobain nakalnya si “pesek”…
    Berangkat dr surabaya jam 10 pagi melalui jalur pantura..mulai hujan deras sampai panas terik si pesek maju tak gentar,malah pengennya ngebut trs,konsumsi bahan bakat di layar MID menunjukkan 1:18 untuk kecepatan rata-rata 90-120 kpj..meskipun kadang si pesek agak nakal di tol dan ngajak lari sampek tembus 150 kpj (lupa kalo mbl kecil) tetapi konsumsi bbm tetap saka irit. Si pesek selalu minum bbm dgn oktan 90(pertalite) brkt dr surabaya posisi bensin 2 strip ke kiri..isi 250 ribu bs diajak jalan sampai tol cipali (jabar) dan kemudian saya refuel 100ribu perak si pesek uda bs masuk kota jakarta dan merasakan kejamnya macet di ibukota. Yahh..sedikit saja yg menggelitik saaya untuk di koreksi…suspensi blakang yg agak sedikit kurang mumpuni buat perjalanan luar kota(maklum city car),but overall…gak salah deh pake brio,dalem kota ok..luar kota mesinnya kejaaaamm.
    Sepulangnya saya ke surabaya saya lsg menjunjungi bengkel suspensi langganan untuk memodifikasi sedikit saja shock breaker blakang si pesek…hasilnya ok bgt,dan hanya merogok dana dibawah 1jt tanpa ada penggantian part…

    Keluar kota pake mbl imut..ternyata gak kalam asiknya dgn honda freed yg biasanya mengemban tugas ini. Just info..sby-jkt,penumpang 2 org,bbm 755ribu perak (sbyjkt pulang pergi) worth it lah yaa

    • Terima kasih testimoninya Mas Rachmadi. Memang kuat untuk perjalanan jauh. Betul sekali, suspensi belakang saja agak kurang mantab ditambah setelan gas standar yang kurang narik di awal. Tapi jika sudah terbiasa, kita mendapatkan kenyamanan berkendara dari si kecil Brio.

  2. sepp, Tahun ini rencananya mudik pakai si io untuk tujuan jawa tengah, saya mencari reverensi. cos si io pertama nyetir baru saya pakai tujuan Tangerang-Cikarang-Jonggol(rusak parah melalui cikarang) Bogor-Cianjur Cipanas(disini pernah loss power hehehee) kemudian ke sumedang. dengan revrensi ini lumayan ada gambaran

    • Thanks Mas Danang sudah mampir. Memang jika belum mengenal sistem drive by wire-nya Brio kadang akan mengalami loss power pas tanjakan. Setidaknya harus “ancang-ancang”. Jika memang terpaksa macet menanjak, memang harus dilatih agar bisa menguasai si mungil yang sebenarnya perkasa itu. Justru lokasi-lokasi yang digambarkan Mas Danang keren-kerne itu medannya. Sudah terbukti lah Brio-nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s