MELAKUKAN HAL YANG BENAR

Gambar GunungMelakukan hal yang benar merupakan tindakan yang diinginkan semua orang. Namun benar itu sendiri relatif bukan ? Benar menurut siapa ? Benar menurut acuan apa ? Sebelum kembali ke Indonesia, hidup saya sangat simpel dan fokus. Tidak pernah sekalipun melongok televisi atau surat kabar yang menyuarakan carut marut politik atau apapun di Negeri Napoleon itu. Di Bumi Pertiwi ? Setiap hari, jari tangan kita tidak cukup untuk menghitung betapa banyaknya berita kurang menyenangkan yang hinggap di panca indera kita dari berbagai sumber media (cetak maupun elektronik). Apa itu berarti saya menyesal kembali ? Tentu tidak.

Jika diibaratkan dengan manusia, Benua Biru disana adalah manusia dewasa yang bijak (berusia diatas 40 tahun), matang dan tenang. Sementara Indonesia adalah anak-anak remaja berusia 15-22 tahun, panas, berapi-api dan mudah bereaksi. Dari sini sudah jelas bahwa saya, atau kita semua sedang berkomunikasi dengan anak-anak remaja (red. Indonesia). Diantara semua protes, demo dan anarkis itu, saya tidak tahu mana yang benar. Diantara semua debat politis tiada henti di Gedung Besar itu, saya tidak paham. Diantara semua perdebatan dengan mengatasnamakan SARA, saya tidak mengerti. Saya hanya mengerti satu hal, di Indonesia, jarak tanam antara manusia sudah tidak lagi terjaga. Gesekan-gesekan itu terjadi karena akar-akar kaki mengenai akar kaki manusia lainnya. Andai saja, mereka sadar hal ini, tentu konflik itu tidak akan terjadi.

Si vis pacem, para bellum

Memang benar, seorang Publius Flavius pernah berkata “Si vis pacem, para bellum“ yang berarti “Jika kita menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk berperang”. Tapi apakah harus diartikan secara eksplisit ? Kata-kata latin tersebut dilontarkan pada abad ke-4 dimana situasi perang tidak terelakkan. Mungkin saya adalah penganut jika bisa menghindari konflik kenapa tidak kita mengambil jalan tersebut. Masih ingatkah kita dengan cara menggambar di SD ? Yakni cara menggambar gunung kembar yang diantaranya muncul matahari dan burung-burung ? Di kaki gunung tersebut terbentang luas sawah nan hijau ? Apakah saat kita kecil, kita menggambar bom, senjata perang atau robot Transformer ? Kita sangat menyukai gambar tersebut. Kita mengidamkan kehidupan yang tenteram bahkan sejak kita masih sangat muda.

Kebenaran yang hakiki itu memang bukan milik manusia. Oleh karena itu, kita tidak bisa berteriak lantang, menyalahkan mereka yang tidak sama dengan kita. Sejatinya, bila kita berniat baik terhadap orang lain, niscaya itu benar adanya. Segala hal yang menyakiti sesama kita, semua setuju untuk menyebutnya salah. Benar atau salah. Andai hidup ini semudah pilihan ganda saat kita semua masih duduk di bangku SD.

Sumber gambar : http://www.kaskus.co.id

Riza-Arief Putranto, 11 November 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s