MARI BERUBAH

Sudah menjadi hal alami dan lumrah bahwa manusia itu berkomentar. Mengemukakan pendapat merupakan salah satu hal mendasar yang sering kita lakukan. Sudah semenjak beberapa minggu setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan oleh pemerintah pusat, dan masih banyak masyarakat yang bereaksi negatif. Sudah semenjak Kota Bogor macet, bahwa saya dan istri secara tidak sadar mengungkapkan ketidaksukaan kami dengan berdecak atau sekedar mengkernyitkan dahi jika melihat angkot tidak patuh peraturan lalu-lintas. Sudah semenjak kita hidup bertetangga, kita bergumam tatkala sebuah mobil box dari toko elektronik mengantarkan TV baru ke rumah sebelah.

Decakan, gumaman, atau keluh-kesah adalah hal wajar yang muncul sebagai reaksi seseorang atas ketidaksukaan. Saat ini, hal tersebut bahkan tidak perlu diucapkan namun cukup dituliskan di media sosial. Siapapun kita dan apapun jabatan atau posisi kita di kehidupan sosial, naluri alamiah kita adalah berkeluh-kesah. Seorang kawan mengingatkan saya, “Lho bukannya bapak ini pernah berujar jika hal negatif itu menular ya ? Berarti tidak boleh mengeluh kan pak ?”. Iya, tentu saja. Dalam batas wajar, keluh-kesah itu positif. Kita tidak suka akan sesuatu dan kita ingin hal tidak baik itu diubah. Dalam keadaan berlebihan, keluh-kesah menjadi bumerang untuk diri kita. Sudah selayaknya diketahui bahwa kondisi stres kita bisa mendatangkan penyakit.

Bagaimana kita mengetahui bahwa keluh-kesah kita berlebihan ? Saya tidak memiliki rumus pasti. Saya yakin para pembaca semua memiliki opini masing-masing. Namun, satu hal, keluh-kesah itu seperti makan, tentu jika sudah menumpuk, akan terasa tidak enak di dalam kepala. Rasanya kepala kita penuh dengan sesuatu dan penat. Bagi saya, hal tersebut adalah indikator bahwa kita harus mengurangi beban. Mencoba untuk melepaskan keluh-kesah itu sejenak.

Bagaimana kita mengendalikan keluh-kesah sebelum menjadi berlebihan ? Dalam kondisi sulit, seyogyanya kita selalu melihat ke bawah. Dari sudut pandang pribadi, kita pasti merasa menjadi orang terpelik di dunia. Namun, selalu ada yang lebih pelik dari kita. Jika kita merasa dunia tidak adil terhadap orang lain, janganlah hanya menulis status di media sosial. Datang dan bantulah mereka. Jika kita merasa orang lain tidak adil pada kita, bersabar dan berusaha untuk memberikan contoh keadilan.

“But it’s only on the brink of narrowness that people find the will to change. Only at the precipice do we evolve”.

Ungkapan diatas tepat sekali menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Keluh-kesah itu semoga menjadi awal mula evolusi mental. Demi perubahan terbaik untuk kita semua, negeri kita dan masa depan. Mari berubah menjadi pribadi yang semakin adaptatif.

Sumber gambar: http://motivationandchange.com/

Riza-Arief Putranto, 25 November 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s