SISTEM BIOLOGIS DARI STASIUN BOGOR

Banyak orang bilang jika kita selalu membahas satu hal bahkan yang kita benci sekalipun, sebenarnya kita malah menjadi orang yang sangat perhatian. Anak muda zaman sekarang akan mengamini dengan memberikan istilah “nyinyir”. Saya sesungguhnya mengenal istilah tersebut dari Ibu RT di Kampung Calincing di Bantarjati, Bogor sana. Tatkala beliau gagal mendapat arisan biasanya langsung menyinyir dan sedikit ngomel. Yah, maklum sajalah, namanya juga manusia, bolehlah nyinyir dikit. Akan tetapi, jangan sampai keterusan, karena tidak baik untuk kesehatan otot bibir.

Rumah saya saat ini ada di daerah Ciomas. Untuk berangkat ke kantor, setiap kali saya harus turun gunung dan melewati bottleneck kemacetan yang dinamakan Stasiun Bogor. Tentu saja benar, yang namanya stasiun di kota manapun di Indonesia akan identik dengan keramaian dan kemacetan. Saat terjebak kemacetan pagi tadi yang disebabkan oleh hal sepele, yakni puluhan kendaraan antri karena ada gerobak tukang bakso yang menyeberang jalan dan terjepit rodanya di lubang jalanan, saya sedikit melamun membayangkan sistem biologis dari stasiun ini.

Apa lagi ini ? Mohon dimaklumkan, karena saya mantan mahasiswa biologi dan sejak itu karir saya ada di dunia kebiologian sehingga hal-hal berbau biologi menjadi lumrah hingga terkadang mampir ketika sedang melamun. Bagi para penghuni Bogor, imajinasi saya ini tentu lebih mudah untuk dibayangkan. Anggap saja jalan raya di depan Stasiun Bogor adalah pembuluh darah arteri dan vena (balik) yang dibatasi oleh dinding kapiler (pembatas jalan). Aliran darah dari kedua pembuluh tersebut tentu saja berlawanan. Pembuluh darah arteri adalah yang menuju Kebun Raya (anggap saja Kebun Raya adalah jantung) dan pembuluh vena adalah yang menuju Dramaga (menjauh dari pusat tubuh). Aliran dari darah (lalu lintas) itu sangat tergantung kepada materi-materi yang dibawa, seperti jumlah sel darah merah (sepeda motor), sel darah putih (mobil), dan trombosit (pejalan kaki). Tentu saja jangan lupakan sel lemak dalam darah (angkot). Sebagai orang yang pernah belajar biologi manusia, kita semua sadar, terkadang aliran darah tersebut terhambat karena penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh menumpuknya sel lemak dalam darah. Tidak terkecuali, trombosit pun terkadang menembus dinding pembuluh (alias pada nyebrang sembarangan) dan sedikit menghambat peredaran.

Sel-sel makrophage dari sistem keamanan limfosit (DLLAJ, Polisi dsb) terkadang sudah mengatur jalannya peredaran, namun ada kalanya sel-sel darah yang bandel-bandel itu tidak menghiraukan. Bahkan sesekali waktu, trombosit melambat karena peradangan (para tukang jualan dengan gerobak) yang berusaha melepaskan diri dari hiruk-pikuknya sistem aliran darah ini, seperti yang terjadi pada pagi ini. Saya sendiri adalah satu dari sel darah putih yang ikut memenuhi peredaran darah di depan stasiun. Jika saja, semua aktor memahami pentingnya agar sistem biologis di depan Stasiun Bogor untuk berfungsi sempurna (lancar), maka kemungkinan akan memudahkan aktivitas semua pihak. Jika sistem biologis ini semakin parah, tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi stroke di depan Stasiun Bogor. Dan jika kota Bogor diibaratkan manusia, maka dia adalah korban stroke itu sendiri.

Selamat berakhir-pekan !

Why do they call it rush hour when nothing moves? – Robin Williams

Sumber gambar : static.republika.co.id

Riza-Arief Putranto, 5 Desember 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s